Presma UIN: Mahfud MD Harus Minta Maaf

Presiden Mahasiswa (Presma) atau Ketua BEM UIN Ar-Raniry, Rizki Ardial angkat bicara terkait penyataan Prof Mahfud MD

Presma UIN: Mahfud MD  Harus Minta Maaf
KOLASE/SERAMBINEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM
Kolase foto Presma UIN Ar-Raniry, Rizki Ardial dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. 

BANDA ACEH - Presiden Mahasiswa (Presma) atau Ketua BEM UIN Ar-Raniry, Rizki Ardial angkat bicara terkait penyataan Prof Mahfud MD yang mengategorikan Aceh sebagai salah satu daerah garis keras.

Menurut Rizki Ardial dalam keterangannya kepada Serambi kemarin, pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut tidak berdasar, Oleh karenanya, atas nama mahasiswa Aceh, Rizki mendesak Mahfud MD untuk meminta maaf.

“Mahfud MD harus meminta maaf atas pernyataannya yang menyebutkan beberapa daerah sebagai daerah garis keras, khususnya Aceh. Pernyataan Mahfud MD itu tidak mendasar, kita mempertanyakan apa maksud beliau mengatakan hal tersebut,” kata Rizki Ardial.

Dia tegaskan, keislaman dan karakteristik masyarakat Aceh jangan dihubung-hubungkan dengan situasi politik. “Oleh karena itu, sangat kita sayangkan seorang profesor yang juga mantan ketua Mahkamah Konstitusi mengeluarkan penyataan semacam itu,” katanya.

Secara konstitusi, lanjutnya, Aceh mendapatkan kekhususan dan keistimewaan untuk menjalankan syariat Islam secara kafah. Masyarakat Aceh hampir secara keseluruhan menganut agama Islam. “Namun tidak pernah kita dapatkan adanya upaya-upaya pengislaman bagi nonmuslim secara keras di Aceh, kita sangat menghormati agama lain, buktinya masih ada nonmuslim yang hidup berdampingan dengan umat Islam di Aceh,” katanya.

“Jadi, dari sudut pandang yang bagaimana beliau berani mengatakan bahwa Aceh salah satu daerah penganut Islam garis keras?” tanya Rizki Ardial.

Memang, katanya, dulu Aceh pernah terjadi konflik, tapi itu bukan konflik agama, bukan konflik antara muslim dengan nonmuslim, melainkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia. “Namun setelah terjalinkan kesepakatan damai, janganlah kekerasan ini dihubung-hubungkan dengan hal lain. Kalau kita sudah sepakat berdamai, jangan katakan lagi kita garis keras, kalau memang kita masih dianggap garis keras maka mungkin perdamaian itu tidak akan pernah terjadi,” katanya.

“Jadi pandanglah Aceh jangan hanya dari hal itu saja, tapi pandanglah Aceh dengan rakyatnya yang ramah, bersahabat, dan mencintai perdamaian dan Islam itu rahmatallil alamin,” pungkas Rizki Ardial.

Sebelumnya, Anggota DPR RI asal Aceh, M Nasir Djamil MSi juga menyesalkan pernyataan Prof Dr Mahfud MD yang menurutnya pelabelan Islam garis keras kepada rakyat Aceh itu adalah bentuk penghinaan dan tuduhan yang tidak berdasar.

“Oleh karena itu, Mahfud MD wajib minta maaf kepada rakyat Aceh,” kata M Nasir Djamil sembari mengingatkan bahwa sejumlah komponen masyarakat Aceh saat ini bersiap-siap menempuh jalur hukum terkait pernyataan Mahfud MD tersebut. (dan)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved