Breaking News:

Jurnalisme Warga

Aksi Filantropis Para Penyintas Bencana

IKUT serta berpartisipasi sebagai relawan di setiap lokasi bencana sepertinya sudah menjadi “candu” buat saya

Aksi Filantropis Para Penyintas Bencana
IST
dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed. Sekretaris IDAI Aceh dan Wakil Ketua Forum PRB Aceh

Nah, di saat membayar makanan ini kami dibuat tercengang oleh si ibu pemilik warung. Beliau katakan bahwa untuk para relawan silakan makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya saja. Kami tanyakan kenapa demikian, beliau mengatakan bahwa itu adalah bentuk rasa terima kasihnya kepada para relawan yang sudah mau datang jauh-jauh untuk membantu para korban bencana di Palu.

Ya Allah, sungguh kami terharu dan mengucapkan, Alhamdulillah serta terima kasih. Speechless. Dan beberapa kali kami kembali tapi tidak dalam balutan baju “relawan”, ternyata si pemilik warung tetap mengenal yang mana para relawan dan yang bukan. Kami masih tetap diperlakukan sama, makan sepuasnya dan boleh bayar sesuka hati saja.

Kisah kedermawanan sosial lain juga kami temukan di beberapa lokasi pengungsian. Selain memberikan pelayanan di RS Undata (Rumah Sakit Provinsi Sulawesi Tengah), kami juga turun ke beberapa lokasi pengungsian. Ada banyak sekali titik lokasi pengungsian. Di satu posko kesehatan pengungsian, setelah selesai tugas pengobatan, kami berbincang dengan para perawat dan bidan yang ikut membantu kegiatan pengobatan hari itu.

Tetap menjalankan tugas
Banyak kisah sedih dan mengharukan tentang gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah ini yang ternyata juga menimpa mereka. Satu di antara perawat tersebut malah kehilangan suaminya pada saat musibah tersebut. Rumahnya ikut hancur karena gempa. Luar biasa, salut dan apresiasi yang sangat besar kepadanya; walaupun sedang bersedih hati kehilangan orang tercinta, namun masih tetap menjalankan tugasnya sebagai petugas kesehatan.

Kami sempat terdiam sesaat waktu mendengar cerita beliau. Kemudian saya tanyakan; kenapa sudah masuk kerja? Beliau menjawab, “Untuk apa kami bersedih terus di tenda Bu Dokter. Lebih baik kami bekerja dan ikut membantu. Ini jauh lebih baik bagi kami dalam memulihkan luka,” ucapnya. Masya Allah, sungguh jawaban yang luar biasa. Pelukan erat saya berikan untuknya.

Hal yang sama juga pernah saya temukan saat membantu para korban bencana gempa di daerah Tanjung, Lombok. Perawat yang bertugas di Poliklinik Anak di RS lapangan (RS Darurat yang dibangun karena RS di daerah tersebut hancur total akibat gempa), setiap hari membawakan makanan kepada kami. Seperti pisang rebus, gorengan dan lain-lain. Padahal yang bersangkutan tinggal di pengungsian, karena rumahnya juga retak parah akibat gempa.

Beliau mengatakan senang membawakan makanan, senang bisa menyuguhi tamu yang datang dari jauh untuk membantu mereka. Sungguh luar biasa tegarmu, kawan. Semoga Allah Swt memberikan kesabaran dan kekuatan selalu dan engkau bisa terus bangkit. Lombok bangkit...! Palu bangkit...! (ummihirzi@gmail.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved