Polisi Periksa Tujuh Saksi Kasus Pelanggaran Pemilu

Personel Polres Aceh Utara yang terlibat dalam penegakan hukum terpadu (Gakkumdu)

Polisi Periksa Tujuh Saksi Kasus Pelanggaran Pemilu
IAN RIZKIAN MILYARDIN, Kapolres Aceh Utara

* Kasus Pelanggar Pemilu

LHOKSUKON – Personel Polres Aceh Utara yang terlibat dalam penegakan hukum terpadu (Gakkumdu), Senin (6/5), memeriksa sebanyak tujuh saksi untuk proses penyidikan kasus dugaan pelanggaran pidana pemilu. Dalam pemeriksaan di Mapolres setempat, ketujuh tersangka tersebut adalah saksi dari partai politik nasional, lokal, dan satu lagi kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS).

Dari tujuh tersangka, tercatat enam warga Desa Matang Ulim yaitu MK (37), MR (20), AM (21) ZA (39), MN (34), dan MS (19). Sedangkan satu lagi, IA (24), pemuda Desa Pucok Alue, Kecamatan Baktiya. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, enam saksi terlibat pencoblosan lebih dari satu kali di TPS 97 Desa Matang Ulim pada saat pemilihan, Rabu (17/4). Mereka bisa melakukan pencoblosan lebih dari satu kali, karena mendapat suara dari panitia di lokasi tersebut. Ternyata, kejadian itu kemudian menjadi temuan Panwascam Baktiya.

“Berdasarkan keterangan saksi, terungkap pembagian surat suara dari KPPS kepada enam saksi partai politik dari nasional, dan lokal itu terjadi ketika jam istirahat. Artinya, proses pemungutan suara sudah ditutup, karena sudah melewati jadwal yang sudah ditentukan,” ungkap Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim, Iptu Rezki Kholiddiansyah kepada Serambi, Selasa (7/5).

Disebutkan, saat itu saksi dan warga bersama dengan panitia sedang makan siang. Lalu, KPPS membagikan surat suara yang belum digunakan kepada enam saksi. Sehingga, saksi mendapatkan paket surat suara bervariasi mulai satu sampai lima. Kemudian mereka langsung mencoblosnya dan memasukkan ke kotak suara.

“Namun, saat para saksi mencoblos dan sedang memasukkan surat suara ke kotak suara, tiba-tiba ada warga yang memprotes. Akibatnya, terjadi keributan di TPS tersebut. Tapi ada saksi yang sudah sempat memasukkan surat suara kepada kotak suara,” kata Kasat Reskrim. Namun, sore harinya tetap dilanjutkan proses penghitungan suara. “Setelah saksi diperiksa, selanjutnya baru kita akan memanggil tersangka untuk dimintai keterangan. Lalu, berkas kasus tersebut segera kita limpahkan ke jaksa,” pungkas Kasat Reskrim.

Koordinator Divisi Pelanggaran Penindakan Panwaslih Aceh Utara, Safwani SH kepada Serambi kemarin menyebutkan, kasus terbaru pelanggaran pemilu dilaporkan caleg Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Mereka melaporkan adanya dugaan penggelembungan suara di oleh Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di Baktiya, Baktiya Barat, dan Tanah Jambo Aye.

Laporan selanjutnya dilaporkan caleg Partai Nasional Aceh (PNA), Muslim juga adanya dugaan penggelembungan suara oleh PPK di Kuta Makmur. Kemudian, adanya laporan caleg Demokrat, Akmal yang melaporkan PPK Nisam juga adanya dugaan penggelembungan suara. “Kini, sudah tiga laporan terbaru yang kita terima. kita akan segera mempelajari laporan tersebut,” tegas Safwani.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved