Breaking News:

Jurnalisme Warga

Belajar dari Masjid Raya Medan

MENJELANG Ramadhan saya beserta anak-anak tiba di Kota Medan dalam rangka mendampingi suami ujian promosi

Editor: bakri
Belajar dari Masjid Raya Medan
IST
ZAHRILA ISMAIL, M.A., Guru SMK Penerbangan Provinsi Aceh dan Mahasiswa Doktoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh, melaporkan dari Medan, Sumatera Utara

OLEH ZAHRILA ISMAIL, M.A., Guru SMK Penerbangan Provinsi Aceh dan Mahasiswa Doktoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh, melaporkan dari Medan, Sumatera Utara

MENJELANG Ramadhan saya beserta anak-anak tiba di Kota Medan dalam rangka mendampingi suami ujian promosi doktoral di Universitas Negeri Medan (Unimed). Tentu ini bukan kunjungan pertama saya ke Medan, tapi kali ini memiliki nilai lebih dari kunjungan biasanya karena bisa berlama-lama di Kota Medan. Saya leluasa jalan-jalan menelusuri berbagai tempat kuliner, mal, dan tentu saja tempat-tempat bersejarah, sebagai ruang belajar bagi anak-anak.

Salah satu tempat bersejarah yang menjadi ruang belajar bagi saya dan anak-anak adalah Masjid Raya Al-Mashun atau dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan.

Masjid Raya Medan ini berada di Jalan Sisingamangaraja, berdekatan dengan Yuki Simpang Raya Mal dan Istana Sultan Maimun. Di dalam kompleks masjidnya terdapat makam-makam Sultan Deli.

Menurut catatan sejarah, Masjid Raya ini dibangun tahun 1906 dan baru selesai tahun 1909. Seluruh biaya pembangunannya ditanggung oleh Sultan Maimun al Rasyid Perkasa Alamsyah, hasil dari penjualan tembakau. Tembakau Deli saat itu sangat terkenal di pasar dunia, makanya dibangunlah sebuah masjid yang megah untuk ukuran waktu itu.

Begitu tiba di Masjid Raya Medan, seperti biasa, saya bersama anak-anak shalat, baru melanjutkan mini tour dan bertanya pada beberapa petugas masjid. Sebelum itu saya menyaksikan dua kelompok turis pada waktu yang berbeda. Mereka masuk ke dalam masjid, langsung ke dalamnya. Turis perempuan ikut masuk mendekati mimbar yang berada di depan masjid sambil mengabadikan foto. Sebelumnya, dari pintu masuk saya melihat para turis asing dibekali dengan selendang dan kain sarung.

Para turis yang masuk ke dalam masjid, untuk melihat lebih dekat masjid bersejarah itu, ditemani oleh pemandu dan penerjemah dari biro perjalanan wisata. Pemandu itu, dari dekat saya lihat, menjelaskan sejarah dan asal usul ornamen-ornamen yang ada di Masjid Raya Medan. Memang ornamen-ornamen yang ada di Masjid Raya berkualitas bagus sampai saat ini.

Setelah shalat dan keliling masjid, saya mewawancarai salah satu khadam masjidi. Dari beberapa khadam Masjid Raya Medan, saya mendekati salah satunya. Beliau bernama Haji Sutomo. Usianya di atas 60 tahun. Menurutnya, ia sudah bekerja 35 tahun di Masjid Raya Medan. Tahun 2004, ia dan tujuh kawannya ikut diberangkatkan haji oleh Abdillah, Wali Kota Medan saat itu. Namun setelah itu, wali kota terus berganti, begitu juga dengan Gubernur Sumatera Utara, khadam tak lagi mendapat kuota haji.

Bila dibanding dengan khadam di Masjid Raya Baiturrahaman Banda Aceh, kesejahteraan khadam Masjid Raya Kota Medan mengkhawatirkan. Betapa tidak, menurut Haji Sutomo, gaji tertinggi pegawai di Masjid Raya Medan hanyalah Rp 700.000 per bulan. Itu pun tidak bersumber dari APBD, melainkan bersumber dari infak dan sedekah kotak sumbangan di kompleks masjid.

Menurut Haji Sutomo, secara prinsip tidak dibolehkan nonmuslim masuk ke depan mimbar masjid. Tapi, menurutnya, Masjid Raya Medan ini menjadi ikon sejarah Kota Medan. Tempat wisata dan pembelajaran, makanya pemerintah membenarkan nonmuslim masuk masjid.

Saya bertanya pada salah satu petugas masjid lainnya, Imam Hanafi, namanya. Menurutnya, arsitektur masjid ini berasal dari Eropa, motif-motif yang ada di dalam dan luar masjid berasal dari Turki, sedangkan marmernya didatangkan dari Italia.

Setiap waktu Masjid Raya Medan terus didatangi warga, baik pada waktu shalat maupun berkunjung untuk swasfoto dan kunjungan sejarah. Makin hari, terasa makin kecil keberadaan masjid raya ini karena dikelilingi oleh gedung-gedung bertingkat yang terus tumbuh di Kota Medan.

Masjid raya ini memiliki daya tampung 1.500 jamaah. Karena ini masjid sultan, maka shalat Tarawih di Masjid Raya Medan ini berlangsung 20 rakaat. Menurut Haji Sutomo, tidak ada khilafiah mengenai jumlah rakaat karena sudah jelas ketentuannya.

Saat ini, Mesjid Raya Medan dikelola oleh nazir (penjaga) yang ditunjuk oleh sultan atau ahli waris sultan. Sedangkan Istana Maimun dikelola dalam bentuk yayasan. Tidak semua Sultan Deli dimakamkan di kompleks Masjid Raya Medan. Sultan kesatu sampai kedelapan dimakamkan di Masjid Al Osman yang berada di Medan Labuhan, sekitar 21 kilometer dari pusat Kota Medan. Sedangkah makam Sultan Deli kesembilan sampai ke-13 dimakamkan di dalam kompleks Masjid Raya Medan.

Sultan Deli ke-14, saat ini bernama Aria Mahmud Lamanjiji. Anak dari Sultan ke-13, Letkol Inf Tito Otman yang mangkat akibat kecelakaan pesawat CN-235 di Bandara Malikul Saleh Aceh Utara pada tahun 2005. Haji Sutomo menjelaskan bahwa ibu dari Sultan Deli Ke-13 adalah orang Aceh yang berarti nenek dari Sultan Deli ke-14 saat ini.

Dalam sejarahnya, menurut Haji Sutomo, kerajaan-kerajaan di Sumatra selalu memiliki keterkaitan. Seperti Kerajaan Aceh, Kerajaan Langkat, Kerajaan Deli, Kerajaan Serdang, Kerajaan Riau, dan Kerajaaan Asahan. Begitulah yang dapat dibagi selama empat jam berada di Masjid Raya Medan.

Bukan hanya itu, selama empat jam berada di Masjid Raya Medan kali ini. Saya belajar pengalaman baru. Betapa tidak, menjelang pulang ke penginapan di Jalan Gagak Hitam atau Ring Road, saya beserta anak-anak didatangi oleh seorang ibu yang usianya jauh di atas usia saya, tepatnya di teras belakang masjid.

Awalnya ibu itu menyapa saya dan anak-anak. Anak-anak pun langsung dekat dengan ibu itu. Ujung-ujungnya beliau minta pinjam uang, katanya, untuk membantu biaya pulang ke Aceh. Saat itu, si ibu bercerita kalau ia istri dari salah seorang pegawai PLN Aceh sambil memperlihatkan foto keluarganya. Ia datang ke Medan sendirian dengan tujuan berziarah ke makam keluarganya di Medan, sedangkan sang suami tak bisa mendampingi karena sedang sakit. Namun, pada saat jalan di sebuah pusat perbelanjaan ia kecopetan dan tidak punya uang untuk pulang. Saat itu ia meminta uang agar bisa pulang sendiri. Kecurigaan saya mulai timbul bahwa ini modus penipuan, karena ia tidak bisa berbahasa Aceh, apalagi tiba-tiba HP-nya berdering. Paling tidak, dia orang yang mampu beli hp, pulsa, dan kuota internet.

Artinya, siapa saja, di mana saja tidak boleh lengah dengan situasi apa pun. Apalagi selama Ramadhan. Harus selalu mawas diri.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved