Citizen Reporter

Mengenal Balee Aceh di Mesir

DALAM perjalanan kali kedua tahun ini ke Mesir saya banyak menghabiskan waktu di Kairo, ibu kota Mesir

Mengenal Balee Aceh di Mesir
PPI Turki
AZWIR NAZAR, putra Aceh, Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Mesir, melaporkan dari Kairo 

OLEH AZWIR NAZAR, putra Aceh, Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Mesir, melaporkan dari Kairo

DALAM perjalanan kali kedua tahun ini ke Mesir saya banyak menghabiskan waktu di Kairo, ibu kota Mesir. Wajah Kairo sedikit berubah dan kelihatan lebih teratur dibandingkan kali pertama saya mengunjungi Negeri Kinanah ini pada medio tahun 2016. Tampak beberapa ruas jalan di pusat kota berhasil dibangun pada masa pemerintahan As-Sisi.

Jalanan di kota lebih bersih dan teratur. Banyak mobil baru meski berdebu menghiasi sudut jalan. Tak ketinggalan gedung perumahan terus dibangun di pinggiran kota sebagai penyangga ibu kota Mesir. Tak terkecuali Masjid Azhar As-Syarif yang baru tujuh bulan lalu selesai direhab. Memang konstruksi awalnya masih banyak yang dipertahankan, tapi tiang-tiang penyangga beserta ornamen lampu di bagian dalam rata-rata baru dan sangat mengesankan. Apalagi bagi para penuntut ilmu dan peziarah. Duduk lama-lama sambil menghafal Alquran, menghadiri majelis ilmu (talaki) bersama para masyaih maupun belajar akan sangat menyenangkan. Di sisi teras masjid juga full marmer. Sore hari saya melihat banyak pelajar dan pelancong mengabadikan momen indah di sana.

Di musim dingin begini tantangan untuk belajar makin terasa karena rumah susun (flat) di kawasan Husein di seputar Azhar banyak yang masih belum memiliki pemanas. Berbeda dengan Turki yang gedung dan rumah umumnya dibangun sekaligus dengan pipa gas atau listrik untuk menghangatkan rumah dan gedung. Jadi, kalau mandi pagi di beberapa rumah kita mesti merebus air lebih dahulu. Sebuah pengalaman menajkubkan seperti kisah indatu dahulu.

Tapi bukan Ummuddunya (sebutan untuk Mesir) namanya bila tanpa tantangan dan hal unik lainnya. Dua tahun lalu saya datang ke Mesir pada musim panas, selain menghadiri Konferensi Pelajar Internasional, saya juga mengelilingi destinasi wisata dan ziarah ke makam para nabi, sahabat, aulia, dan para imam yang masyhur.

Kami juga menikmati makan malam di atas kapal sambil mengitari Sungai Nil, berkunjung ke piramid dan mumi Fir’aun, juga ke kebun kurma di Matruh, ke laut tujuh warna, danau menakjubkan di tengah gurun, bukit ‘mayat’, juga main offroad di Kota Siwa di perbatasan Libya hingga ke makam ahlul bait dan Imam Syafii.

Kali ini saya beruntung sekali bisa menginap di Sahah (balee Aceh). Lokasinya pas di belakang Masjid Azhar. Hanya lima menit berjalan kaki menuju pintu utama Azhar di bagian depan. Saya sampaikan Sahah itu di-branding secara tegas menjadi nama balee saja supaya mudah dan akrab di telinga orang Aceh. Lagi pula secara historis memiliki filosofi sebagaimana para indatu kita dahulu membangun balee-balee di hampir seluruh pelosok Aceh. Maklum saja, meski banyak sekali kekeluargaan mahasiswa di Mesir, tapi hanya ada dua sahah. Sahah Indonesia dan Aceh.

Balee Aceh ini adalah rumah sewa yang diprakarsai oleh para pelajar Aceh yang sedang menuntut ilmu di Al-Azhar dan Dual Arabi. Di antaranya Tgk Hendri Julian (Biereun), Tgk Zaki Mubarak (Aceh Barat Daya), Tgk Hafidz Akbar (Nagan Raya), Tgk Mufadhal (Pidie), Tgk Miswar Montasik (Aceh Besar), Tgk Azkia Rahmatullah (Pidie Jaya), Tgk Azri Pulau Quran (Aceh Jaya), dan Tgk Abil Hawari (Aceh Malaya). Terdiri atas tiga kamar, dapur, kamar mandi, dan ruang tamu yang dipakai untuk mengaji dan belajar. Rumah yang dijadikan balee ini adalah milik salah satu imam Azhar. Penghuninnya umumnya penghafal Quran, anak anak muda yang berasal dari berbagai daerah di Aceh. Walau dengan biaya patungan, alhamdulillah kontribusi mereka untuk generasi emas di masa depan sudah berjalan dua tahun.

Sekarang, lebih dari 500 pelajar Aceh belajar di Mesir yang terpusat di ibu kota Kairo. Situasi politik dan keamanan yang sedikit labil di sana menjadikan para pelajar asing lebih terkonsentrasi di ibu kota.

Balee Aceh bersama Kekeluargaan Mahasiswa Aceh (KMA) di sini telah menjadi jembatan untuk para penuntut ilmu untuk meraih sukses. Para senior membimbing junior mulai dari pemberangkatan hingga bantuan belajar di Mesir. Di balee juga diadakan pengajian berbahasa Arab oleh para syaih yang datang baik dari Mesir, Aljazair, Syiria, dan negara lain. Hebatnya, yang belajar bukan saja orang Aceh, tapi juga pelajar dari negara lain, seperti Malaysia, Brasil, Nigeria, Sudan, Belgia, dan pelajar internasional lainnya.

Di antara guru yang mengajar ada Syeih Ayyub Al Jazari dari Aljazair yang mengajarkan nahwu, akidah, mantik, balaghah, dan mawaris dengan kitab-kitab terkenal di dunia. Untuk pelajaran fikih ada Syeh Suheil al-Malibari Kiralla dan Syeh Daud ar-Rifai dari Jordania. Sesekali pengajian kitab-kitab tersebut juga diisi oleh anak-anak muda Aceh di Mesir yang lebih dahulu belajar di sana. Baik yang sedang program magister maupun doktoral.

Program lain di Balee Aceh adalah mencetak kader penghafal Quran. Syeh Abdul Qadir Alhafidz, seorang ulama muda terkenal yang berasal dari Al-Djibouti menjadi pembimbingnya. Saya sempat mengunjungi sahah beliau di samping Masjid Husein yang dipenuhi para penghafal Quran dari Cina dan mancanegara.

Di Balee Aceh, Syeh Abdul Qadir membimbing pelajar Aceh hingga bisa menghafal Quran dengan sanad yang bersambung hingga ke Rasulullah dengan program setahun secara gratis. Dari semua yang belajar, pengurus Balee Aceh akan memilih 30 pelajar sebagai guru untuk tahun berikutnya serta 50 orang untuk umum yang akan menyetor hafalan seminggu sekali.

Kita tentu berbangga hati semoga suatu hari para kader ulama ini akan pulang ke Aceh dengan berbagai disiplin ilmu dan akhlak yang terpuji. Hingga, kelak akan banyak lagi orang-orang dari berbagai penjuru dunia belajar agama ke Aceh sebagai kiblat peradaban yang mulai redup oleh konflik dan perang. Balee Aceh harus menjadi sebuah contoh bagi pelajar Aceh lain di dunia untuk melanjutkan tradisi kekeluargaan sekaligus mengenalkan Aceh kembali ke kancah keilmuan dan julukan Serambi Mekkah demi melahirkan banyak pemikir dan ulama bagi dunia di masa depan. Seperti kerinduan kita terhadap bentang sejarah para indatu Aceh yang hebat dan mendunia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved