Jurnalisme Warga

Asyiknya Malam Pertama di Amor

Reportase ini berisi pengalaman saya saat menjadi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) pada program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Almuslim

Asyiknya Malam Pertama di Amor
IST
ZULKIFLI, M.Kom, Kepala Bagian Humas Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Mesidah, Bener Meriah

Mahasiswa KKM yang ditempatkan di Amor berjumlah sepuluh orang(tiga cowok, tujuh cewek). Sebagai DPL saya mengantar mereka sampai ke lokasi. Dari kantor camat saya naik minibus L300 pikap 4 gerdang yang telah disiapkan reje. Perjalanan ke Kampung Amor teryata lebih gawat lagi. Jalannya masih beralas tanah dan berlubang. Aspalnya keriting dan banyak yang terkelupas. Topografinya mendaki, menurun, dan banyak sekali jurang di sepanjang perjalanan.

Sesampai di lokasi penempatan, yakni di kantor reje, hujan rintik-rintik. Langit pun mulai ditutupi kabut putih. Jarum jam menunjukan pukul 18.00 WIB lewat. Suara petir menggelegar. Sesekali angin bertiup kencang. Udara dingin mulai menusuk setiap relung tubuh, sehingga sore itu pun giliran mandi sore terlewatkan begitu saja. Dan, karena situasi semakin gelap akhirnya saya putuskan untuk bermalam di Amor. Tak mungkin lagi saya kembali ke Bireuen.

Bakda shalat Isya, kami tak langsung tidur, melainkan duduk berbincang bersama Pak Reje, Ibu Reje, dan beberapa tokoh masyarakat. Sambil kami memperkenalkan diri satu per satu, reje dan warga setempat menjamu kami dengan kopi panas, gorengan, dan bakong ijo (tembakau khas Amor) persembahan warga. Beberapa warga bahkan memimjamkan kami peralatan masak dan alas tidur. Semua ini makin menambah kehangatan persaudaraan pada pertemuan pertama kami di Amor, nama yang diadopsi dari nama Dewa Asmara dalam mitologi Yunani.

Perasaan capek sejak siang kini berubah menjadi kehangatan karena kami disambut penuh kekeluargaan di malam yang dingin ini. Tanpa terasa perbincangan pada malam pertama di Amor memakan waktu hampir tiga jam. Perbincangan yang mengasyikkan dan menghanyutkan. Jarum jam terus berjalan, embusan angin dingin tak kunjung berhenti. Persahabatan yang baru terjalin pun terus mengeluarkan aroma harum, seharum wanginya aroma seduhan kopi Gayo. Malam pun semakin larut, hawa dingin terus merangsek ke setiap kain yang membalut tubuh kami.

Malam pertama di Amor menjadi kenangan tersendiri bagi saya dan mahasiswa yang ditempatkan di kampung ini. Ada anggota kelompok mahasiswa yang tak bisa memejamkan mata malam itu karena tidak terbiasa dengan dinginnya malam hari, meskipun balutan selimut dan jaket begitu tebal menutupi seluruh tubuh. Dinginnya udara Amor malam itu membuat tubuh terasa membeku.

Malam itu jarum jam menunjukkan pukul 24.00 lewat, akhirnya Pak Reje dan beberapa warga pamit pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Kami juga beristirahat dan bergegas untuk bobok, tanpa menghiraukan segala aksesori yang ada pada pakaian dan tubuh. Masing-masing kami merebahkan badan di atas tikar dan ambal yang diberikan reje. Lokasi tidurnya pun sudah dikapling-kapling. Mahasiswi tidur di dalam ruang kantor yang telah disulap jadi kamar bercorak minimalis alami, sedangkan mahasiswa tidur di balai depan kantor yang menjadi istana sementara bagi peserta KKM Umuslim.

Alas tidur hanya lembaran tikar dan ambal, sedangkan bantal disulap dari gumpalan kain dan tas yang dibentuk menyerupai bantal. Semua perlengkapan tersebut seakan-akan pelaminan kasab emas yang dipakai saat prosesi pesta adat perkawinan untuk dipersembahkan kepada seorang permaisuri. Beralaskan tikar dan ambal sederhana sebagai pengganti springbed, tanpa terasa proses perjalanan bobok malam pertama ditemani embusan angin malam puncak Amor begitu kencang, sempat mengkhawatirkan ternganggunya perjalanan tidur kami. Kondisi itu ternyata bukan hambatan, buktinya semua kami akhirnya tertidur di puncak Amor.

Subuhnya cuaca terasa semakin dingin. Kokok ayam dan gonggongan anjing di pagi itu tidak terdengar. Saat satu per satu kami bangun untuk shalat Subuh, badan rasannya sangat berat bangkit dari tempat tidur. Suhu dingin bagai memenjara kami di tempat tidur. Tapi saya pikir, ini pasti ulah iblis yang menggoda kami agar lalai dari kewajiban shalat Subuh.

Akhirnya, dengan “tendangan 12 pas” saya bangkit mengalahkan godaan iblis dan langsung bergerak ke kamar mandi untuk berwudhuk. Saat semuanya bangun dari tempat tidur saya perhatikan hampir semua mahasiswa mengenakan dua lapis jaket, seperti gaya orang hendak ke kebun. Di leher mereka terlilit kain sarung, bagaikan syal.

Setelah shalat Subuh dan sarapan pagi, saya akhirnya pamit untuk kembali ke Bireuen. Saya tinggalkan para mahasiswa Umuslim untuk melaksanakan KKM selama 29 hari ke depan di Kampung Amor dan sekitarnya. Saya bayangkan, bukan tantangan kerja nyata di siang hari yang berat bagi mereka, tapi justru sergapan hawa dingin di malam hari yang justru lebih berat.

Semoga semua mahasiswa kami mampu bertahan di Amor, desa dengan perlambang cinta yang membara, tapi dilingkupi udara yang demikian dinginnya. Nah, Anda ingin menikmati dinginnya cuaca di gunung yang perawan dan suasana pagi dengan mulut berasap? Silakan datang ke Amor.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved