Balai Bahasa

Higher Order Thingkings Skills

Beberapa tahun terakhir ini kita bakal diramaikan, khususnya dunia pendidikan dengan istilah HOTS

Higher Order Thingkings Skills
IST

Pola pembelajaran HOTS ini hampir dapat diaplikasikan di semua mata pelajaran. Dan refleksi dari pola berpikir tingkat tinggi ini nantinya akan sangat berguna di dalam kehidupan sehari-hari kelak. Soal-soal yang bermuatan HOTS diharapkan menjadi jembatan pemecahan persoalan kehidupan agar di masyarakat nantinya mereka para siswa mandiri. Lebih jauh lagi, apabila hal ini dikaitkan dengan bonus demografi Indonesia yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2030. Bonus demografi ini haruslah membawa sisi positif, bukan sebaliknya. Bonus demografi merupakan kondisi dengan populasi usia produktif ebih banyak dari usia nonproduktif. Indonesia sendiri diprediksi akan mengalami puncak bonus demografi pada 2030 mendatang.

Membludaknya tenaga kerja produktif adalah peluang emas Indonesia untuk menggenjot roda ekonomi. Idealnya, pertumbuhan ekonomi terpacu, sektor riil terdongkrak, dan daya saing meningkat. Oleh karena itu, sejak saat ini telah disiapkan perangkat-perangkat yang terkait dengan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia mengahadapi bonus demografi tersebut. Salah satu jalur mempersiapkan hal itu yakni melalui pendidikan. Kita berharap semoga paradigma pembelajaran di sekolah yang menggunakan orientasi HOTS lebih membuat anak-anak didik kita lebih siap menghadapi kompetisi di dalam era saat ini dan selanjutnya. Dukungan sekolah, guru, siswa, dan orang tua sangat diperlukan dalam mewujudkan program ini agar berjalan dengan baik.

Inventarisasi Kosakata Bahasa-bahasa Daerah di Provinsi Aceh
Pada bulan Mei ini, Balai Bahasa Aceh akan mengadakan kegiatan invetarisasi kosakata bahasa-bahasa daerah yang ada di Provinsi Aceh, seperti bahasa Aceh, bahasa Gayo, bahasa Jame, bahasa Melayu Tamiang, bahasa Alas, bahasa Kluet, bahasa Singkil, dan bahasa Devayan yang terdapat di Kabupaten Simeulue.

Namun pada tahun ini Balai bahasa Aceh baru menganggarkan untuk 3 bahasa daerah di 8 Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Aceh. Peneliti dari Balai Bahasa Aceh, Iskandar Syahputera mengatakan bahwa kegiatan ini penting mengingat kosakata- kosakata bahasa daerah yang berhasil diinventarisasi dan diidentifikasi nantinya akan di saring dan diajukan kepada Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud di Jakarta guna dipertimbangkan dan dianalisis untuk menjadi kosakata Bahasa Indonesia yang ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun Iskandar menambahkan bahwa kandidat atau calon kosakata bahasa daerah yang dapat dipertimbangkan untuk menjadi kosakata bahasa Indonesia haruslah kosakata yang khas, unik, tidak terdapat padanannya dalam bahasa Indonesia dan banyak dipakai oleh penggunanya.

Kepala Balai Bahasa Aceh Drs. Muhammad Muis,M.Hum., dalam keterangannya menambahkan bahwa Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud setiap tahunnya melakukan verifikasi kosakata bahasa-bahasa daerah yang ada di seluruh Indonesia agar dapat diajukan untuk menjadi kosakata Bahasa Indonesia di dalam KBBI. Ia menambahkan bahwa hal ini dengan sendirinya akan menambah jumlah perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia, mengingat kekayaan perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia sebagian besarnya disumbang dari sumbangan atau serapan dari kosakata bahasa-bahasa daerah yang terdapat di Indonesia.

Untuk itu sebagai penutup Muhammad Muis menekankan bahwa pentingnya menjaga keutuhan bahasa Indonesia dan melestarikan bahasa daerah, mengingat bahasa daerah adalah kekayaan budaya, sejarah, dan peradaban yang perlu terus dijaga dan dilestarikan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved