Dinas Pertanian Tanam Padi Organik

Dinas Pertanian dan Pangan Pidie akan menanam padi organik tanpa mengunakan pupuk kimia dan pestisida di Kecamatan Grong-grong

Dinas Pertanian Tanam Padi Organik
IST
KABID PSP Dinas Pertanian Bireuen, Dedi Suheri STP melihat demplot padi warga yang menggunakan Ground-E di Desa Lancok Bungo, Kecamatan Peulimbang, Bireuen.

* Cegah Penggunaan Pupuk Beracun

SIGLI - Dinas Pertanian dan Pangan Pidie akan menanam padi organik tanpa mengunakan pupuk kimia dan pestisida di Kecamatan Grong-grong dan Indrajaya. Penanaman padi organik sebagai percobaan untuk menghasilkan padi tanpa terkontaminasi dengan pupuk beracun dan pestisida yang selama ini dipakai petani dengan maksud menyuburkan tanaman.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie, Ir Syarkawi MSi, kepada Serambi, Sabtu (27/4) mengatakan, pada masa tanam gadu April hingga Agustus, Dinas Pertanian dan Pangan Pidie akan menanam padi organik di area lahan seluas satu hektare di dua kecamatan di Pidie, yaitu setengah hektare di Gampong Sentosa, Kecamatan Grong-grong dan setengah hektare di Indrajaya. Tanaman padi organik itu tidak menggunakan bahan kimia, baik untuk tanah maupun untuk tanaman.

Dikatakan, penanaman padi organik di dua kecamatan tersebut guna mengembalikan hasil panen padi yang bebas dari bahaya racun. Penanaman padi organik akan melibatkan petugas penyuluh pertanian, babinsa, dan petani. “Rencananya, Senin (29/4) kita akan mulai tanam perdana padi organik di Grong-grong, sebagai langkah awal mengubah perilaku petani. Petugas nantinya akan membuat pupuk organik dari daun tumbuhan. Petani juga akan disosialisasikan cara membuat pupuk organik dan teknik merawat tanaman padi organik tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setelah melakukan tanaman padi organik di dua kecamatan, dinas akan menganjurkan menanam padi organik di kecamatan lain seperti di Kecamatan Sakti, Mutiara, Mutiara Timur, Glumpang Tiga, Muara Tiga Sakti, Peukan Baro, Padang Tiji, Titeu, dan Keumala.

Dengan adanya tanam tanaman padi organik, kata Syarkawi, masyarakat tidak mengonsumsi beras yang telah terkontaminasi dengan racun pestisida dan pupuk kimia. Sehingga tubuh manusia akan terhindar dari serangan penyakit yang bersumber dari makanan. Tak heran, saat ini rumah sakit penuh dengan warga yang terserang berbagai penyakit. Salah satu faktor pemicu akibat mengonsumsi makanan menggunakan pupuk kimia dan pestisida.

“Kita ingin mengembalikan pada tempo dahulu, dimana petani tidak memakai pupuk kimia dan pestisida saat menanam padi di areal persawahan. Dengan begitu petani tidak perlu lagi membeli pestisida dan pupuk kimia yang sangat membahayakan tubuh manusia. Petani bisa menghemat biaya dalam mengelola tanaman padi. Sekarang kita sudah luar biasa menggunakan bahan kimia untuk tanaman padi dan lainnya. Kita membeli sayur di pasar tidak segar lagi,” demikian Syarkawi.(naz)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved