Jurnalisme Warga

Pemilu Serentak di Desa Lamklat

PEMILIHAN umum (pemilu) merupakan indikator penting sebuah negara demokrasi

Pemilu Serentak di Desa Lamklat
Saifuddin Bantasyam, Dosen Fakultas Hukum Unsyiah, Pegiat Forum Menulis Aceh (FAMe).

Apa yang menjadi penyebab partisipasi sedemikian tinggi? Saya mencoba bertanya kepada beberapa warga desa. Ada yang menjawab, “khawatir kalau tak datang memilih”. Ada juga yang mengatakan, “daripada duduk di rumah, ya ke TPS saja”. Warga yang lain berkata, “ada perintah Pak Keuchik untuk ke TPS, jangan golput”. Namun ada juga yang menjawab bahwa mereka ke TPS karena memang ada orang-orang yang akan dipilihnya. “Memilih capres juga mudah, kan hanya dua calon, kalau tidak yang ini, maka ya coblos yang itu,” kata seorang warga.

Pencoblosan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB, tidak pukul 07.00 WIB seperti dicantumkan dalam form MODEL C6-KPU, karena diketahui bahwa tak ada warga yang datang sedemikian pagi. Kemudian, dalam waktu yang hampir bersamaan, terjadi antrean panjang. Atas inisiatif panitia, maka bilik suara yang sebelumnya hanya tiga, ditambah menjadi lima pada pukul 11.00 WIB, dan ditambah lagi menjadi tujuh menjelang pukul 12.00 WIB.

Antrean pun mulai terurai. Warga yang akan memilih terlihat sumringah kembali. Saya dan istri kemudian menuju bilik suara sekitar pukul 12.15 WIB. Beberapa warga desa yang sudah mencoblos mengaku bingung saat memegang kertas suara. Proses membuka dan melipat kembali, sangat merepotkan. “Saya tadi 10 menit lebih di meja coblos,” kata seorang warga. Warga lain malah menyuruh petugas untuk melipat dan sekalian memasukkan ke kotak suara.

Lalu apa yang digunakan oleh warga sebagai pertimbangan dalam mencoblos? Tak banyak informasi yang bisa saya peroleh. Secara tioritis, ada yang menetapkan pilihan karena alasan-alasan yang bersifat ideologis dan ada yang karena alasan pragmatis. Saya menengarai bahwa pemilih yang mencoblos dengan alasan ideologis, semakin sedikit.

Pertimbangan terbanyak adalah yang bersifat pragmatis dengan segala bentuknya, misalnya karena satu kampung, hubungan persaudaraan, dan sebagainya yang sulit untuk dirasionalkan. Bisa jadi, ada pemilih yang memutuskan atas dasar “isi tas caleg,” atau “saling dengar antarsesama,” dibanding karena pengetahuan tentang latar-belakang dan kualitas calon.

Hasil pilpres di desa saya, 241 memilih Prabowo-Sandi, dan 17 memilih Jokowi-Makruf, dan hanya dua suara tidak dinyatakan tidak sah. Ternyata, warga desa teramat sangat piawai dalam mencoblos. Adapun penghitungan suara untuk DPD dan anggota legislatif, belum selesai saat tulisan ini saya buat. Di televisi, hasil Quick Count mulai bermunculan. Semua memperlihatkan keunggulan Jokowi-Makruf. Hasil akhir tentu harus didasarkan pada penghitungan yang akan dilakukan dan diumumkan oleh KPU.

Kemudian, sayup-sayup saya mendengar suara dari meunasah, proses penghitungan sedang berlangsung. Sedangkan para pemilih hak di desa Lamklat, sudah kembali ke rumah, atau balik ke sawah, atau ke tempat-tempat lain di mana kehidupan digantungkan. Para pemilik hak ini tak pernah tahu, “kontrak” yang mereka sudah teken itu akan dihormati atau tidak, janji-janji akan ditunaikan atau tidak. Mereka kembali menjadi mereka. (saif.bantasyam@gmail.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved