Jaksa Tuntut 10 Bulan Penjara

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Safwan, terdakwa dalam perkara penyebaran video Calon Wakil Presiden

Jaksa Tuntut 10 Bulan Penjara
SERAMBI/SAIFUL BAHRI
SAFWAN, terdakwa penyebar video Calon Wakil Presiden (Cawepres) 01, Ma’ruf Amin yang mengucapkan selamat Natal dan mengunakan pakaian mirip Sinterklas hadir dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Lhokseumawe, Kamis (9/5). 

* Penyebar Video Ma’aruf Berpakaian Sinterklas

LHOKSEUMAWE – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Safwan, terdakwa dalam perkara penyebaran video Calon Wakil Presiden (Cawapres) 01, Ma’aruf Amin yang mengucapkan selamat natal dan menggunakan pakaian mirip sinterklas dengan hukuman penjara selama 10 bulan. Tuntutan ini dibacakan JPU dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Lhokseumawe, Kamis (9/5).

Sidang yang dipimpin hakim ketua Azhari, bersama hakim anggota Sulaiman dan Kasim dimulai sekitar pukul 11.30 WIB. Setelah sidang dibuka, majelis hakim langsung meminta JPU, Al Muhajir membacakan tuntutannya.

Dalam tuntutannya, JPU menguraikan berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan. Di mana terdakwa dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan alternatif kedua, yakni melanggar pasal 45 A ayat 2 jo Pasal 28 ayat 2 UU Republik Indonesia nomor 19 tahun 2016 atas perubahan UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan trnasaksi elektronik (ITE).

Karenanya, JPU menuntut terdakwa berupa kurungan 10 bulan penjara yang dipotong masa hukuman yang sudah dijalani. Kemudian, kepada terdakwa dibebankan membayar biaya perkara sebesar Rp 2 ribu.

Usai JPU membacakan tuntutan, hakim meminta terdakwa untuk berembuk dengan kuasa hukumnya, apakah mengajukan pledoi. Sehingga disimpulkan kuasa hukum akan menyampaikan pledoi terhadap tuntutan JPU. Setelah itu, sidang pun ditunda dan akan dilanjutkan kembali pada Senin (13/5) mendatang.

Sebagaimana diketahui, dalam dakwaan JPU pada persidangan pertama, dijelaskan, terdakwa pada 24 Desember 2018 mengdownload video dari sebuah akun facebook tentang sosok Ma’ruf Amin mengucapkan selamat natal, serta menggunakan baju/atribut pelaksanaan natal menyerupai Sinterklas. Selanjutnya, video berdurasi 13 detik tersebut diedit dan digabungkan dengan video ceramah Habib Assegaf tentang larangan mengucapkan selamat natal oleh orang muslim.

Lalu, video yang sudah digabungkan tersebut diupload oleh terdakwa ke akun youtube atas nama DS Youtube, dengan judul, “Ma’aruf Amin Resmi Menjual Imam Demi Jabatan”. Selanjutnya, pada 26 Desember 2019, terdakwa akhirnya ditangkap tim Polres Lhokseumawe untuk proses hukum lanjutan.

Kuasa Hukum terdakwa, Armia menyebutkan, dari tiga alternatif dakwaan kepada kliennya, akhirnya JPU berkesimpulan menuntut dengan dakwaan alternatif kedua yakni tentang kebencian SARA. “Berarti, jaksa telah menganulir sendiri dakwaan pertama dan ketiganya, karena JPU hanya berkeyakinan dengan dakwaan yang kedua. Dari segi tuntutan, memang kita berterimakasih karena dituntut dengan dakwaan ringan. Di sisi lain, sudah menunjukkan keragu-raguan dari jaksa yang tidak berani menuntut maksimal,” papar Armia.

Armia mepaparkan, dari tiga saksi yang dihadirkan JPU, mereka kompak mengatakan kalau yang dirugikan dalam perkara ini adalah Ma’ruf Amin secara pribadi. “Jadi, bila dirugikan Ma’ruf Amin secara pribadi, berarti tidak termasuk SARA, tapi delik aduan. Karena itu, kita nilai tuntutan jaksa tidak terbukti. Semua pembelaan kita ini akan dimasukan dalam materi pledoi nantinya,” demikian Armia.(bah)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved