Pedagang Pasar Babahrot Bangkrut

Pasar rakyat di Desa Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya (Abdya) yang difungsikan pada tahun 2017

Pedagang Pasar Babahrot Bangkrut
SERAMBI/ZAINUN YUSUF
SEJUMLAH anak-anak bermain di depan kios yang tutup dalam Kompleks Pasar Babahrot di Gampong Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot, Abdya, Kamis (18/4). SERAMBI/ZAINUN YUSUF 

* Karena Sepi Pembeli

BLANGPIDIE - Pasar rakyat di Desa Pantee Rakyat, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya (Abdya) yang difungsikan pada tahun 2017, suasananya dari hari ke hari semakin sepi pengunjung. Dampaknya, sejumlah pedagang dilaporkan bangkrut dan terancam gulung tikar karena tidak memiliki modal untuk memulai usaha baru. Sebagian pedagang lagi memilih hengkang dari pasar itu untuk kemudian membuka usaha di lokasi lain.

Amatan Serambi di lokasi, Kamis (18/4), beberapa pedagang yang masih bertahan di Pasar Babahrot hanya terbatas pedagang sayur-sayuran dan kebutuhan dapur lainnya. Sedangkan, puluhan kios permanen dalam kondisi tutup, sehingga dimanfaatkan anak-anak untuk bermain di teras kios. Hanya ada sekitar dua atau tiga kios saja yang buka, itupun usaha pakaian jadi. Bangku permanen sebagai lapak jual ikan basah juga dalam keadaan kosong melompong.

Pasar rakyat yang berlokasi di Dusun Teungoeh, Gampong Pantee Rakyat itu dibangun pada tahun 2016, dengan menyerap anggaran mencapai miliaran rupiah. Kini, kondisinya cukup menyedihkan lantaran kurang terurus. Tak heran, area kompleks pasar penuh semak belukar dan fasilitas yang tersedia banyak yang tidak berfungsi lagi.

Pedagang yang masih bertahan memperkirakan, puluhan kios di pasar rakyat tersebut tidak lama lagi akan tutup seluruhnya akibat pengunjung terus berkurang. Pasar yang dulunya digembar-gemborkan akan berkembang menjadi pusat pasar yang menyediakan beragam kebutuhan masyarakat itu diprediksi segera ditinggalkan oleh semua pedagang, sehingga bangunan permanennya menjadi mubazir karena tidak dimanfaatkan.

Salah seorang pedagang menjelaskan, terus berkurangnya jumlah pengunjung diduga akibat kurang tegasnya pihak pengelola pasar, dan aparatur Gampong Pantee Rakyat, serta Muspika Babahrot. Padahal, beber dia, ketika awal beroperasi, pasar tersebut tampak semarak karena pengunjung datang dalam jumlah lumayan banyak.

“Pengunjung ramai saat itu setelah pedagang ikan (mugee eungkoet) dan pedagang yang membuka lapak di pasar lama, semuanya diarahkan memindahkan usaha mereka ke kompleks pasar rakyat. Makanya, pembeli semua datang ke pasar rakyat,” ujar pedagang yang tak mau membeberkan identitasnya itu.

Namun, lanjut dia, keramaian itu tak bertahan lama. Sebab, sekitar satu tahun kemudian, jumlah kunjungan pembeli menurun drastis. Penyebabnya, ulas dia, para pedagang ikan basah (mugee) seperti ‘dibiarkan’ berjualan di luar pasar atau di tepi jalan raya, seperti di Simpang Alue Mentri dan di pinggir jalan nasional antara pasar buah sampai Jembatan Alue Beuringen. Padahal, ketersediaan ikan basah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk mengunjungi pasar, sekaligus membelanjakan beragam kebutuhan rumah tangga.

Dampak tidak ditertibkannya pedagang ikan basah yang membuka lapak di luar pasar itu, tandasnya, membuat satu persatu pedagang menutup kios dalam kompleks pasar, kemudian pindah berjualan ke luar. “Kios yang sebagian besar telah tutup itu kemudian difungsikan sebagai gudang,” tukas pedagang lain yang juga enggan disebut namanya.(nun)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved