Abrasi Pantai belum Tertangani

Abrasi yang menggerus pesisir Pantai Jilbab di Desa Palak Kerambil, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya

Abrasi Pantai belum Tertangani
SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA
WARGA melihat kerusakan Pantai Jilbab di kawasan Desa Palak Karambil, Kecamatan Susoh, Abdya yang belum ditangani setelah dihantam abrasi pada 28 April 2019 lalu. Foto direkam Jumat (3/5). 

BLANGPIDIE - Abrasi yang menggerus pesisir Pantai Jilbab di Desa Palak Kerambil, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya (Abdya) pada 28 April 2019 lalu, sehingga merusak sejumlah cafe dan pondok milik warga setempat, hingga kini belum tertangani. Pasalnya, rencana penanganan secara darurat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dibatalkan karena dianggap tak efektif.

Pantau Serambi di lokasi, Jumat (3/5), kondisi pantai yang merupakan salah satu objek wisata favorit di Abdya itu masih amburadul. Bekas hantaman ombak yang mengikis bibir pantai sehingga menyebabkan pohon cemara tumbang masih terlihat kentara. Tak ada-ada di lokasi yang menunjukkan ada upaya dari instansi terkait untuk menangani abrasi tersebut.

Salah seorang warga Desa Palak Kerambil, Kecamatan Susoh, Rizalul Akmal kepada Serambi mengatakan, pasca Pantai Jilbab dihantam ombak besar pada akhir bulan lalu, sampai saat ini belum terlihat adanya tanda-tanda penanganan dari dinas terkait. “Belum ada tindaklanjut untuk membuat tanggul secara darurat,” ujar Rizalul Akmal.

Sebab itu, ucap Rizalul, warga desanya merasa khawatir jika dampak abrasi itu akan meluas hingga menggerus rumah penduduk, jika tidak segera dibendung. Pasalnya, ketinggian ombak dan air pasang cenderung meninggi akhir-akhir ini karena dipengaruhi musim angin laut.

“Bahkan saat ini, titik abrasi tidak jauh lagi dengan badan jalan yang kerap digunakan warga sebagai akses menuju Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Ujung Serangga, serta ke sejumlah lokasi wisata lainnya,” ucap dia.

Mesti begitu, Rizalul mengakui, tanggul pemecah ombak memang telah dibangun di kawasan pantai tersebut. Namun, volume pembangunan tanggul itu belum cukup sehingga tidak bisa melindungi seluruh pantai. Belum lagi ada sebagian tanggul yang sudah hancur dihantam ombak. “Rata-rata lokasi yang terkena dampak paling parah dari abrasi itu adalah kawasan yang belum ada tanggul pemecah ombaknya,” tukas Rizalul.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalak BPBD) Abdya, Amiruddin SPd saat dikonfirmasi Serambi, Jumat (3/5), mengaku, pihaknya memang belum membuat tanggul atau bronjong pengaman di sepanjang bibir Pantai Jilbab, kawasan Desa Palak Kerambil, Kecamatan Susoh. Dalihnya, papar Amiruddin, pembuatan tanggul darurat itu dikhawatirkan hanya akan sia-sia karena dinilai takkan bisa membendung ganasnya abrasi.

“Setelah kami kaji tidak mungkin kita buat bronjong. Klau itu kita lakukan malah akan sia-sia. Jadi, solusinya memang harus dengan tanggul batu gajah,” jelas Amiruddin.

Ia menyebutkan, untuk pembuatan tanggul batu gajah itu, BPBD Abdya telah mengusulkan anggaran sebesar Rp 10 miliar ke Dinas Pengairan Aceh. “Tahap pertama kita usulkan Rp 10 miliar dulu. Kita berharap ini bisa mengatasi persoalan abrasi di pesisir pantai Susoh,” pungkasnya.(c50)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved