Opini

Melihat ‘Antusiasme’ Pilpres 2019

ANTUSIASME menurut KBBI berarti; kegairahan, gelora, semangat, minat yang besar terhadap sesuatu

Melihat ‘Antusiasme’ Pilpres 2019
IST
Cut Zamharira, S.IP., M.AP, Staf Pengajar Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Politik adalah upaya atau cara untuk memperoleh sesuatu (Aristoteles). Dalam konteks pemilu, proses politik tentu tujuannya adalah memperoleh kekuasaan. Sehingga ada persaingan bahkan pertarungan untuk memperebutkan tampuk kekuasaan. Disebut persaingan, karena akan menghasilkan pihak yang kalah dan menang. Sayangnya, persaingan tidak sehat dari sisi informasi lebih mendominasi. Bukan isu ekonomi dan inovasi yang diandalkan, melainkan pelintiran kebencian. Fenomena ini pun terlihat mencuat di berbagai media sosial. Mulai dari status, berita yang disebarkan, meme yang melahirkan upaya-upaya menjatuhkan lawan.

Mengungkap keburukan pribadi, fitnah, menyebar isu SARA dan membuat berita bohong guna meracuni pembaca. Berkembangnya hoaks pada pemilu bukan lagi isu sampiran, ia telah sampai ke sumsum elektabilitas peserta pemilu (Teuku Kemal Fasya, 2019). Bahkan tingkat pendidikan pun tidak seiring sejalan dengan tingkat pemikiran dalam mencerna informasi. Masyarakat kerap tidak membaca informasi secara utuh, lalu bergegas menyebarkannya (Tirto.id, 2019).

Antusiasme pada hal-hal negatif semakin menjamur yang seolah menjadi de javu Pemilu 2014 silam. Masih ada pihak-pihak yang belum bisa move on dari model-model fanatisme pemilu sebelumnya. Padahal yang dibela bukan Rasulullah saw, dan yang dibenci juga bukan Abu Lahab.

Sudah lelah
Di balik pihak-pihak yang sangat antusias memenangkan calon unggulan mereka dengan berbagai usaha, ada pula kelompok yang sudah sangat lelah pada kondisi jelang pemilu. Lelah membuka media sosial bahkan elektronik yang penuh dengan debat kusir dan konten negatif tak berkesudahan. Lelah karena dibingungkan oleh informasi yang kabur, tidak jelas kebenarannya.

Lelah dengan perbincangan sesama kolega, saudara baik di dunia nyata maupun maya, yang terus saja merasa benar dengan pilihannya. Dan apa pun berita dari lawan dianggap bohong, seolah kebenaran mutlak adalah pada pilihannya. Lelah dengan polusi isu “wowo dan wiwi”. Lelah dengan pemandangan “menyampah” spanduk, baliho di jalanan, pohon, trotoar, taman, jembatan. Lelah dengan iklan dan janji-janji “penjual mimpi”.

Kelelahan yang berujung stres atas kondisi ini, membuat masyarakat “antusias”, seakan tidak sabar menanti hari Rabu, 17 April 2019 secepatnya. Bukan karena fanatisme, tapi semata karena ingin pemilu segera usai. Kondisi ini cepat berlalu, jalan dan fasilitas umum kembali bersih dari baliho dan spanduk caleg, media sosial kembali menjadi sarana silaturrahmi yang sehat, orang-orang mulai berpikiran “waras” kembali.

Harapan terbesar adalah pemilu berlangsung aman, damai, bersih. Siapa pun yang terpilih, semoga beliau mampu dan amanah mewujudkan harapan rakyat, membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Kita sebagai warga negara dengan legowo menerimanya, agar kondisi kelelahan ini tidak berlanjut pascapemilu. Tetap antusias pada hal-hal positif demi kemajuan bangsa. (cut_zamharira@yahoo.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved