Opini

Pikiran Irasional Pendukung Capres

FITRAH manusia itu berakal. Akal (‘aql, logic, homo sapiens) merupakan pembeda (distingsi) antara spesies manusia

Pikiran Irasional Pendukung Capres
IST
Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Kedua, “jika Jokowi menang PKI akan bangkit dan agama akan dihilangkan” dan “jika Prabowo menang khilafah akan ditegakkan”. Dalam konteks demokrasi dan keindonesiaan kedua pikiran tersebut merupakan pikiran irasional. Sebab, pertama realitas politik nasional dan internasional tidak mendukung PKI. PKI sempat berkembang di Indonesia disebabkan oleh sokongan transnasional dan munculnya para pengikut Karl Marx (Marxisme). Apalagi Ketetapan MPRS No.25 Tahun 1966 tentang Pembubaran Komunis Indonesia (PKI) masih berlaku.

Selain itu, khilafah pun tidak mungkin dapat ditegakkan di Indonesia, sebab Indonesia memiliki kesepakatan bersama tentang Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan, Organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdhatul Ulama (NU) menganggap NKRI harga mati, dan Muhammadiyah menggangap bahwa Indonesia hasil kesepakatan bersama, yakni darul ‘ahdi wa syahadah.

Ketiga, “Jokowi hanya didukung oleh kaum kafir, LGBT, Liberal”, dan “Prabowo hanya didukung oleh Ulama”. Kedua pikiran ini juga merupakan pikiran irasional. Sebab, realitas politik menunjukkan bahwa latar belakang pemilih kedua capres tersebut menyebar ke berbagai kalangan, suku, etnis, agama, golongan, aliran kepercayaan, usia, dan tingkat pendidikan.

Artinya, kedua kontestan memiliki pemilih dan pendukung beragam, dan kedua capres tersebut juga mendapatkan dukungan dari para Ulama dan tokoh agama. Bahkan, Capres Jokowi menggandeng seorang ulama besar yang diakui kepakarannya ahli ekonomi syariah sebagai cawapres. Maka para pendukung capres hendaknya lebih rasional dalam pengambilan keputusan.

Keempat, “memaksa para pemilih hanya memilih capres sesuai keinginannya”, pikiran ini merupakan pikiran irasional. Sebab, setiap orang memiliki keinginan dan keyakinan berbeda. Tidak mungkin memaksa semua orang untuk menyukai capres yang kita inginkan. Di sinilah pentingnya menghargai dan toleransi terhadap pilihan yang berbeda.

Sistem demokrasi memberikan ragam pilihan kepada para pemilih, mereka akan memilih sesuai dengan keinginan dan keyakinannya; siapa yang mampu mewujudkan harapannya. Ini menunjukkan bahwa perilaku politik barbar, pemaksaan kehendak, politik uang, fitnah dan hoaks, saling serang caci-maki, dan berbagai perilaku amoral lainnya, disebabkan oleh pikiran-pikiran irasional yang me-”wabah” pada para pendukung.

Dan, kelima, “Pilpres itu sama seperti Perang Badar”. Pikiran ini merupakan pikiran irasional. Jika menilik sejarah, Perang Badar yang terjadi pada tahun kedua Hijriah merupakan perang antara kaum muslimin dengan musyrikin. Sedangkan pilpres merupakan pesta demokrasi ritual lima tahunan, masing-masing capres pun memiliki basis pendukung dari kaum muslimin dan musyrikin.

Maka tidak logis jika pilpres disamakan dengan Perang Badar, karena secara teks dan konteks memiliki perbedaan. Pikiran ini hanya dikembangkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memunculkan “blok hitam-putih” dalam pilpres. Padahal, politik itu abu-abu, tidak ada yang abadi dalam politik kecuali kepentingan. Pikiran irasional semacam ini harus dilawan untuk mencerdaskan umat dan anak bangsa.

Sangat berbahaya

Sebab itu, pikiran-pikiran irasional di atas sangat berbahaya bila terus dipelihara oleh para pendukung capres. Pikiran irasional akan menimbulkan hambatan psikis dan emosional, penuh prasangka, paranoid, phobia, dan tidak sehat dalam menentukan pilihan. Sedangkan pikiran rasional akan melahirkan kebahagiaan, kepuasan, efektif, dan kompeten dalam menentukan pilihan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved