Putra Aceh di Belakang Kesuksesan Pelabuhan Sibolga

TETANGGA kita Sibolga, di sisi barat Provinsi Sumatera Utara, merupakan sebuah kota yang memiliki pelabuhan

Putra Aceh di Belakang Kesuksesan Pelabuhan Sibolga
Prof. Dr. APRIDAR, M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dan Kelautan Universitas Malikussaleh, melaporkan dari Sibolga, Sumatera Utara 

Pelabuhan Sibolga merupakan hub utama yang dikelola secara modern oleh PT Pelindo dan sebagiannya diserahkan kepada pihak swasta untuk memasok barang ke Pulau Nias. Dari aspek geografis, Sibolga adalah satu-satunya gerbang atau pintu masuk pengangkutan dan distribusi barang-barang dan kebutuhan pokok melalui laut di pantai barat Sumatera Utara.

Pihak swasta yang diberi wewenang dalam mengelola pelabuhan ini adalah PT Transconthent yang digawangi oleh putra asli Aceh, yaitu Ismail Rasyid. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala ini merupakan sosok pimpinan sekaligus pemilik PT Transconthent.

Dengan manajemen yang cukup mumpuni ia telah memiliki ribuan karyawan yang tersebar pada 16 cabang di kota-kota besar Indonesia, juga memiliki kantor di luar negeri seperti di Australia (Perth) dan Filipina.

Wilayah-wilayah hinterland Pelabuhan Sibolga meliputi Kabupaten (Kabupaten) Tapanuli Selatan (Tapsel), Kota Padangsidempuan, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Kabupaten Padang Lawas Selatan (Palas), Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ), Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Kabupaten Dairi, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) dan lima kabupten/kota di Pulau Nias. Termasuk Kabupaten Aceh Singkil di Provinsi Aceh.

Berbagai kebutuhan terutama alat-alat berat serta input untuk industri seperti PT Tambang Mas Sibolga dilayani melalui Pelabuhan Sibolga. Sehingga masyarakat Sibolga sangat familiar terhadap kegiatan industri. Dengan tumbuh dan berkembangnya industri membuat masyarakat semakin sejahtera dan mereka selalu menjaga agar aktivitas tersebut berjalan dengan baik dan lancar.

Sibolga yang dulunya dikenal sebagai daerah pertanian sekarang menjadi semakin berkilau akibat dari pertumbuhan industri yang luar biasa dengan adanya pelabuhan yang tangguh.

Menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa Aceh yang memiliki pelabuhan yang sangat strategis melebihi Pelabuhan Sibolga di berbagai kabupaten/kota–misalnya Pelabuhan Sabang, Pelabuhan Malahayati di Kreung Raya, Pelabuhan Kreung Gekueh, dan lain-lain--namun belum ada pelabuhan hebat sekaliber Pelabuhan Sibolga.

Nah, apakah Aceh tidak mampu membuat dan mengelola pelabuhan secara modern dan profesional? Ironisna, salah satu contoh kesuksesan Pelabuhan Sibolga justru atas kerja keras putra Aceh di bawah bendera PT Transconthent. Muncul pertanyaan berikutnya, kenapa Pemerintah Aceh belum mengajak Transconthent untuk mem-back-up pelabuhan-pelabuhan yang ada di Aceh?

Kesuksesan yang telah ditorehkan putra Aceh di luar hendaknya kita maknai positif. Misalnya dengan memberikan kepadanya kesempatan untuk berbuat di daerah kelahiranya. Tidak ada kata terlambat untuk kita saling bergandeng tangan membantu dalam membangun daerah yang kita cintai bersama. Semoga dengan kebersanaan dan saling mendukung untuk membangun bangsa melalui pelabuhan yang mumpuni dapat mencerahkan perekonomian kita ke depan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved