Faul LIDA: Suara Merdu dari Pegunungan Gayo

SEBUAH kampung, Bener Pepanyi namanya. Lebih kurang 12,5 Km dari Simpang Tiga Redelong, ibu kota Kabupaten Bener Meriah

Faul LIDA: Suara Merdu dari Pegunungan Gayo
IST
Faul LIDA

SEBUAH kampung, Bener Pepanyi namanya. Lebih kurang 12,5 Km dari Simpang Tiga Redelong, ibu kota Kabupaten Bener Meriah. Kampung itu sunyi. Berada dalam lintasan Jalan KKA yang menghubungkan Redelong dan Lhokseumawe. Awalnya nama kampung itu Darussalam. Dihuni lebih 800 kepala keluarga (KK).

Kampung itu mendadak riuh. Ampang atau tempat duduk adat, disiapkan. Beberapa jenis tanaman juga disiapkan dalam satu wadah khusus. Tanaman-tanaman itu adalah bagian dari kelengkapan upacara “tepung tawar.” Sebuah kalungan bunga dengan warna merah menyala di talam kaleng lebar.

Warga sudah bersiap-siap sejak ujung kampung, yang terhubung dengan Jalan Raya KKA. Agaknya akan ada yang datang. Tamu mulia dan mendapat penghormatan. Tak lama berselang tamu yang ditunggu pun datang. Bukan pejabat, atau orang asing. Melainkan, pemuda berkulit putih, yang dulu menjalani hari kanak-kanak sampai remaja di kampung itu.

Dialah Fauzul Abadi. Dipanggil Faul. Yang baru saja menggondol juara Liga Dangdut Indonesia (LIDA) 2019. Tiba di kampung itu, Faul menuju sebuah rumah, dengan teras sederhana. Dilapisi keramik biru di beberapa sisinya. “Ini rumah Faul. Di rumah inilah ia lahir dan menghabiskan masa kecilnya sampai remaja,” kenang Darwis, orang tua yang dipanggil Pak Kul (bapak paling tua) oleh Faul, Sabtu (4/5). “Selama ini, rumah ini didiami salah seorang kakaknya. Tapi sejak kakaknya berangkat ke Jakarta, rumah ini kosong,” cerita Pak Darwis lagi.

Faul bertarung hidup di Ibu kota Jakarta sejak lima tahun silam. Ia pergi meninggalkan Bener Pepanyi, kampung sunyi. Bertarung menundukkan kehidupan kerasnya ibu kota. Ia lahir di sana 24 tahun silam (1995). Faul, anak ketujuh dari delapan bersaudara. Bapaknya, Suardi dan ibu nya, Mastani, meninggal dunia, ketika Faul masih kecil. Ia kemudian hidup bersama kakak, abang, dan keluarga lainnya. Berangkat ke Jakarta bersama rombongan grup didong Bener Meriah dan Aceh Tengah dalam satu pertunjukan didong jalu di Taman Mini Indonesia Indah yang diselenggarakan perkumpulan masyarakat Gayo Jakarta. Faul tampil berdidong, mendendangkan puisi didong sebagai “ceh kucak.”

Penonton Taman Mini terpesona tatkala Faul menuntaskan didongnya. Suaranya merdu dan indah. Namanya lalu menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat Gayo Jakarta. Ketika rombongan seniman-seniman Gayo ke kampung halaman setelah pertunjukan didong di Taman Mini usai, Faul memilih menetap di Jakarta. Ia ingin mengubah keadaan. Bakatnya dalam seni harus menemukan muaranya. Jakarta adalah pilihan. Ia lalu melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sebagai seniman, Faul menghimpun diri dalam Sanggar Pegayon, wadah kreativitas anak-anak muda Gayo Jakarta dalam berkesenian. Di sanggar itulah Faul meraih prestasi di berbagai event dalam dan luar negeri.

Salah satu prestasi puncak Faul saat ia dinobatkan sebagai juara LIDA 2019 yang diumumkan Jumat (3/5) malam. Hadiah Rp 500 juta menjadi hak Faul dan Piala Bergilir LIDA diboyong ke Bener Meriah. Masyarakat Kampung Bener Pepanyi, itulah kemudian menyambut kepulangan Faul dan menggelar upacara “tepung tawar” di rumah tempat ia dilahirkan. Seperti penduduk Bener Meriah lainnya, masyarakat Bener Pepanyi juga petani, terutama petani kopi. Termasuk juga keluarga Faul, adalah petani kopi. “Dari biji kopi ini kami hidup,” kata Salman, paman Faul yang ikut menyambut kedatangan sang “until” atau keponakan.

Darwis dan Salman berada di Bener Pepanyi memang khusus menyambut kedatangan Faul, juara LIDA 2019 itu. Rumah yang tadinya kosong disiapkan oleh sanak keluarga Faul untuk menerima kedatangan Faul. Rumah itu masih seperti sedia kala. Hiasan dan foto-foto tak ada yang berubah. “Itu bapaknya si Faul, sudah almarhum,” kata Darwis menunjuk sebuah foto yang menempel di dinding.

Sebelum ini, warga Bener Pepanyi selalu melakukan acara nonton bersama saat giliran Faul manggung di LIDA 2019. Acara nobton bareng disiapkan di halaman sekolah di sana. Sambil nonton, menggalang dana untuk biaya SMS dukungan kepada Faul.

Bakat sejak kecil
Sejak kecil Faul sudah memperlihatkan bakat istimewanya sebagai pemilik suara merdu. “Faul dulu ceh kucak Aria Darma,” cerita Darwis. Ceh artinya pelantun atau pendendang didong, seni sastra Gayo. Aria Darma adalah nama grup didong milik desa tersebut.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved