Suasana Ramadhan saat Jaman Penjajahan, Gunakan Meriam Sebagai Tanda Hingga Sekolah Diliburkan

Pada masa sekarang, penentuan awal Ramadhan ditentukan dengan perhitungan hisab dan rukyat yang dipimpin Kementerian Agama.

Suasana Ramadhan saat Jaman Penjajahan, Gunakan Meriam Sebagai Tanda Hingga Sekolah Diliburkan
Wikimedia Commons, Tropenmuseum
Gunakan Meriam Sebagai Tanda Hingga Libur Sekolah Sebulan Penuh, Begini Suasana Ramadan Saat Jaman Penjajahan 

SERAMBINEWS.COM - Di bulan Ramadan seperti sekarang ini terutama di Indonesia selalu memiliki ciri khas tersendiri.

Mulai dari penjual takjil dadakan yang bermunculan menjelang senja hingga tradisi buka bersama keluarga dan teman yang memenuhi agenda selama bulan puasa.

Namun pernahkah kamu membayangkan bgaiamna suasa bulan Ramadan masyarakat Indonesia di era kolonial atau masa penjajahan dulu?

Menurut dosen Sejarah IAIN Surakarta, Martina Safitry, ketika itu Belanda masih memiliki kontrol terhadap sistem pemerintah Indonesia.

Walau demikian, umat Muslim di Indonesia masih diberikan keleluasaan dalam menjalankan ibadahnya sesuai dengan keyakinan.

Baca: Wabup: Masyarakat Bireuen Jangan Terpengaruh Ajakan People Power

Baca: Tolak People Power 22 Mei, Abusyik Imbau Warga tak Terprovokasi dengan Gerakan Pengerahan Massa

Sama seperti masa sekarang, perdebatan mengenai penentuan awal Ramadhan juga telah ada sejak dulu kala.

Pada masa sekarang, penentuan awal Ramadhan ditentukan dengan perhitungan hisab dan rukyat yang dipimpin Kementerian Agama.

Namun, pada masa penjajahan pihak yang menentukan awal Ramadhan adalah Perhimpoenan Penghoelo dan Pegawainya (PPDP) atau lebih dikenal Hoofdbestuur.

Meski demikian, ternyata dua organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) memiliki Hoffbestuur-nya sendiri.

Halaman
1234
Editor: Amirullah
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved