Dampak Angin Kencang, Tangkapan Nelayan Abdya Berkurang

Sepanjang April ini, nelayan terkendala melakukan aktivitas penangkapan ikan di laut akibat angin kencang diikuti gelombang tinggi.

Dampak Angin Kencang, Tangkapan Nelayan Abdya Berkurang
Serambinews.com
Sejumlah warga berbaur dengan penggalas ikan (mugee) di Pantai Ujong Serangga, Susoh, Kabupaten Abdya, Minggu (28/4/2019) untuk membeli ikan basah. 

Laporan Zainun Yusuf | Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Pada Februari sampai akhir Maret lalu, ikan tongkol hasil tangkapan nelayan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) melimpah.

Namun hampir sepanjang April ini, nelayan terkendala  melakukan aktivitas penangkapan ikan di laut akibat angin kencang diikuti gelombang tinggi. 

Persediaan ikan basah yang terbatas pun memicu meningkatnya harga di pasaran.

Harga ikan pun diperkirakan terus naik hingga memasuki hari meugang puasa yang hanya tinggal beberapa hari lagi.

Sejak pekan pertama bulan April ini, ikan tongkol hasil tangkapan nelayan mulai berkurang dan harga pun mulai merangkak naik.

“Satu keranjang isi 30 kilogram, ikan tongkol ukuran kecil dijual Rp 450 ribu sampai Rp 475 ribu,” kata Panglima Laot Abdya, Hasanuddin kepada Serambinews.com, Minggu (28/4/2019).

Padahal, Maret lalu, satu keranjang isi 30 kg ikan tongkol dijual nelayan berkisar Rp 270.000 sampai Rp 300.000. 

Untuk ikan tongkol jenis siseik, satu keranjang dijual nelayan antara Rp 900 ribu sampai Rp 1 juta lebih.

Sementara pada Maret lalu, harganya tidak lebih Rp 500 ribu per keranjang.

Harga ikan basah yang melonjak tinggi saat ini, yakni ikan karang yang dijual antara Rp 150 ribu sampai Rp 200.000 per ikan (satu ikat sekitar 9 ekor  anakan ikan karang).

Panglima Laot, Hasanuddin menjelaskan, biasanya nelayan dari Abdya yang menggunakan boat unjam menangkap ikan sampai ke kawasan Pulau Simeulue.

Karena jika terjadi angin kencang, sejumlah boat bersama  awak nelayan bisa berlindung di beberapa pulau di sekitar Pulau Simeulue.

Namun, untuk saat ini, nelayan lebih memilih tidak turun melaut, karena angin kencang dan gelombang tinggi yang terjadi secara terus-menerus.(*) 

Baca: Rumah Berkontruksi Kayu Terbakar di Lambaro Tunong Aceh Besar

Baca: Pecinta Xpander yang Tergabung dalam MIXI Aceh Touring ke Pantai Penyu Lhoknga

Baca: WH Kejar ABG Lelaki Berbaur Dengan Perempuan, Sering Balap Liar di Jalan Islamic Center Langsa

Penulis: Zainun Yusuf
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved