Crane TPI Kuala Langsa Rusak

Crane pengangkat fiber ikan di TPI Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat sudah rusak selama empat bulan

Crane TPI Kuala Langsa Rusak
SERAMBI/ZUBIR
KETUA DPRK Langsa, Burshansyah, bersama nelayan saat menarik fiber ikan sebelum dinaikan ke mobil angkutan, Kamis (2/5). Hal itu dilakukan karena crane TPI Kuala Langsa rusak. 

* Nelayan Angkut Fiber Ikan

LANGSA - Crane pengangkat fiber ikan di TPI Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat sudah rusak selama empat bulan rusak dan dibiarkan tidak berfungsi. Para nelayan harus mengangkut fiber ikan dari boat ke TPI dengan sistem manual atau tenaga manusia.

Sistem manual ini sebenarnya dapat membahayakan nelayan, bahkan sudah sering jatuh korban, seperti dialami seorang nelayan, Abdullah, warga Gampong Kuala Langsa, jari tangganya putus akibat terkena roda crane boat. Abdullah harus dirawat di RSUD Langsa karena lukanya itu.

Saat itu, korban dan beberapa nelayan lain sedang memindahkan fiber ikan dari boat ke mobil angkutan yang ada di TPI Kuala Langsa. “Selain kasus kecelakaan kerja yang dialami Abdullah, dengan sistem manual terkadang fiber berisikan ikan jatuh ke air saat diangkut dari boat, selain pekerjaan menjadi lambat,” ujar Umardani, Ketua Grub B bongkar muat TPI Kuala Langsa, Kamis (2/5).

Umardani menjelaskan dengan tidak berfungsinya crane tersebut, biasanya jika ada 50 fiber berisikan ikan dari boat, dalam 30 menit fiber itu selesai diangkut dari boat ke mobil angkutan. Namun, karena diangkut langsung oleh nelayan dari boat ke TPI atau mobil angkutan tidak memakai crane, maka bisa menghabiskan waktu satu jam.

Bahkan, katanya, boat harus mengantre untuk bongkar fiber berisikan ikan ke mobil angkutan, sehingga ada ikan membusuk di boat, karena lama diangkut. “Crane ini tidak berfungsi sejak bulan Januari 2019 lalu hingga saat ini atau sudah empat bulan. Seharusnya Dinas Perikanan segera memperbaikinya,” harapnya.

Nelayan juga berharap kepada Dinas Perikanan untuk segera memperbaiki crane ini, agar nelayan tidak terkendala dalam mengangkut ikan dari boat ke angkutan. Apalagi bulan Ramadhan ini, seperti biasanya jumlah ikan hasil tankapan ikan akan meningkat.

Sementara itu, Ketua DPRK Langsa, Burhansyah SH, yang menerima laporan nelayan dan saat melihat crane rusak ke TPI Kuala Langsa mengaku sangat kecewa dengan pihak Dinas Pertanian dan Perikanan Langsa, yang terkesan lamban menanganinya.

“Pihak dinas terkesan membiarkan crane di TPI Kuala Langsa rusak, karena tidak langsung memperbaikinya. Sehingga menghambat pekerjaan nelayan mengangkat ikan di fiber dari boat ke angkutan,” sebutnya.

Menurut Burhansyah, crane sangat dibutuhkan nelayan, sehingga saat tidak berfungsi akan menyulitkan nelayan, karena harus bekerja secara manual untuk mengangkat ikan dalam fiber ke angkutan dan TPI.

Padahal, katanya, setiap 1 fiber ikan, dinas mendapat setoran sekitar Rp 4.500, atau Rp 5.000 dipotong Rp 500/fiber untuk operator. Seharusnya uang itu digunakan untuk biaya perawatan crane, agar Crane ini dapat berfungsi dengan baik.

Menurur nelayan kepada Ketua DPRK, dalam setiap bulan atau sekitar 3 minggu boat nelayan bisa menangkap ikan. Berarti satu harinya 70 fiber diangkut crane, dikalikan 21 hari setiap bulan, maka 1.470 fiber. Sehingga setoran Rp 4.500/fiber dikalikan 21 hari kerja selama 1 bulannya, maka jumlahnya mencapai Rp 6 juta lebih.

Dikatakan, uang yang disetor oleh nelayan dibawa kemana, apa disetorkan ke PAD. “Seharusnya uang setoran daei crane ini sebagian dimanfaatkan untuk biaya rutin perawatan crane jika terjadi kerusakan, jangan ketika crane ini rusak pihak dinas pengelola mengatakan tidak ada dana untuk memperbaikinya,” tegasnya.(zb)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved