Petani Krisis Air

Para petani di Kabupaten Aceh Tamiang terus mengalami krisis air untuk mengairi area kebun atau juga persawahan

Petani Krisis Air
Sawah milik petani kekeringan dikawasan Mane Kareung, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Kamis (27/7/2017). Sejak sepekan beberapa areal sawah dalam kota Lhokseumawe mengalami kekerigan sehingga membuat petani tidak bisa menanam. SERAMBI/ZAKI MUBARAK 

* Pemkab Aceh Tamiang Siapkan Mesin Pompa

KUALASIMPANG - Para petani di Kabupaten Aceh Tamiang terus mengalami krisis air untuk mengairi area kebun atau juga persawahan. Pemkab Aceh Tamiang telah mempersiapkan mesin pompa sebagai soluasi atas tidak adanya jaringan irigasi di area persawahan untuk mengatasi persoalan kekeringan yang menyebabkan tanaman padi mati.

Wakil Bupati Aceh Tamiang, HT Insyafuddin, Senin (29/4) menjelaskan rencana untuk mengatasi persoalan kekeringan di area persawahan sudah diserahkan kepada Dinas Pertanian untuk menanggulanginya. “Direncanakan, dalam dua tahun ke depan, pompanisasi ke area sawah sudah berfungsi, sehingga petani tidak lagi mengalami kekeringan,” harapnya.

Dia menjelaskan sistim pompanisasi ini sebagai alternatif pengganti jaringan irigasi, karena daerah ini sudah membangun irigasi, karena tidak ada air terjun. Disebutkan, konsep pompanisasi akan berfungsi saat musim pasang, sehingga air dapat ditarik ke area sawah.

“Air yang tergenang di saat pasang akan disedot dengan pompa, sehingga saat surut, air tetap terjaga ketersediaannya,” jelasnya. Sedangkan para petani meminta Pemkab Aceh Tamiang untuk mewujudkannya, bukan hanya wacana, karena selama ini, gagal panen terus mendera para petani akibat kekeringan.

Sebelumnya, Pemkab Aceh Tamiang sempat menjanjikan pembangunan saluran air di sejumlah titik persawahan. “Dari dulu, kendala para petani tetap pada ketersediaan, sehingga setiap musim kemarau, kita tidak berdaya, tidak ada solusi dan mudah-mudahan pompanisasi ini bukan lagi sekadar wacana,” kata petani di Karangbaru.

Sebelumnya, ratusan hektare area sawah di Kecamatan Karangbaru, Aceh Tamiang terendam banjir dan tanaman padi langsung mati, karena tidak langsung surut. Kondisi itu akibat buruknya sistem drainase di wilayah itu, sebagai salah satu penyebabnya.

Berdasarkan data Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Karangbaru, area sawah yang terendam banjir seluas 390 ha yang tersebar di sembilan kampung. Kondisi itu membuat para petani terancam rugi, karena sebagian besar tanaman sudah mati.

Ketua KTNA Karangbaru, Rinaldy Afrizal, Senin (3/12/2018) menyatakan jika tanaman padi sampai mati, maka total kerugian sekitar Rp 1,1 miliar. Dia mencontohkan, jika sawah gagal panen seluas 35 hektare, maka kerugian yang diperkirakan sekitar Rp 525 juta.

“Tidak surutnya genangan banjir di sawah, akibat parit di sekitar sawah tidak berfungsi, seperti tersumbat sampah sawit dan enceng gondok,” kata Rinaldy.(mad)

kondisi petani di aceh tamiang
* Saat kemarau, area sawah kekeringan
* Tidak ada pembangunan jaringan irigasi
* Karena tidak ada air terjun
* Saat musim hujan, sawah tergenang air
* Hanya saluran air di hamparan sawah
* Tersumbat sampah atau eceng gondok
* Pemkab beri solusi pompanisasi

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved