Prof Farid Wajdi Kritik Mahfud MD

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA

Prof Farid Wajdi Kritik Mahfud MD
SERAMBI/SUBUR DANI
Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA 

BANDA ACEH - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA, ikut mengkritik mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, terkait pernyataannya yang mangategorikan Aceh sebagai salah satu provinsi garis keras dalam hal keagamaan di Indonesia.

Prof Farid Wajdi secara langsung mengirim pesan WhatsApp kepada Mahfud MD, Selasa (30/4) pagi, sebelum Mahfud MD mengklarifikasi pernyataannya itu saat dijumpai mahasiswa Aceh di Yogyakarta. “Iya kemarin pagi, saya kirim pesannya kepada Pak Mahfud. Saya lihat pesannya terbaca, tapi beliau tidak membalasnya,” kata Farid Wajdi saat dikonfirmasi Serambi, kemarin.

Serambi secara khusus menghubungi Prof Farid, guna memastikan apakah benar dirinya mengirim pesan kepada Prof Mahfud MD? Karena, bunyi pesan yang dikirim Farid ke Mahfud MD tersebut tersebar di sejumlah grup WhatsAap sejak kemarin malam. “Benar, itu pesan yang saya kirim kepada Pak Mahfud MD,” aku Prof Farid Wajdi.

Terkait pernyataan ‘provinsi garis keras’, Prof Farid menyebut Mahfud MD hipokrit. Menurut Farid, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu bersikap ganda, bahkan Farid berani menyebutnya bermuka dua. “Dalam kaitan politik bisa saja kita sebut hipokrit karena beliau saya tuduh bersikap ganda atau bahasa kita bermuka dua, tidak jujur. Katanya moderat, jika moderat harus di tengah, tidak berpihak, dia cuma berani nyebut daerah-daerah garis keras Islam, tidak berani nyebut garis keras Hindu, PKI, Potestan, dan Katolik,” kata Farid Wajdi.

Dikutip dalam pesannya tersebut, Prof Farid memang benar-benar berang kepada Mahfud MD terkait pernyataannya tersebut. Farid mengaku tak bisa menerima pernyataan itu. “Saya Farid Wajdi, salah seorang dosen di Aceh, saya sebagai orang Aceh yang akademisi sangat tersinggung dan tidak bisa terima nalar Bapak sebagai guru besar dan anggota BPIP yang digaji sangat mahal,” tulis Farid dalam pesannya kepada Mahfud MD.

Farid menyesalkan pernyataan Mahfud MD yang menyebut Aceh sebagai daerah pemenang terbesar untuk pasangan capres/cawapres nomor urut 02 karena Aceh diidentikkan dengan provinsi garis keras dalam hal kaitannya dengan agama.

Menurut Farid, Mahfud MD juga mengambil keuntungan dari pernyataannya tersebut, karena terlihat mendukung pihak tertentu dalam pemilihan presiden/wakil presiden yang baru saja berlalu. Farid juga menyesalkan Mahfud HM yang dengan cepat menyatakan kemenangan bagi pasangan 01.

“Hal itu terbaca juga dari keberanian Bapak mendahului KPU dengan menyebut Jokowi sudah menang. Saya sebagai orang Aceh jelas tidak bisa terima pernyataan Bapak tersebut karena hal tersebut sudah mengarah pada sara dan ujaran kebencian,” dikutip dari pesan yang dikirim tersebut.

Untuk diketahui, Mahfud MD juga telah menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya melalui akun Twitternya, @mohmahfudmd, Rabu (1/5). Dalam cuitannya itu, Mahfud MD menjelaskan istilah garis keras diartikan sebagai sikap kokoh yang tidak mau berkompromi dengan pandangan yang tidak sejalan dengan prinsip.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved