Opini

Aceh, Brexit, Trump, dan Musabaqah Koaks

MENYANDINGKAN Aceh dengan Brexit dan Trump dalam satu kalimat kelihatannya tidak hanya seperti main-main, namun juga terkesan sombong.

Aceh, Brexit, Trump,  dan Musabaqah Koaks
IST
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, M.A. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.

Politik post truth
Paling kurang ada tiga kata kunci penjelasan tentang fenomena Brexit dan kemenangan Donald Trump adalah apa yang disebut dengan politik post truth. Terjemahan apa adanya tentang kata post truth adalah politik pasca-kebenaran, sedangkan arti yang sesungguhnya adalah kebenaran yang berlebih, atau kebenaran yang diada-adakan, diciptakan.

Menurut Kamus Oxford, fakta dalam idiom post-truth, tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding dengan emosi dan keyakinan personal. Batas kepalsuan dan kebenaran telah dikaburkan dengan seksama. Fakta dan opini dicampur, dan seringkali peristiwa-peristiwa kecil dibesar-besarkan. Ketika politik post truth terkait dengan internet, persoalannya menjadi lebih kompleks. Internet adalah media bebas nilai, sedangkan politik adalah sarana kepentingan mendapatkan kekuasaan.

Ketika politisi menggunakan strategi post truth, maka media sosial, akan menjadi mesin penyembur kebohongan yang tidak hanya masif, tetapi juga berkelanjutan. Ketika Trump menyatakan migran Islam adalah musuh terbesar Amerika, dikaitkan dengan peristiwa terorisme, yang disentuh adalah emosi publik. Beberapa kasus teroris Islam yang membuat rakyat Amerika terbunuh dibesar-besarkan, dan itu menyentuh emosi publik dan keyakinan personal sebagian warga.

Emosi publik itu mampu mengalahkan fakta tentang jutaan warga muslim AS yang, yang baik, seperti tentara, polisi, pejabat publik dan lain lain. Lebih dari itu, warga AS yang terbunuh akibat terorisme, ternyata hanya zarrah kecil dari jumlah kematian warga dengan senjata sebagai konsekuensi dari hukum kebebasan memiliki senjata api di AS.

Kejadian yang sama juga terjadi sebelumnya ketika referendum Ingris keluar dari Uni Eropa. Para penggagas Brexit menyebarkan kebohongan melalui media tentang 76 juta pekerja Turki yang akan masuk ke Inggris dan mengambil alih semua pekerjaan. Emosi publik terbakar, dan mereka lupa bahwaa Turki belum diterima menjadi anggota Uni Eropa dan bahkan tidak berpeluang untuk diterima. Baik Brexit, maupun Trump memenangkan kepercayaan publik, dengan segala konsekwensi yang dihadapi hari ini.

Hoaks dan fake news
Istilah hoaks dan berita bohong (fake news) adalah anggota inti dari keluarga besar politik post truth. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks mengandung makna berita tak jelas, berita tidak bersumber. Ia lebih merupakan sebagai rangkaian informasi yang secara sengaja disesatkan, dan ditampilkan sebagai kebenaran. Sepupu hoaks adalah berita palsu (fake news) yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang, berasosiasi dengan agenda politik tertentu, tidak memiliki landasan faktual, namun disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Ketika berbagai hoaks dan berita bohong diracik khusus untuk menyentuh emosi publik disebarkan via media sosial, segera ia akan menjadi viral, dan seringkali menjadi bagian dari “iman” dari sang penerima. Harus diakui dengan jujur bahwa referensi mayoritas pemilih Pilpres 2019 adalah handphone, sangat sedikit melalui media cetak, termasuk telivisi. Alur komunikasi kampanye konvensional telah tergantikan oleh berbagai merek Android dan jaringan digital.

Sebuah penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan bahwa Aceh bersama dengan tiga provinsi lain di Indonesia, Jawa Barat, Banten, dan Sumatera Barat dimasukkan dalam empat besar “provinsi hoaks nasional”. Disebutkan pula hoaks yang sangat “laris manis” di Aceh adalah calon presiden komunis, kriminalisasi ulama, dan serbuan jutaan pekerja gelap Cina. Temuan penelitian LIPI setidaknya telah terkonfirmasi dengan hasil Pilpres, walaupun masih harus menunggu kebenaran yang sahih secara ilmiah.

Mengomentari temuan itu dan hasil sementara Pilpres 2019, seorang teman akademisi di Darussalam menyatakan kepada saya, untuk mengingatkan masyarakat Aceh kepada hoaks di berbagai kontestasi politik di masa depan, sebaiknya diadakan saja Musabaqah Hoaks Nasional di Aceh.

Dia menambahkan, di tengah miskinnya prestasi daerah, mejadi juara Musabaqah Hoaks Nasional paling kurang membuat orang “ingat” tentang Aceh. Seandainya benar Aceh juara umum hoaks, pasti Aceh akan menang di semua kategori; pria dewasa, wanita dewasa, remaja putri, remaja putra, anak-anak putri dan putra. Ia berhenti sejenak, kemudian segera menambahkan, “oh iya, satu lagi biar komplit, tuna netra”. Saya diam, saya butuh waktu untuk berkomentar. (humamhamid@yahoo.com)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved