Jurnalisme Warga

Keindahan Alam dan Kuliner di Barat Aceh

CALANG, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, hampir setiap Sabtu dan Minggu sepi. Sebagian warganya yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS)

Keindahan Alam dan Kuliner di Barat Aceh
IST
Mustafa Ibrahim Delima Pegawai di BPS dan anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Aceh Jaya 

Menariknya, kami disarankan minum kopi nira dilengkapi dengan penganan telur rebus dan kacang goreng. Menurut penjual, kopi nira akan terasa lebih nikmat bila disangding dengan kacang dan telur rebus. Mengenai harga tak usah khawatir, cukup bersahabat dengan kantong kita.

Puas dengan kopi nira, tanpa sengaja kami melihat papan petunjuk yang dipasang Disbudpar Aceh pas di depan warung kopi nira itu. Papan itu menunjukkan arah lokasi arung jeram. Lokasi arung jeram berjarak 24 km dari Simpang Padang Kleng, Kemukiman Sarah Raya, Kecamatan Pasi Raya. Jalan menuju kesana cukup bagus, meski sebagian tampak belum diaspal.

Anda perlu berhati-hati. Banyak truk-truk pengangkut pasir dan batu yang berlalu-lalang. Sepanjangan perjalanan yang berbukit-bukit itu, mata anda dimanjakan dengan pemandangan pohon sawit dan sungai luas yang memanjang berbatu-batu. Wajar jika daerah didaerah ini menjadi pusat pertambangan galian C di Aceh Jaya.

Setelah menempuh perjalanan sepanjang 24 km ke arah utara, kami pun tiba di Sarah Raya. Meski tak sempat mengarungi arung jeram, tapi yakin tempat ini lebih dari cocok untuk siapa saja menyalurkan hobi raftingnya. Betapa tidak, sungai mengalir kencang, berbatu-batu, dengan kedua sisi sungai yang sangat landai.

Pantai Ujong Pusong
Selanjutnya, pada Minggu, 14 April, kami mengunjugi pantai Ujong Pusong, Lhok Buya. Pantai ini berjarak sekitar 5 km dari Calang, arah ke Banda Aceh. Pantainya dipenuhi pohon cemara menjulang yang rindang. Pantainya luas dan bersih, cocok mengajak keluaraga untuk bersantai.

Selanjutnya kami menuju Croeng Crang Hills, Kemukiman Rigaih, Kecamatan Setia Bakti. Bukit tempat muda-mudi menikmati sunset, yang suasananya mirip kaki Gunong Geurutee, menawarkan pemandangan yang instagramable. Afri Puncak Café, sudah menyediakan tempat duduk dengan view laut lepas. Untuk menggenapkan kenikmatan pemandangan tak lupa kami pesan rujak buah dan es kelapa muda.

Usai menikmati pemandangan di Croeng Crang Hills, kami beralih ke pantai Lhok Geulumpang. Untuk menuju ke sini harus melewati jalan sempit yang berbukit sepanjang 2 km dari jalan raya Banda Aceh-Meulaboh. Permukaan jalan, tanah dan batu sepertinya sedang proses pengerjaan. Namun semua itu terbayar lunas ketika sampai di sini. Pemandangan pasir putih keemasan dan air laut yang membiru tenang seakan mata uang untuk membayar kelelahan.

Terakhir dalam perjalanan pulang, kami singgah di pelabuhan Lhok Timon. Sebagai pendatang baru di Aceh Jaya, kami cukup penasaran dengan dengan keindahan Pulo Reusam yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Akhirnya, tanpa pikir panjang, kami menyewa boat nelayan dan menuju ke sana dengan biaya sebesar Rp 150 ribu.

Perjalanan ke Pulo Reusam dengan boat thep-thep nelayan itu bisa ditempuh dalam waktu 10 menit. Dari kejauhan sudah tampak pasir putih keemasan serta dinding-dinding batu seperti tersusun rapi. Beberapa tiang bekas dermaga masih tampak di sana. Ada juga bangunan bekas café atau kantin yang sudah tak terawat.

Menurut nelayan pemilik boat thep-thep yang membawa kami, para pengunjung tidak lagi datang Pulo Reusam, setelah dermaga itu hancur diterjang ombak. Setelah menghabiskan waktu untuk berfoto-foto dan makan siang, kami kembali ke daratan.

Itu beberapa catatan kami tentang keindahan dan kuliner di Barat Aceh. Mudah-mudahan pihak yang berwenang dapat memberikan sentuhan yang memadai, sehingga obyek-obyek wisata layak dikunjungi dan kulinernya layak dicicipi. Aceh Jaya, indahnya lebih dari apa yang Anda bayangkan. Nah! (mustafa@bps.go.id)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved