Panen Padi Abdya Tak Serentak

Panen padi Musim Tanam (MT) Gadu 2019 di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tidak serentak. Petani di beberapa lokasi mulai memanen padi

Panen Padi Abdya Tak Serentak
Serambi
Dua warga Pidie mengangkut hasil anen padi pada Musim Tanam (MT) rendengan 2019, Jumat (12/4/2019). SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL 

BLANGPIDIE - Panen padi Musim Tanam (MT) Gadu 2019 di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) tidak serentak. Petani di beberapa lokasi mulai memanen padi sejak beberapa hari terakhir, sementara di lokasi lain baru akan memanen pada awal Mei, bahkan di wilayah lainnya diperkirakan baru akan memanen pada awal Juni mendatang.

Panen MT Gadu 2019 yang tidak seragam dengan luas tanam 10.267 hektare (ha) di sembilan kecamatan dari Babahrot sampai Lembah Sabil, disebabkan oleh pananaman yang tidak serentak. Meskipun Pemkab Abdya sudah mencanangkan tanam serentak pada awal tahun 2019.

Amatan Serambi, Senin (29/4) kemarin, areal tanaman padi yang mulai dipanen berada di Blang Beuah, Gampong Pawoh, Kecamatan Susoh, dan Gampong Kuta Bahagia (Paya), Kecamatan Blangpidie. Petani daerah tersebut, melaksanakan penanaman sesuai jadwal yang sudah disepakti antara Pemkab Abdya dengan para Keujruen Blang.

Kegiatan panen juga mulai dilaksanakan beberapa petani Desa Ie Lhop, Kecamatan Tangan-Tangan. “Dalam minggu ini tepatnya awal Mei, tanaman padi di Gampong Tangan-Tangan Cut, Kecamatan Setia, juga mulai dipanen,” kata Syahrizal, warga Tangan-Tangan kepada Serambi.

Tanaman padi di Kecamatan Kuala Batee dan Jeumpa juga memasuki panen pada awal Mei atau pada bulan puasa. Sedangkan tanaman padi MT Gadu 2019 yang masih lama memasuki panen atau sekitar awal Juni mendatang yaitu di Kecamatan Manggeng, Lembah Sabil, dan Babahrot.

Seperti halnya pada MT Rendengan 2018/2019 lalu, kali ini petani menangani panen dengan memanfaatkan mesin pemotong padi (combine harvester). Alasannya, biaya lebih irit dibandingkan ongkos panen secara manual atau menggunakan sabit.

“Satu karung isi gabah yang dipanen dengan mesin potong dipungut biaya Rp 12.500. Sementara panen secara manual perlu biaya mencapai Rp 600.000 sampai Rp 700.000 untuk areal padi seluas satu naleh benih (1/3 ha),” kata Arman, petani dari Gampong Pawoh, Susoh.

Selain ongkos potong padi, juga dikeluarkan biaya pungut padi yang telah dipotong dari areal sawah, kemudian biaya perontok gabah dengan mesin perontok. Sedangkan panen menggunakan mesin potong, patani menerima gabah yang sudah diisi dalam karung.

Ada Sisi Baiknya
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, drh Nasruddin yang dihubungi Serambi, kemarin, mengakui kegiatan panen kali ini tidak serentak. Menurutnya, panen tidak serentak juga ada sisi baiknya, yaitu petani tidak berebut mesin potong padi yang jumlahnya masih terbatas. Mesin combine harvester yang siap digunakan saat ini sejumlah 23 unit, terdiri atas 13unit yang dikelola Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA) dan 12 unit dikelola kelompok tani.

Mesin pemotong sebanyak 23 unit tersebut bisa digunakan petani sesuai waktu panen. Saat ini, misalnya, mesin potong beroperasi di Kecamatan Susoh, Blangpidie dan Tangan-Tangan. Awal Mei bisa dimanfaatkan petani Kuala Batee, Jeumpa, dan Setia. Sedangkan petani Manggeng, lembah Sabil, dan Babahrot, bisa menggunakan mesin itu pada akhir Mei atau awal Juni mendatang.(nun)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved