Petani Panteraja Andalkan Mesin

Untuk mengalirkan air ke sawah, petani di Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya, sudah berbilang tahun masih mengandalkan mesin pompa

Petani Panteraja Andalkan Mesin
Tiga petani dari Kenukiman Gampong Lhang Tijue, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, menggali sumur bor diareal persawahan guna mengaliri lahan padi yang didera kemarau panjang sejak satu bulan terakhir, Kamis ( 14/7). Usaha tersebut untuk mengatasi gagal panen musim gadu. SERAMBI / IDRIS ISMAIL 

* Untuk Mengaliri Sawah

MEUREUDU - Untuk mengalirkan air ke sawah, petani di Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya, sudah berbilang tahun masih mengandalkan mesin pompa. Sementara irigasi teknis di Jiemjiem, Kecamatan Bandarbaru, tak mampu menyuplai ke lahan kawasan itu. Walaupun begitu, sejak tiga tahun terakhir mereka panen tepat waktu. Nasib yang sama dialami petani Kecamatan Trienggadeng. Sungguh pun sawah sering krisis air, tapi keserentakan tanam patut diacungi jempol.

Di Panteraja, penyedotan air menggunakan pembangkit atau mesin yang diletakkan di pinggir sungai, lalu dialirkan ke sawah melalui saluran. “Penggunaan air dikenakan biaya per satuan luas,” kata sejumlah petani Gampong Masjid dan Gampong Teungoh Panteraja kepada Serambi, Sabtu (20/4). Pengutipan dana oleh petugas dilakukan setelah panen.

Setiap satu naleh (0,25 ha) luas sawah luas, maka dikenakan retribusi 70 kilogram gabah. Atau jika dihitung dengan uang sekitar Rp 300.000 per naleh. “Berat memang, tapi apa boleh buat. Nasib kami di Panteraja yang sudah berpuluh tahun,” kata seorang petani dengan prihatin. Lahan yang dialiri pakai mesin luasnya kurang lebih 40 hektare. Air dialiri mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB atau disesuaikan dengan kondisi alam.

Jika musim hujan tiba, petani bisa bernapas lega karena air tidak perlu disedot dari sungai. Tapi kalau musim kemarau atau hujan tak kunjung turun, setiap hari air dialiri ke sawah memakai mesin. Tidak hanya Gampong Masjid, petani Tunong Panteraja, juga sudah belasan tahun mengairi sawah menggunakan mesin.

Mesin pembangkit juga diletakkan di pinggiran sungai dan digunakan saat turun ke sawah. Jika sebelumnya petani di sana menggunakan mesin yang dibeli secara swadaya, belakangan mereka pakai mesin bantuan pemerintah melalui Distan.

Kabid Perluasan Areal Distan Pidie Jaya, Ir Mahdi, membenarkan bahwa petani Panteraja sudahsekian lama menggunakan mesin untuk mengairi sawah. Pun demikian, lanjut Mahdi, dari segi ketepatan waktu patut diacung jempol, terutama sejak tiga tahun terakhir. Petani Kecamatan Trienggadeng juga begitu. Malah pada musim gadu 2019 ini, sebagian petani Trienggadeng sudah tanam. Sebaliknya, petani Meureudu dan Meurahdua yang sumber airnya melebihi, justru sering terlambat.

Kabid Pengairan Dinas PU Pijay, Horizal yang dikonfirmasi Serambi membenarkan bahwa air dari daerah irigasi Cubo sangat terbatas mampu disuplai ke Panteraja. Tapi, untuk Trienggadeng lumayan luas dapat dialiri. Kabid Pengairan membantah jika disebut-sebut Meureudu dan Meurahdua termasuk sebagian Kecamatan Ulim terlambat tanam karena sering krisisi air. “Suplai air dari irigasi Blang Awe/Seunong serta irigasi Beuracan lumayan lancar setiap musim tanam,” kata Hori.(ag)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved