Kemenangan Rakyat Aceh

Meski pelaksanaan rekapitulasi belum usai, namun masing-masing partai politik (parpol) mulai menghitung-hitung

Kemenangan Rakyat Aceh
IST
BAKHTIAR ABDULLAH, Mantan Juru Runding GAM

* Pengamat: Parlok Masih Dipercaya

BANDA ACEH - Meski pelaksanaan rekapitulasi belum usai, namun masing-masing partai politik (parpol) mulai menghitung-hitung perolehan kursi di DPRA pada Pemilu 2019. Hasil sementara, partai lokal (parlok) mampu membuat kejutan.

Dari 81 kursi DPRA, sebagian kursi diprediksi berasal dari gabungan parlok. Seperti Partai Aceh mengklaim telah memperoleh 24 kursi, Partai Nanggroe Aceh (PNA) mengklaim mendapat 7-8 kursi, Partai SIRA mengklaim lima kursi dan Partai Daerah Aceh (PDA) mengklaim empat kursi.

Jika raihan kursi itu benar adanya, maka total perolehan kursi parlok di parmelen Aceh mencapai 40-41 kursi. Mantan Juru Runding GAM, Bakhtiar Abdullah, menilai ini sebagai sebuah kemenangan bagi rakyat Aceh. “Ini adalah kemenangan rakyat Aceh,” katanya sebagaimana tanggapan tertulis yang diterima Serambi, Sabtu (27/4), menanggapi berita di harian ini sebelumnya berjudul: ‘PA Masih Kuasai DPRA’.

Ia menjelaskan, lahirnya partai-partai lokal telah memperkuat kepentingan Aceh secara umum dan memberikan kesempatan yang besar kepada putra-putri Aceh untuk berkiprah dalam politik. “Keberadaan partai-partai lokal turut memperkuat perdamaian yang telah dicapai dan berhasil memperjuangkan hak-hak rakyat yang selama ini banyak diabaikan,” ujarnya.

Selama ini ia melihat, berbagai rintangan dan halangan telah diciptakan untuk melemahkan partai-partai lokal. Karena itu ia mengapresiasi sikap masyarakat Aceh yang memilih dan memenangkan partai-partai lokal dalam Pemilu 2019 kemarin.

Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan partai-partai lokal yang diwarnai oleh spirit GAM telah mengharumkan nama Aceh di tingkat regional dan internasional, dan menjadi salah satu rujukan tegaknya demokrasi setelah konflik yang berkepanjangan.

Hal senada juga disampaikan akademisi Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), Dr Taufiq A Rahim. Dominasi parlok dalam perolehan kursi di DPRA menandakan bahwa rakyat Aceh masih mempercayai parlok.

“Ini bermakna masih adanya asa ataupun harapan sebagian rakyat Aceh yang menghendaki parlok mesti berperan penting terhadap berbagai keputusan peting politik di Aceh,” kata Taufiq.

Kepercayaan itu diberikan rakyat juga bagian dari konsekwensi politik logis dimana parlok dipahami sebagai turunan MoU damai pasca-konflik Aceh yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). “Terutama berkaitan dengan kekhususan Aceh serta perubahan kehidupan rakyat Aceh sesuai dengan butir-butir perjanjian damai tahun 2005. Sebab parlok ini hanya ada di Aceh,” tambahnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved