Ini Reaksi Mantan Presma UIN Ar-Raniry Terkait Aksi Demo PT EMM

Mantan Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Alfian ikut menyikapi terkait kerusuhan dalam aski demontrasi mahasiswa yang menolak tambang

Ini Reaksi Mantan Presma UIN Ar-Raniry Terkait Aksi Demo PT EMM
SERAMBINEWS.COM/M ANSHAR
Mahasiswa berorasi menolak PT EMM di Aceh 

Ini Reaksi Mantan Presma UIN Ar-Raniry Terkait Aksi Demo PT EMM

Laporan Jafaruddin I Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Mantan Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Alfian ikut menyikapi terkait kerusuhan dalam aski demontrasi mahasiswa yang menolak dikeluarkannya izin usaha pertambangan kepada PT Emas Mineral Murni (EMM) di Kantor Gubernur Aceh yang berujung ricuh.

Presidium Kaukus Akademisi Muda Aceh Alfian MA itu, menyangkan sikap polisi dalam menangani aksi mahasiswa tersebut.

 “Sebagai akademisi yang dulunya juga sebagai mantan Presma UIN Ar Raniry merasa sangat prihatin dan menyayangkan sikap dan penanganan dari aparat kepolisian kepada adik-adik kami waktu menyampaikan aspirasi di kantor gubernur Aceh,” ujar Alfian kepada Serambinews.com, Rabu (10/4/2019).

Baca: Tanggapi Demo PT EMM, YARA Ingatkan Soal Pentingnya Investasi

Baca: Di Aula ISBI Jantho, Bupati Mawardi Resmikan Simantab, Ini Mamfaatnya

Baca: Tolak Tambang Emas di Gayo, Amanat Surati Presiden dan Menteri

 Menurut Alfian, tuntutan mahasiswa sebagai pejuang perubahan yang ingin menjaga isi bumi Nanggroe Aceh, laut dan darat adalah amanah endatu.

“Perlakuan yang kurang manusiawi tersebut tak bisa diterima dengan akal sehat. Kami harapkan supaya tidak di ulangi lagi oleh aparat penegak hukum pada masa damai ini,” tulis Alfian.

Disebutkan, aktivis masa konflik dalam perjuangan mencari keadilan di Republik ini, sampai masih hidup, dan tersebar di seluruh wilayah Aceh. “Selaku demonstran masa konflik dulu, kami juga bisa bangkit lagi kalau memang Nanggroe Aceh ini diperlakukan tidak sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati dalam klausul MoU perdamaian 15 Agustus 2005,” ujar Alfian yang juga dosen Unimal.

Alfian berharap, aparat penegak hukum tidak memaksa darah bangsa ini ditumpahkan lagi. “Sudah cukup darah dan kekerasan itu kami rasakan di masa kami dulu yang sampai hari ini masih membekas,” ujar Alfian. Kepada pemangku kepentingan, Pemerintahan Aceh dan DPRA, lanjut Alfian,  sudah seharus menyikapi ketidak adilan dan kesewenang- wenangan Pemerintah Pusat, dalam mengambil kebijakan sepihak dengan mengabaikan kekhususan Aceh, yang pernah dijanjikan dan tanda tangani.

Semua elemen masyarakat Aceh yang masih peduli, diharapkan tidak membiarkan begitu saja perjuangan mahasiswa, karena perjuangan mereka hari ini merupakan lanjutan dari perjuangan dulu.

“Kasus tentang penolakan tambang Emas PT EMM di Nagan Raya merupakan salah satu contoh kasus yang mencuat di antara banyak kasus lainnya. Ketidak becusan dan penakutnya Pemerintah Aceh saat ini dalam menghadapi predator pusat akan menjadi bahan pertimbangan rakyat Aceh kedepan,” pungkas Alfian.(*)

    

Penulis: Jafaruddin
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved