Opini

Ramadhan dan Gairah Politik

TANPA terasa, bulan suci Ramadhan kembali menyapa kita. Maka bergembiralah kita sebagai hamba pilihan yang masih

Ramadhan dan Gairah Politik
IST
Abd. Halim Mubary, M.Kom.I, Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, IAI Al-Aziziyah Samalanga dan penghulu pada KUA Kecamatan Makmur, Bireuen

Maka dari sinilah nantinya akan muncul keutamaan puasa Ramadhan, sebagai pembentuk insan yang paripurna dalam menjalankan perintah Allah tanpa sifat ria dan sombong sedikit pun di dalamnya. Beda halnya dengan ibadah lainnya seperti shalat, zakat, sedekah, dan berhaji yang terkadang di dalamnya terselip ria dan sum’ah. Karena keinginan untuk dipuji oleh orang lain, sebagai satu sifat manusia yang belum dapat kita cegah kehadirannya. Sifat ria tergolong dalam dalam syirik khafi, sebagaimana Rasulullah pernah bersabda, “Akan aku kabarkan kepadamu dari apa yang aku takutkan atasmu dari syirik khafi yaitu berdirinya seseorang, lalu mengerjakan shalat, kemudian diperindahnya bacaan dan gerakan shalatnya, hanya karena ada orang di sekitarnya yang melihatnya.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi).

Membatasi debat
Ramadhan kali ini, kita sedang berada di tahun politik 2019. Kontestasi elektoral yang baru digelar pada 17 April lalu, memang belum selesai. Ribut-ribut hasil quick count (hitung cepat) oleh sejumlah lembaga survei ternama, tak pelak telah menimbulkan gejolak politik baru. Karena ketidakpercayaan atas hasil survei, maka klaim kemenangan pun tak terhindari oleh peserta pilpres. Sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu, baru akan mengumumkan hasil real count (penghitungan manual) pada 22 Mei 2019, yang masih berada di bulan Ramadhan.

Polarisasi dan terbukanya opini publik akibat bias kontestasi politik, seharusnya jangan terus diperuncing oleh komentar-komentar para pendukung paslon capres baik di media sosial, maupun di media mainstream. Padahal di bulan Ramadhan kita akan lebih mendekatkan diri kepada Allah lewat beragam ibadah wajib dan sunnah. Ceramah-ceramah agama pun akan menghiasi bulan suci setiap hari. Baik di mimbar-mimbar rumah ibadah, maupun di media elektronik.

Namun di lain sisi kita tentu tidak ingin terus-menerus di “teror” oleh informasi di media sosial yang tidak mengenal “puasa” dalam menyebarkan berita hoaks. Demikian juga dengan para politisi dan pendukung paslon capres, yang terus menjadi “corong” untuk saling menghantam lawan politik. Lihat saja acara talk show politik di stasiun televisi, para pendukung capres yang tetap bergeming dengan membangun narasi politik yang terkadang keblablasan. Mungkin mereka lupa, jika Allah bukan saja menyuruh kita berpuasa menahan lapar dan haus, namun juga harus mampu puasa dari ghibah dan saling hujat.

Mari sejenak untuk melepaskan “topeng politik” kita. Atau jika memang debat politik sebagai satu program untuk mendongkrak rating televisi, maka stasiun bersangkutan harus membatasi debat-debat politik yang lebih banyak mengumbar perseteruan dan debat kusir. Sebab jika sudah dihadapkan dalam sebuah forum, pasti mereka tidak akan bisa melihat lagi sesuatu secara objektif. Mereka pasti akan membela jagoannya, kendatipun melampaui nalar akal sehat. Bahkan etika dan norma politik juga akan tetap tergerus, walaupun di bulan suci Ramadhan.

Jika hal ini tetap terjadi, berarti para petualang politik telah mencederai bulan suci ini dengan sikap dan perilaku yang melanggar rasa keikhlasan dalam beribadah puasa. Oleh karenanya, para politisi dan juru bicara masing-masing paslon, harus bisa menjaga kesucian Ramadhan ini nantinya dengan tetap mengedepankan nilai-nilai persaudaraan dan persatuan.

Sedangkan keikhlasan sejatinya hanya dapat digapai dengan meninggalkan khianat, rasa iri, dan dengki. Bagaimanapun, segala amalan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya rasa keikhlasan. Sehingga jika puasa Ramadhan sudah dipergunakan untuk tujuan lain, bukan lagi sebagai ladang amalan, maka yang diperoleh kelak hanyalah sebuah kesia-siaan. Padahal, Ramadhan seharusnya dapat mencairkan hati yang beku, meluruskan akidah, dan menisbikan iri dan dengki. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved