Jurnalisme Warga

Mencicipi Jeruk Bali di Bumi Peusangan

Matangglumpang Dua adalah ibu kota Kecamatan Peusangan yang berjarak ± 225 km dari Banda Aceh, ibu kota Provinsi Aceh

Mencicipi Jeruk Bali di Bumi Peusangan
IST
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Peusangan, Bireuen

Selain lezat dan nikmat, jeruk bali kaya akan vitamin C, potasium, dan kaya serat, serta berkhasiat juga untuk kesehatan di antaranya: meningkatkan imun tubuh, menurunkan kadar kolestrerol, mengatasi penyakit jantung, mengatasi penuaan dini, menjaga kesehatan gusi dan gigi, dan menjaga kesehatan tulang.

Selain buahnya, ternyata kulit jeruk nali juga dapat dimanfaatkan untuk membuat sabun cuci piring sebagaimana yang telah dikembangkan oleh masyarakat Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Kulit jeruk bali juga bermanfaat untuk menurunkan panas pada anak anak dengan cara kulitnya dibersihkan, kemudian dijemur. Setelah kering direndam dengan air hangat, lalu diminum, sebagaimana yang diceritakan oleh salah seorang pelanggan keturunan Cina yang membeli jeruk bali pada Ibu Syarbaniah.
Jeruk bali yang berbulir putih atau orange biasanya manis dan yang berwarna merah rasanya asam manis. Jeruk bali juga banyak digunakan dalam kuliner Nusantara dan internasional, di antaranya dapat diolah menjadi rujak, puding atau agar-agar, es campur, masakan seafood, dan kulitnya dapat dibuat untuk manisan.

Jeruk bali ini sangat menjanjikan untuk terus dikembangkan dan dibudidayakan karena harganya yang tinggi, berkisar Rp 10.000-30.000 per buah, sehingga dapat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat yang saat ini secara grafik mulai menurun.

Peran serta pemerintah melalui instansi terkait sangat dibutuhkan, karena masyarakat lebih banyak menjual jeruk bali ke tauke jeruk bali yang datang langsung ke kebun, dan petani tradisional belum ada yang mengolah menjadi kuliner atau bentuk lain yang dapat dikomersialkan, seperti berbagai buah lain yang sudah di-packing.

Apalagi tanaman ini tidak di semua tempat bisa tumbuh, seperti di Peusangan hanya beberapa desa saja yang tumbuh subur. Dari beberapa petani Jeruk Bali yang saya kunjungi mereka mengatakan omsetnya mulai berkurang. Dulunya sekali panen dapat keuntungan antara Rp 2.000.000-Rp 4.000.000 saat ini hanya antara Rp 750.000-Rp 1.000.000 pe bulan, mungkin salah satu faktornya adalah karena cuaca dan tidak adanya bantuan dan pembinaan secara langsung dari pihak-pihak yang terkait serta kurangnya penanaman yang baru.

Nah, kalau selama ini Matangglumpang Dua terkenal dengan kuliner sate Matang, teryata ada boh giri yang tumbuh bukan di Bali, melainkan ditanam, dikupas, dikemas, dan dicicipi di Bumi Peusangan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved