Ditanam Jernang, yang Tumbuh Rotan

Ini kisah unik yang dialami Kelompok Tani (Koptan) Usaha Mufakat di Gampong Tunong, Kecamatan Keumala, Pidie

Ditanam Jernang, yang Tumbuh Rotan
Buah jernang milik warga di Desa Timpleung, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya memiliki harga mencapai Rp 250 ribu/kilogram 

* Petani Pidie Ditipu

SIGLI - Ini kisah unik yang dialami Kelompok Tani (Koptan) Usaha Mufakat di Gampong Tunong, Kecamatan Keumala, Pidie. Dengan rasa gembira dan penuh yakin mereka tanami 5.000 bibit jernang (Daemonorops draco) bantuan sebuah dinas di Provinsi Aceh. Tak tanggung-

tanggung, mereka menanamnya di lahan seluas 15 hektare (ha). Tapi apa lacur, setelah beberapa bulan, yang tumbuh justru bukan jernang, melainkan rotan biasa.

Kini para petani itu baru sadar bahwa mereka tertipu. Penyedia bibit jernang–disebut juga Dragon’ Blood –diduga menyerahkan bibit jernang palsu kepada mereka sekitar 5.000 batang pada tahun 2014.

Ketua Koptan Usaha Mufakat Kecamatan Keumala, Marzuki, kepada Serambi, Minggu (28/4) menjelaskan, bibit jernang itu diberikan oleh Dinas Kehutanan Aceh kepada kelompok tani yang anggotanya berjumlah 25 orang.

Saat diserahkan, katanya, bibit jernang itu semuanya berada di dalam polybag. Bibit yang baru tumbuh dua helai daunnya itu sulit dikenali palsu atau asli. “Saat itu, penyedia bibit jernang meyakinkan kami bahwa bibit tersebut asli. Bahkan, mereka memaksa kami menandatangani penyerahan bibit jernang tersebut. Padahal, saya minta waktu dua hari untuk memastikan bahwa bibit jernang itu asli atau palsu. Tapi, penyedia bibit sedikit memaksa, sehingga saya langsung menandatanganinya,” ungkap Marzuki.

Menurutnya, setelah dilakukan proses tanda tangan penerimaan bibit jernang, pihaknya menyerahkan uang dari rekening kelompok tani kepada rekanan sebagai penyedia bibit. Dana di dalam rekening kelompok tani tersebut merupakan bantuan yang ditransfer dinas provinsi untuk pengadaan bibit jernang.

“Saya tidak ingat lagi besaran dana untuk pengadaan bibit jernang kala itu. Tapi, dalam RAB harga satu bibit jernang adalah 19.000 rupiah,” sebutnya.

Ia tambahkan, petani mengetahui bantuan bibit jernang itu palsu setelah ditanam di kebun, ternyata yang tumbuh rotan. Bahkan, kata Mazuki, rotan itu kini telah tumbuh setinggi tiga hingga lima meter.

Sebagian rotan malah telah dipotong petani karena kecewa merasa ditipu oleh rekanan penyedia bibit jernang. “Tak hanya itu, rotan tersebut juga sangat membahayakan petani jika terkena durinya saat petani berkebun,” ujarnya.

Marzuki mengaku sangat kecewa terhadap bibit jernang bantuan tersebut. “Padahal, kalau kami tidak ditipu, bibit jernang bantuan itu sudah panen dua kali. Kami belum melaporkan kejadian ini ke dinas, tapi kami akan segera melaporkannya. Saya juga belum memotong rotan di kebun saya sebagai bukti ketika nanti ada pemeriksaan lapangan bahwa bibit jernang yang disalurkan kepada kami sebetulnya adalah bibit rotan,” timpalnya.

Ia tambahkan, bantuan bibit jernang yang diberikan pihak provinsi itu bukan saja untuk petani di Pidie, melainkan juga untuk petani di Aceh Jaya, Nagan Raya, dan Pidie Jaya. “Kepada mereka diberikan bibit kernang asli. Hanya kepada petani di Pidie yang diberikan bibit palsu,” keluhnya.

Lokasi budidaya tanaman jernang seluas 15 ha itu berada sekitar 2 kilometer dari ruas jalan nasional. “Keinginan kami memanen jernang gagal. Sedangkan petani di Aceh Jaya, Nagan Raya, dan Pidie Jaya yang bersamaan waktunya dengan kami mendapat bibit bantuan, kini sudah panen,” pungkasnya.

Penelusuran Serambi ke berbagai literatur ternyata, jernang adalah nama lokal untuk famili palmae dengan nama Latin Daemonorops draco. Jernang merupakan buah dari beberapa spesies rotan, salah satu buah hasil hutan tanaman nonkayu yang telah lama diketahui sebagai komoditas ekspor. Di dunia perdagangan, buah ini dijuluki Dragon’s Blood karena warnanya yang merah marun.

Buah jernang digunakan sebagai bahan baku pewarna dalam industrsi marmer, alat-alat batu, keramik, cat, kertas, bahkan serbuk untuk pasta gigi. Jernang juga digunakan sebagai pewarna di tubuh (ornamental body) dan disukai pelukis karena mampu menghasilkan warna yang teduh dan menarik saat dioleskan di kanvas. (naz)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved