Jurnalisme Warga

Mengabdi dengan Taruhan Nyawa di Papua

SEBAGAI putra Pidie lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama, Aceh Besar yang sudah lima tahun lebih

Mengabdi dengan Taruhan Nyawa di Papua
IST
FAJRI NURJAMIL, putra Aceh bertugas di Puskesmas Suru-Suru, Distrik Suru-Suru, melaporkan dari Kabupaten Asmat, Papua

Selain menelepon keluarga, telepon satelit juga saya gunakan untuk konsultasi pasien yang kondisi pasiennya gawat darurat ke dokter spesialis. Jadi, untuk mengisi pulsa hp satelit setiap bulannya pengeluaran saya berkisar 3-10 juta rupiah. Alhamdulillah, dalam dua tahun terakhir sudah ada perangkat WiFi di pedalaman milik para pedagang, walau sinyalnya sering ngadat, tapi kami sangat terbantu untuk bisa berkomunikasi dengan anak-anak, istri, dan keluarga yang berada di Aceh.

Mengabdi jauh dari istri dan anak bukanlah suatu impian dan kesenangan, apalagi saat jam makan. Untuk makan saya sering memasak sendiri dengan lauk alami ala orang kampung, seperti telur, ikan asin, dan ikan sungai. Untuk sayurnya, karena saya tinggal di pedalaman, jadi sayurnya tinggal masuk ke hutan saja lalu petik berbagai daun. Toh alam Papua sudah menyediakan semuanya. Bahkan, kalau ingin makan udang, kami tinggal bikin panah lalu menyelam di sungai kecil dalam hutan seputaran tempat kami bertugas. Udang yang berhasil kami tangkap biasanya banyak.

Yang membuat saya bahagia, ketika masyarakat menerima saya apa adanya, bahagia bersama pelayanan kita untuk kesehatan mereka di sini. Begitu juga dengan sambutan, penghargaan, dan perhatian pemerintah daerah cukup besar terhadap tenaga medis dan tenaga pendidik yang mau mengabdi di daerah pedalaman Papua.

Sebaliknya, saya sangat sedih dan terkadang meneteskan air mata saat mengingat kepedulian dan perhatian dari Pemerintah Aceh untuk tenaga medis dan juga tenaga pendidikan yang bertugas di pedalaman Aceh. Apa yang mereka keluhkan ke saya sangat miris mendengarnya. Padahal, Aceh dan Papua sama-sama provinsi yang mendapat dana otonomi khusus. Dan apa yang mereka keluhkan itu sudah pernah saya alami sendiri selama satu tahun menjadi tenaga bakti di Puskesmas Delima, Pidie.

Menurut cerita teman yang berstatus tenaga bakti dan honorer, sampai sekarang nasib mereka juga masih seperti itu. Jangankan dikasih sekadar uang minyak motor, untuk minum saja tidak ada. Itulah penghargaan yang pernah saya dan beberapa kawan dapatkan di Aceh.

Seharusnya, Pemerintah Aceh belajar dari Provinsi Papua dalam pengalokasian dana otsus untuk membiayai honorer atau tenaga bakti yang menjalankan tugasnya di pedalaman. Di Papua, semua yang mengabdi di pedalaman apakah tenaga bakti, honorer, atau kontrak, baik guru, paramedis, dokter, penyuluh, maupun profesi lainnya mendapat perhatian penuh dengan berbagai honorarium dan insentif. Nah, inilah yang membuat para pengabdi di Papua walupun dengan kondisi penuh tantangan dan serbakekurangan, tetapi karena merasa sangat dihargai, alhasil semua dijalani dengan semangat pengabdian yang tinggi.

Dengan dana otsus mereka menghargai para pengabdi di pedalaman seperti yang kami rasakan. Di samping diberikan gaji, juga insentif bagi tenaga medis, guru, penyuluh, dan honorer lainnya, padahal mereka bukan PNS.

Informasi dari teman saya yang berprofesi dokter umum pada sebuah puskesmas di Aceh, lokasinya jauh dari kota, tergolong pedalaman, tapi honor per bulannya masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Artinya, jangankan untuk makan minum di perjalanan selama satu bulan, untuk isi minyak sepeda motor saja belum tentu cukup. Sungguh ironis perhatian pemerintah di Aceh untuk tenaga medis di daerah yang juga menerima dana otsus.

Saya terkadang bertanya, bagaimana nasib para guru honorer yang berada di garda terdepan dalam upaya mencerdaskan generasi penerus bangsa? Sudahkan dana otsus mereka nikmati meski hanya untuk sekadar membeli sepotong roti dan segelas air mineral saat jam istirahat?

Yang sangat menyedihkan lagi malah elite di Aceh menyiapkan dana puluhan miliar rupiah untuk membeli perlengkapan seminar kit peserta pelatihan. Ini sungguh suatu hal yang sangat menyayat hati para honorer tenaga medis, pendidik, dan penyuluh yang masih punya hati untuk mengabdi di pedalaman..

Semoga reportase dan “curhatan” saya ini menjadi introspeksi bagi Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota dalam mengelola dana otsus dan agar lebih menghargai setiap profesi yang saban hari berjibaku dengan beratnya tantangan daerah pedalaman.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved