Jurnalisme Warga

Menyusuri Riak Danau Lut Tawar

MATAHARI seperempat jarum jam lagi masuk ke kaki bukit. Panasnya mulai memudar seiring awan yang kian berarak

Menyusuri Riak Danau Lut Tawar
IST
Herman RN, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Tim Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh-Sumut.

Perlahan, di tepi danau, di bawah bukit-bukit, terlihat lampu menyala kerlap-kerlip. Tentu saja itu penerangan di rumah-rumah penduduk. Kerlap-kerlip lampu tersebut persis seperti bintang di atas permukaan danau. Keindahan yang tiada tara untuk mata yang memandang.

Sesampai di tempat semula, lokasi objek wisata yang akan dikembangkan Pak Martis, kami melaksanakan shalat Magrib berjamaah. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, saya ucapkan sepatah kata terima kasih dalam bahasa Gayo buat Pak Martis dan keluarganya yang telah memberikan saya pengalaman baru dalam hidup ini.

Untuk melengkapi kebahagiaan tersebut, sebelumnya saya sempatkan membaca sebuah puisi spontan tentang Lut Tawar dari atas sebuah perahu kayu. Maka, nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan? (hermanrn13@gmail.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved