Pemerintah Aceh Gelar Musrenbang

Pemerintah Aceh melalui Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Aceh menggelar Musyawarah Perencanaan

Pemerintah Aceh Gelar Musrenbang
SERAMBI/YARMEN DINAMIKA
PLT Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT berbincang dengan Dewan Komisaris Morgan Bank Ltd New York, Dr Adnan Ganto MBA, seusai membuka Musrenbang 2020 di Hermes Palace Hotel, kemarin. 

* Dihadiri 800 Orang

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh melalui Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Aceh menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) 2020 yang dibuka Rabu (10/4) pagi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah MT di Hotel Hermes Banda Aceh. Musrenbang yang dihadiri sedikitnya 800 peserta itu akan dilanjutkan hingga 4 Mei 2019 di Kantor Bappeda Aceh.

Dari segi peserta, musrenbang kali ini tergolong kolosal dan sangat representatif. Dalam musyawarah tersebut Bappeda Aceh mengundang semua unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh, para bupati/wali kota dan kepala Bappeda se-Aceh, seluruh mantan gubernur dan wakil gubernur Aceh, kalangan pengusaha, sejumlah asosiasi, unsur perempuan, organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, bahkan Forum Anak.

“Belum pernah musrenbang provinsi mengundang peserta sebanyak ini dengan keterwakilan unsur yang sangat luas,” kata Kepala Bappeda Aceh, Azhari Hasan MSi.

Dari segi narasumber pun cukup berbobot. “Sengaja kita undang narasumber mewakili pemerintah, maupun swasta supaya ada dua perspektif yang kita dapatkan dalam memperkaya bobot dokumen perencanaan pembangunan Aceh setahun ke depan,” kata Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menjawab Serambi seusai membuka musrenbang.

Dari kalangan pemerintah, narasumber yang membahani peserta musrenbang kemarin adalah Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, Muhammad Hodari, Deputi Bidang Pemantauan, Evaluasi dan Pengendalian Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Dr Ir Taufiq Hanafi MUP, serta Kepala Pusat Pemograman dan Evaluasi Keterpaduan Infrastruktur Kementrian PUPR, Ir Iwan Nurwanto MSoc.Sci. Dari kalangan profesional, narasumber yang hadir adalah Komisaris Morgan Bank Ltd New York, Dr Adnan Ganto MBA yang kelahiran Buloh Blang Ara, Aceh Utara. Seharusnya hadir juga Chairul Tanjung. Tapi dua hari menjelang acara dimulai mantan Menko Perekonomian dan bos CT Corp itu membatalkan kunjungannya ke Aceh karena ada acara yang tak bisa ia tinggalkan di Jakarta.

Musrenbang itu sangatlah penting, kata Nova, karena gagal perencanaan berarti merencanakan kegagalan. Musrenbang itu juga ia harapkan dapat mencapai tujuan utamanya, sebagaimana yang dirumuskan di dalam tema acara tersebut, yakni memacu pembangunan yang berkelanjutan, peningkatan daya saing dan infrastruktur yang terintegrasi.

Nova juga mengatakan, ada hal-hal yang anomali terjadi di Aceh dan perlu dicermati. “Angka kemiskinan dan pengangguran kita di Aceh masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi daerah kita pun rendah, masih di bawah nasional. “Tapi ada beberapa hal yang disebutkan sejumlah narasumber dari pusat untuk Aceh bahwa meski angka kemiskinan dan pengangguran kita tinggi, tapi angka kebahagiaan hidup orang Aceh masih baik,” kata Nova.

Ia juga berharap meningkatnya peran swasta dalam mendorong laju perekonomian di Aceh karena tidak ada negara atau maju yang hanya dibangun sendiri oleh pemerintah. Untuk mengoptimlkan peran sektor swasta di Aceh, Nova bersaran agar masing-masing pengusaha atau pelaku sektor swasta bersungguh-sungguh membenahi diri. “Perbaiki institusi saudara masing-masing dan segeeralah berinvestasi,” imbau Nova.

Sementara itu, Adnan Ganto yang juga Penasihat Gubernur Aceh Bidang Ekonomi dan Perbankan mengatakan, sebetulnya Aceh tidak kekurangan modal usaha. Hanya saja dunia perbankannya kurang mau menyalurkan kredit untuk pembiayaan usaha ke sektor produktif, terutama Bank Aceh Syariah. “Perbankan di Aceh lebih suka membiaya sektor konsumtif daripada produktif, makanya pertumbuhan ekonomi Aceh hanya tumbuh sekitar 4 persen,” kata Adnan.

Tapi jika bank di Aceh, terutama Bank Aceh Syariag mau menyalurkan kredit ke sektor produktif mencapai 30-50 persen dari pagu kreditnya, Adnan optimis perkonomian Aceh bisa tumbuh di atas 5 persen dan angka kemiskinan maupun pengangguran bisa turun 2-3 persen/tahun, bukan 0,24 persen seperti sekarang ini.

Saat Adnan presentasi, moderatornya adalah Rektor Unsyiah, Prof Dr Syamsul Rizal MEng dan untuk sesi kedua moderatornya adalah Martunis DEA dari Bappeda Aceh.

Senada dengan Adnan, Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri RI, Dr Muhammad Hudori MSi bersaran bahwa untuk menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi di Aceh, maka Pemerintah Aceh bersama institusi perbankannya perlu meningkatkan akses permodalan kepada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah serta memberikan insentif kepada dunia usaha swasta yang membuka lapangan kerja bagi masyarakat Aceh.

“Peningkatan akses permodalan untuk pembukaan lapangan kerja bisa mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Aceh yang masih rendah. Pertumbuhan ekonomi Aceh sebesar 4,03 persen, berada pada peringkat 30 dari 34 provinsi dan masih berada di bawah rata-rata nasional yang telah mencapai 5,03 persen,” demikian Hudori. (her/dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved