Jurnalisme Warga

Manado, Kota Tinutuan yang Eksotik

SETELAH menempuh perjalanan udara selama lebih kurang 15 jam dari Banda Aceh dengan dua kali transit

Manado, Kota Tinutuan yang Eksotik
IST
DR. SRI RAHMI, M.A., Dosen MPI UIN Ar-Raniry, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Kota Manado

Setelah lelah seharian mengelilingi Bunaken dan Siladen, akhirnya kapal yang membawa saya kembali bersandar di dermaga Kota Manado. Sebelum kembali ke Hotel Peninsula, saya menyempatkan diri singgah di Jalan Roda pusat Kota Manado. Jalan Roda ini sangat terkenal dan menjadi tempat “kongko” mulai dari pejabat sampai masyarakat biasa dengan segala jenis profesi. Jalan Roda juga diistilahkan masyarakat Manado dengan sebutan “DPR Tingkat 3”, karena tidak hanya ngopi biasa, tapi segala macam topik pembicaraan dibahas di Jalan Roda ini, mulai dari topik politik, sosial, agama, dan sebagainya.

Sambil memperhatikan aktivitas orang-orang sekitar, saya nikmati kopi susu yang memiliki rasa yang sangat berbeda denga kopi sanger yang biasa saya nikmati di Aceh. Nasi jahak menjadi pilihan saya untuk menemani kopi yang saya minum. Nasi jahak merupakan cemilan khas Manado yang terbuat dari nasi dicampur dengan ikan dan dibakar dalam bambu seperti leumang Aceh.

Sebelum meninggalkan Manado yang penuh kenangan bagi saya, kami para peserta konferensi mengikuti gala dinner di Kantor Wali Kota Manado. Seperti halnya di Aceh, tamu disambut dengan tarian ranup lampuan, maka saya dan teman-teman disambut dengan kabela yang merupakan tarian kebesaran dalam menyambut tamu penting.

Selain itu, berbagai macam makanan khas Manado kembali disuguhkan. Ada menu wajib yang selalu tersaji saat menyambut tamu, yaitu bubur manado. Bubur yang bagi orang Manado disebut tinutuan ini mengandung filosofi keberagaman yang ada di Manado, tempat berbagai agama, suku, dan budaya berkumpul. Inilah tamsilan dari bubur manado yang komposisinya beragam, ada sayuran, nasi, jagung, telur, ayam, dan kacang. Selain bubur kepada kami juga disajikan ikan bakar tindarung yang ditemani dengan sambal dabu-dabu yang segar.

Ada satu tempat yang sampai akhir keberadaan saya di Manado tidak akan saya kunjungi. Nama tempat itu adalah Pasar Tomohon. Pasar ini sangat unik dan jangan terkejut bila berkunjung ke sini, karena di pasar ini kita akan temukan dan lihat sesuatu yang belum pernah kita lihat di pasar-pasar lainnya. Di pasar lainnya biasa kita temui pedagang-pedagang seperti pedagang daging sapi, kambing dan ayam. Tapi di Pasar Tomohon, menurut cerita teman asal Manado, kita akan temukan pedagang-pedagang yang lain, yakni pedagang daging tikus, ular, anjing, babi, hingga kalong dan kelelawar. Sungguh sebuah hal yang unik untuk dikunjungi bagi mereka yang siap mental, tapi saya tidak.

Setelah selesai melakukan kegiatan akademik dan puas menikmati keindahan alam Manado dengan keberagamannya saya kemudian menuju bandara untuk kembali ke Banda Aceh. Keramahan masyarakat Manado saya yakini karena mereka memegang teguh ajaran Sitou timou tumou tou yang memiliki arti, “Manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain”. Falsafah ini dipopulerkan oleh Anggota BPUPKI dan pahlawan nasional dari Indonesia Timur, Dr Sam Ratulangi yang saat ini namanya ditabalkan sebagai nama bandara Kota Manado.

Untuk menghindari munculnya konflik karena perbedaan suku, agama, dan budaya maka hampir di setiap sudut kota Manado kita jumpai slogan Torang Samua Basudara (Kita Semua Bersaudara).

Saya merasakan, semakin banyak kita berkeliling dan melihat keberagaman, semakin kita sadar bahwa Indonesia ini indah, unik, dan menarik dengan segala yang ada di dalamnya. Tentu semua ini adalah kuasa Allah dan berkah rahmat-Nya bagi kita bangsa Indonesia. Maka, bersyukurlah menjadi bagian dari bangsa besar yang dijuluki Zamrud Khatulistiwa ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved