Kementerian LHK Pantau Sampah Laut

Tim survei pencemaran laut dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melakukan peninjauan

IST
WALI Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, bersama Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mendampingi Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, saat meninjau kawasan Krueng Daroy yang telah direvitalisasi, Senin (11/3). Wali Kota meminta kepada Menteri PUPR proyek penataan kawasan Krueng Daroy dilanjutkan. 

* Di Pantai Alue Naga dan Ulee Lheue

BANDA ACEH - Tim survei pencemaran laut dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melakukan peninjauan dan pemantauan ke Pantai Alue Naga dan Ulee Lheue. Kedatangan tim survei itu untuk mengecek persentase sampah organik dan anorganik yang terdapat di kedua pantai tersebut.

Tim Kementerian LHK yang melakukan pemantauan ke Banda Aceh Novi Farhani dan Arum Prajani dari Subdit Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Wil I Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan. “Mereka datang ke pantai yang sering didatangi warga. Di Kota Banda Aceh, ada dua pantai yang sering dikunjungi yaitu Ulee Lheue dan Alue Naga,” ujar Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh, Ir Jalaluddin kepada Serambi, di Pantai Alue Naga, Kamis (11/4).

Dikatakan, tim survei Kementerian LHK datang ke Banda Aceh untuk melihat kondisi sampah yang dibawa dari laut bebas ke bibir pantai. Hal itu dibenarkan Novi Farhani dan Arum Prajani mengatakan, kehadiran mereka untuk melihat dua pantai wisata yang diusul Pemko Banda Aceh kepada Kementerian LHK sebagai pantai bebas sampah organik maupun anorganik.

Dua lokasi pantai ini, kata Novi Farhani, akan dinilai dan dianalisa oleh konsultan pencegahan pencemaran sampah berbahaya dari Kementerian KLH pada akhir April atau Mei mendatang. Lokasi pantai yang akan dinilai dan dianalisa lebih dulu dibersihkan dari sampah untuk dilakukan penilaian dan analisa.

Setelah dilakukan pembersihan, dilihat dalam satu hari sampai satu minggu dan seterusnya, berapa banyak sampah yang terdapat di bibir pantai yang dibawa ombak air laut ke pinggir pantai. “Setelah Konsultan mengetahui jumlah sampah dan persentase besaran sampah organik maupun anorganiknya, baru diberikan cara mengatasi sampah yang dibawa dari luat bebas ke bibir pantai,” jelas Novi Farhani.

Penelitian ini, tambahnya, sudah dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di beberapa pantai, seperti pantai-pantai di Bali, Lombok, dan daerah wisata lainnya. Pemantauan ini memberikan hasil sangat positif bagi pengembangan industri pariwisata di daerah tersebut.

Sementara Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman mengatakan, Pemko Banda Aceh berterimakasih dengan turunnya tim survei pengendalian pencemaran dan kerusakan kingkungan pantai dari Kementerian KLH untuk melakukan riset pencegahan dan penanggulangan sampah di Pantai Ulee Lheue dan Alue Naga.

Dua pantai itu, kata Aminullah, merupakan lokasi andalan wisata bagi warga. Karenanya, kehadiran tim Kementerian KLH untuk menganalisa dan penanganan sampah sangat dibutuhkan.

Hasil analisanya nanti, ucap Wali Kota, akan mereka ditindaklanjuti. “Setelah konsultan penanganan pencemaran sampah laut dari Kementerian KLH memberikan rekomendasinya, kita segera menindaklanjuti,” tandasnya.

Program bebas sampah yang dijalankan Pemko Banda Aceh, bukan hanya pada pusat kota dan permukiman penduduk. Tapi juga sampai ke bibir pantai yang dijadikan lokasi andalan wisata dan pangkalan pendaratan boat-boat nelayan harus bebas dari sampah. “Hal ini dimaksudkan supaya Kota Banda Aceh, benar-benar menjadi kota gemilang yang sangat menyenangkan bagi warganya dan wisatawan yang datang ke Aceh,” tegas Aminullah Usman.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved