Breaking News:

Citizen Reporter

Berpuasa di Antara Muslim Minoritas

SAAT di dalam pesawat, saya perhatikan sebagian penumpang wanita mengenakan jilbab

Berpuasa di Antara Muslim Minoritas
IST
ABDUL AZIS, Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Phnom Penh, Kamboja

Sebagaimana kebiasaan saya di Aceh, sebelum tidur saya bersama seorang teman menyempatkan diri ke kafe hotel untuk menikmati secangkir kopi espresso, walaupun tak senikmat kopi gayo di Aceh. Konyolnya lagi saat saya berkomunikasi dengan satpam hotel, saya terpaksa menggunakan voice google translate dari bahasa Indonesia ke bahasa Khmer, begitu juga sebaliknya ketika dia menjawab pertanyaan saya.

Keesokan harinya, kami dibawa jalan-jalan naik Toyota Alphard mengelilingi Kota Phnom Penh. Selama beberapa bulan terakhir di Kamboja ternyata sedang musim kemarau panjang. Saya sempat rasakan terik matahari yang sangat menyengat. Namun, semangat kami pantang mundur untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah walaupun harus bercumbu dengan matahari.

Sepanjang jalan yang dilalui sangat banyak godaan bagi kami yang berpuasa. Selain kafe dan resto yang tetap buka seperti biasanya pada siang hari, tak jarang pula melintas para cewek bule yang mengenakan pakaian bak gaun malam.

Penasaran akan suasana tersebut, saya tanyai sopir kami, Syukri. Dia muslim juga. Menurutnya, di Kamboja penduduk muslimnya sangat sedikit, yakni hanya 6% dari 16 juta penduduk. Mereka tinggal agak jauh di pinggiran Kota Phnom Penh, tepatnya di Provinsi Chhnang. Ini bukan salah ketik. Tapi begitulah nama provinsi ini yang 95% penduduknya beragama Islam. Bahkan di sini ada nama khusus kampung muslim. Tapi ironisnya, masyarakat muslim di Kamboja masih lebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Undangan iftar
Pada Selasa sore kami di-briefing oleh Dr Mohammad Nawar bin Arifin utusan Forsimas Malaysia sebelum menghadiri undangan PM Kamboja untuk berbuka puasa. Ide buka bareng dengan lingkup se-Asean ini datang dari Menteri Agama Othsman Hassan dan mendapat sambutan dari PM Hun Sen. Beliau bahkan ikut hadir untuk santap malam bersama. Jadi, saya berusaha memakai pakaian resmi ala upacara kenegaraan.

Karena di-briefing Dr Muhammad Nawar itulah saya mengenakan setelan jas yang selama ini hanya saya pakai saat resepsi pernikahan. Lagi pula seumur hidup baru kali ini saya menghadiri undangan dari perdana menteri yang notabene-nya Buddhist. Tapi ini tetap perjamuan kehormatan.

Saya juga terperanjat dan sangat kagum setiba di Diamond Island Convention and Exhibition Center. Sejak dari perjalanan awal kami diiringi patwal hingga tiba di lokasi pun disambut bak tamu penting negara. Tak hanya itu, di dalam hall tersebut terlihat ribuan tamu dari mancanegara. Tak pelak lagi kesempatan itu saya manfaatkan untuk bersilaturahmi, bertukar kartu nama, dan berswafoto, termasuk dengan Menteri Agama Kamboja, dan para duta besar negara sahabat (Pakistan dan Arab Saudi).

Sebelum acara santap malam, di meja bundar para delegasi sudah tersusun aneka buah dan minuman berbagai rasa. Selanjutnya kami juga disuguhi aneka lauk dan makanan serta kue khas ala Kamboja. Makanan yang disajikan melebihi kenduri maulid di kampung saya. Banyak makanan tersisa dan terkesan mubajir, karena apa yang disajikan di setiap meja tidak semuanya tersantap habis.

Seusai berbuka saya cari toilet dan di belakang gedung tampak ratusan siswa SMK supersibuk. Ada yang memasak, ada juga yang mengangkat hidangan, serta mengembalikan piring-piring kotor. Tak kurang ratusan juta bahkan miliaran rupiah uang dihabiskan untuk persatuan dan kesatuan umat sekolosal itu.

Ke kampung muslim
Setelah acara puncak selesai, kami pun meneruskan lawatan. Tujuan kami berikutnya adalah kampung muslim Chhnok Tru. Jaraknya dari Phnom Penh lebih kurang 100 km dan menghabiskan waktu 2-3 jam perjalanan. Sepanjang jalan yang kami lalui setelah ke luar dari ibu kota Phnom Penh, tampak ada beberapa masjid yang jamaahnya sedang shalat. Ketika semakin dekat ke lokasi yang kami tuju, terlihat pemandangan yang sangat menyedihkan, ratusan bahkan ribuan hektare lahan tidak dimanfaatkan secara optimal. Alasannya bukan karena musim kemarau saja, tapi justru karena tidak tersedianya sumber air yang dapat diandalkan untuk tanaman hortikultura, palawija, maupun perkebunan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved