Relawan Caleg Dihadang Kader Parpol

Relawan calon anggota DPR Aceh, Miswar Fuady SH dari Partai Nanggroe Aceh (PNA) dihadang

Relawan Caleg Dihadang Kader Parpol
SERAMBINEWS.COM/MASRIZAL
Konsultan Miswar Fuady, Affan Ramli bersama kuasa hukumnya, Askhalani SH dan Zulkifli SH membuat pengaduan ke Panwaslih Aceh terkait adanya praktik penggelembungan suara di daerah pemilihan IX 

* Saat Ingin Laporkan Dugaan Kecurangan

BLANGPIDIE - Relawan calon anggota DPR Aceh, Miswar Fuady SH dari Partai Nanggroe Aceh (PNA) dihadang oleh sejumlah orang yang mengaku kader PNA Aceh Selatan saat mendatangi kantor Panwaslih Aceh Selatan, Jumat (3/5) sore. Penghadangan yang dilakukan terhadap Mulyana Syahriyal dan Surya Mawardi itu terjadi saat kedua relawan Miswar Fuady tersebut ingin melaporkan dugaan kecurangan dan penggelembungan suara yang terjadi tiga kecamatan di Aceh Selatan.

Penghadangan itu berawal saat Riyal bersama kuasa hukumnya dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Abdya, Khairul Azmi dan Surya Mawardu, mendatangi kantor Panwaslih Aceh Selatan. Setiba di kantor pengawas pemilihan itu, Riyal yang menggunakan baju batik coklat itu pun dihadang dan diancam oleh sejumlah orang yang mengaku kader PNA agar tidak melaporkan kasus tersebut.

Alasan mereka, jika ada persoalan penggelembungan suara seperti yang dilaporkan itu bisa diselesaikan secara internal partai. Namun, Riyal tak menggubris permintaan itu. Bahkan, Riyal berargumen dengan menyatakan yang dilaporkan tersebut adalah penyelenggara pemilu yaitu panitia pemilihan kecamatan (PPK) dan Panwascam di tiga kecamatan yang diduga telah melakukan kecurangan secara bersama-sama.

“Nyoe koen persoalan internal partai, tapi PPK yang loen laporkan (ini bukan persoalan internal partai, tapi PPK yang saya laporkan),” kata Riyal memberi penjelasan dalam bahasa Aceh kepada para penghadangnya.

Saat Riyal menerangkan itu, salah seorang penghadang yang sudah terlebih dahulu berada di lokasi tersebut tiba-tiba merebut berkas berupa dugaan barang bukti kecurangan dan penggelembungan suara dari tangan Riyal. Tak terima berkasnya diambil, Riyal dan Surya Mawardi pun mencoba melawan dan mencoba merebut kembali berkas tersebut.

Namun, usaha merebut kembali berkas itu gagal dilakukan karena jumlah penghadangnya lebih banyak, sehingga bukti kecurangan itu pun berhasil dibawa kabur menggunakan mobil. Tak lama kemudian, sejumlah orang yang mengaku kader PNA setempat itu datang dan mamadati kantor Panwaslih tersebut. Bahkan, mereka meminta Riyal keluar dari kantor Panwaslih dan mengurungkan niatnya melaporkan kasus tersebut.

Permintaan sejumlah pemuda itu tak digubris oleh Riyal dan Mawardi. Mereka beralasan apa yang dilaporkan itu adalah kecurangan yang dilakukan oleh petugas yaitu PPK dan Panwascam. Mendengar pernyataan itu, tiba-tiba situasi pun memanas, baju Riyal pun sempat ditarik oleh salah seorang penghadang.

Situasi semakin memanas sehingga membuat sejumlah aparat polisi yang ada di kantor Panwaslih mencoba menenangkan situasi dan meminta kedua belah pihak menyelesaikan persoalan tersebut secara baik-baik. “Sekarang kalian ini kawan saya, kalau kalian bikin keributan di sini, maka kalian berdua akan menjadi lawan saya,” tegas salah seorang anggota polisi yang berada di kantor Panwaslih Aceh Selatan.

Mendengar pernyataan itu, situasi sedikit kondusif. Bahkan, polisi sempat meminta petunjuk kepada atasannya untuk mencari jalan keluar kasus tersebut. Setelah melakukan negosiasi, Riyal pun batal melaporkan dugaan penggelembungan suara itu, terlebih berkas pun sudah dibawa lari penghadang menggunakan mobil. Tak sampai di situ, sejumlah pemuda yang ada di lokasi pun mencoba mengobrak abrik semua isi mobil yang ditumpangi Riyal.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved