Warga Jebak Buaya Pakai Bebek

Perangkap buaya yang dipasang Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama warga di sungai dekat rumah penduduk

Warga Jebak Buaya Pakai Bebek
For serambinews.com
Petugas BKSDA memasang perangkap buaya di sungai Kuta Simboling, Singkil, Aceh Singkil, Rabu (10/4/2019). Buaya meresahkan warga lantaran kerap muncul dekat permukiman. 

SINGKIL - Perangkap buaya yang dipasang Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama warga di sungai dekat rumah penduduk kawasan Desa Kuta Simboling, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil, sejak dua hari lalu, belum membuahkan hasil. Pasalnya, buaya yang meresahkan warga itu tidak juga masuk ke dalam perangkap yang terbuat dari kerangkeng besi, kendati sudah dipasang umpan ayam putih di dalamnya.

Meskipun begitu, hal ini tidak lantas membuat warga patah semangat. Malah sebaliknya, warga semakin tertantang untuk menangkap hewan karnivora tersebut. Strategi pun diubah dengan mengganti umpan dari ayam ke bebek hidup yang bisa berenang di permukaan air. “Hingga saat ini, buaya belum juga masuk dalam perangkap. Karenanya, umpan kita ganti dari ayam jadi bebek hidup,” kata Kaya, warga Kuta Simboling kepada Serambi, Jumat (12/4).

Kaya meyakini, penggunaan umpan bebek hidup itu akan membuahkan hasil. Sebab, diperkirakan buaya akan terpancing dengan gerakan bebek yang diletakkan dalam kerangkeng besi. “Setelah umpannya diganti bebek, kami yakin buaya akan masuk jebakan,” ujarnya penuh keyakinan yang diamini warga lainnya.

Untuk diketahui, sejak sepekan terakhir, warga Kuta Simboling, Suka Makmur, dan Siti Ambia yang lokasinya berdekatan dengan sungai diresahkan dengan penampakan buaya berukuran besar. Hewan predator itu kerap muncul di sungai yang berada di dekat permukiman warga.

Keresahan warga dipicu lantaran mereka kerap menggunakan sungai itu untuk tempat mandi, mencuci, serta mencari nafkah. Belum lagi sungai tersebut menjadi wahana bagi anak-anak desa itu untuk bermain dan berenang. Menjawab kekhawatiran itu, BKSDA dibantu warga setempat memasang perangkap penangkap buaya sejak Rabu (10/4), di sungai tersebut.

Konflik Panjang Manusia Kontra Buaya
Sementara itu, konflik antara manusia dengan buaya bukan cerita baru di Aceh Singgil. Sebab, catatan ‘perseteruan’ manusia dengan hewan pemakan daging itu memang sudah lama terjadi. Penyebabnya, karena permukiman warga kerap bersentuhan dengan habitat buaya yang biasanya mendiami sungai atau rawa-rawa.

Pada tahun 2015 lalu, pernah terjadi perburuan terhadap hewan predator itu, menyusul dimangsanya seorang pencari lokan (kerang sungai) ketika sedang menyelam di sungai. Belum reda, tiga tahun kemudian atau pada akhir tahun 2018, seorang nelayan asal Ujung Sialit, Kecamatan Pulau Banyak Barat, Yasoziduhu (42), juga menjadi korban terkaman buaya. Korban dilaporkan mendapat serangan hewan ganas itu saat sedang menyelam di kawasan Pulau Inasuri, Pulau Banyak Barat. Beruntung, Yasoziduhu masih selamat setelah bertarung habis-habisan dengan binatang melata tersebut, meski dia harus rela sekujur tubuhnya luka-luka.(de)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved