Opini

Menguniversalkan Bahasa Aceh, Mungkinkah?

BAHASA universal adalah bahasa yang dapat digunakan secara global sebagai sarana komunikasi. Pembentukan bahasa universal bertujuan memperkecil

Menguniversalkan Bahasa  Aceh, Mungkinkah?
IST
Azwardi Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Demikian juga dengan penggunaan bentuk-bentuk persesuaian pronomina (agreement) yang terpisah dari bentuk dasarnya. Contohnya, tabaca ditulis ta baca; tatuleh ditulis ta tuleh; geu-ucap ditulis geu ucap; lonyakin ditulis lon yakin; aneukgeuh ditulis aneuk geuh; jibahue ditulis ji bahue; kukoh ditulis ku koh, neuba ditulis neu ba; dan lain-lain. Belum lagi berkaitan dengan pemakaian tanda dikritik (ö [trema], ô [macron], é [aigu accent], è [grave accent], ‘ [apostrof]).

Kesadaran berbahasa
Bukankah kesadaran berbahasa merupakan sikap utama yang harus dijunjung oleh pemilik atau pemakai suatu bahasa, di samping kesetiaan dan kebanggaan terhadap bahasanya? Kesadaran berbahasa akan terwujud bila aturan-aturan terkait dengan pemakaian bahasa yang baik dan benar telah tersepakati, tersusun, dan tersedia dalam masyarakat pemakain bahasa tersebut. Terkait dengan hal ini, perhatikan masyarakat Sunda misalnya, boleh dikatakan mereka telah memiliki sikap yang baik terhadap bahasa daerahnya.

Betapa tidak, melalui kebijakan pemerintah daerah (peraturan gubernur) bahasa Sunda sudah sekian lama menjadi mata pelajaran yang sistematis di sekolah-sekolah; jelas bidang studinya, jelas gurunya, jelas kurikulumnya, jelas perangkat pembelajarannya, dan jelas buku-bukunya (buku paket, buku bacaan, buku referensi, dan buku pengayaan lainnnya). Di samping itu, umumnya masyarakat Sunda setia dan bangga menggunakan bahasa ibunya meskipun dalam pergaulan modern sampai di pusat-pusat kota.

Berbeda dengan BA, sebagai mata pelajaran muatan lokal di Aceh, BA hingga kini terkesan “bagai kerakap tumbuh di batu; hidup enggan mati tak mau”. Jangankan berharap pelajaran BA diajarkan secara sistematis di sekolah-sekolah; jelas bidang studinya, jelas gurunya, jelas kurikulumnya, jelas perangkat pembelajarannya, dan jelas buku-bukunya, pembukaan program studi Bahasa Daerah Aceh di universitas pun hingga kini belum ada yang tertarik menginisiasi atau memperjuangkannya.

Bahasa dalam perkembangannya sangat potensial bercampur. Maka, interferensi antarbahasa merupakan hal yang biasa. Dalam berbahasa (berkomunikasi), khususnya bahasa lisan, interferensi, baik berupa alih kode (code switching) maupun campur kode (code mixing) merupakan sesuatu yang diperlukan. Apalagi bila dalam bahasa yang kita gunakan belum atau tidak ada bentuk bahasa atau terminologi yang dapat mewakili konsep yang sedang kita sampaikan secara padan. Dalam berbahasa Aceh misalnya, tidak perlu kita paksakan supaya ujaran yang kita ucapkan harus semua kosakata asli BA (karena kosakata BA juga merupakan turunan-turunan bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Melayu, bahasa Belanda, dan lain-lain).

Bila hal itu kita pertahankan, komunikasi yang terbangun sangat kaku, dan itu tidak komunikatif. Yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita tetap setia, bangga, dan sadar menggunakan BA sebagai bahasa ibu kita, dan secara aktif dan dinamis terus menggunakannya walau bukan dalam nuansa warna bahasa seperti yang dipakai endatu kita pada zamannya. Terlalu menutup diri dengan kosakata serapan akan membuat bahasa kita semakin terkucil dan terpencil dalam percaturan komunikasi global.

Andai keegoan dapat dikesampingkan, mungkin kini BA sudah universal, minimal universal dalam skop Aceh, sehingga penggunaan BA ragam tulis yang cilamalum (tidak seragam) dapat diminimalisasi. Andai Pemerintah Aceh mau menginisiasi suatu pertemuan permufakatan bahasa semacam “Kongres Bahasa Aceh”, dapat juga tercipta atau terbarui produk kebahasaan Aceh (seperti kamus, pedoman ejaan, tata bahasa, dan bacaan-bacaan pengayaan yang mutakhir) yang dapat dipakai oleh masyarakat luas di Aceh, seperti anak sekolah, santri dayah, warga kampus, dan anggota keluarga, tentunya kebangkitan semangat menggunakan bahasa Aceh yang baik dan benar akan segera berkobar di Aceh. Homhai. (azwardani@yahoo.com)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved