Perburuan Burung Liar di Aceh Tengah Merajalela, Warga Minta Dihentikan

Maraknya perburuan burung liar di kawasan Kabupaten Aceh Tengah, menuai protes dari sejumlah kalangan, khususnya para penggiat lingkungan. Pasalnya ..

Perburuan Burung Liar di Aceh Tengah Merajalela, Warga Minta Dihentikan
Martin Le May
Musang (Mustela nivalis) menunggang burung pelatuk (Picus viridis) dalam foro Martin Le May. 

Perburuan Burung Liar di Aceh Tengah Merajalela, Warga Minta Dihentikan

Laporan Mahyadi | Aceh Tengah

 

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON – Maraknya perburuan burung liar di kawasan Kabupaten Aceh Tengah, menuai protes dari sejumlah kalangan, khususnya para penggiat lingkungan. Pasalnya, habitat burung liar yang hidup daerah berhawa sejuk itu, terancam punah lantaran tidak terkontrolnya perburuan menggunakan senapan angin.

Baca: Jenazah Muhammad Ikram, Tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda

Baca: Tim Medis Aceh Tengah Cek Kondisi Kesehatan Petugas Penyelenggara Pemilu, Siapa Saja Mereka

Baca: Dukung Faul, Ketua dan Wakil Ketua Dekranasda Gayo Lues, Hadir ke Indosiar

Disisi lain, untuk mendapatkan senapan angin tidak terlalu sulit lantaran dijual bebas di sejumlah toko di Kota Takengon. Maraknya perburuan burung liar ini, dinilai bisa mengancam keberadaan burung yang selama ini, dianggap sebagai salah satu pembasmi hama tanaman secara alami.

Seorang penggiat lingkungan, Win Ruhdi Bathin, kepada Serambinews.com, Rabu (24/4/2019) mengatakan, mudahnya mendapatkan alat berburu seperti senapan angin yang telah dilengkapi dengan scoop atau teropong menjadi salah satu faktor meningkatnya perburuan burung liar.

“Jadi, harus ada semacam regulasi yang mengatur penggunaan senapan angin ini,” kata Win Ruhdi Bathin.

Menurut Win Ruhdi Bathin, sebagian besar kawasan Aceh Tengah, merupakan lahan hutan, perkebunan serta pertanian. Di dalam kawasan ini, didiami beragam jenis burung, bahkan ada yang tidak ditemui habitatnya di daerah lain.

“Kalau perburuan ini, tanpa ada kontrol tentu dampaknya akan besar terhadap habitat burung,” jelasnya.

Keberadaan burung liar, lanjutnya, bukan hanya dilihat dari sisi spesies tetapi juga keberadaan burung menjadi salah satu pembasmi hama alami. Ada beberapa jenis burung yang memakan hama tanaman, sehingga tidak semua harus menggunakan pestisida.

“Kita khawatir, bila terus menerur diburu, beberapa spesies burung ini akan punah,” lanjut Win Ruhdi Bathin.

Ironisnya lagi, sebagian burung-burung yang telah ditembak menggunakan senapan angin, tidak semuanya diambil oleh pemburu karena lokasi jatuhnya burung tidak bisa dijangkau sehingga dibiarkan mati begitu saja.

“Kita menginginkan agar ada aturan, jenis burung apa saja yang bisa diburu. Jangan asal tembak, tapi setelah mati ditinggalkan,” pungkasnya. (*)

    

Penulis: Mahyadi
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved