Salam

Jauhi Cara Culas Mengais Rezeki

Bagai cerita bersambung, lagi-lagi Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh menemukan makanan dan minuman

Jauhi Cara Culas Mengais Rezeki
SERAMBI/RAHMAT SAPUTRA
Kepala BBPOM Banda Aceh, Drs Zulkifli APt didampingi Kadis Kesehatan Abdya, Safliati SST MKes dan sejumlah pejabat lainnya berdialog dengan salah seorang pedagang yang berjualan takjil di depan Puskesmas Blangpidie, Rabu (8/5) Sore. 

Bagai cerita bersambung, lagi-lagi Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh menemukan makanan dan minuman mengandung boraks. Makanan yang mengandung bahan berbahaya itu justru dijual saat bulan puasa Ramadhan 1440 Hijriah.

Kali ini makanan yang kedapatan berboraks adalah mi kuning yang dijajakan di pusat penjualan makanan berbuka puasa (takjil) di Pasar Langsa. Sedangkan di Calang, Aceh Jaya, ditemukan pula kerupuk tempe yang juga berboraks, sebagaimana dilaporkan Serambi Indonesia, Sabtu (18/5).

Sepekan lalu pun media ini menyajikan laporan tentang tiga sampel bakso yang teridentifikasi mengandung boraks di seputaran Pasar Lampahan, Kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah.

Sebagaimana diketahui, makanan mengandung bahan berbahaya itu terungkap dari pemeriksaan jajanan berbuka puasa yang dilaksanakan sejak awal Ramadhan lalu hingga medio Ramadhan ini oleh BBPOM Aceh, maupun oleh BPOM kabupaten/kota, salah satunya BPOM Aceh Tengah.

Dalam razia jajanan berbuka puasa tersebut tim BPOM membawa mobil laboratorium keliling. Dengan demikian, uji sampel terhadap penganan dan minuman yang dijajakan para pedagang langsung bisa dilakukan di tempat dan hasilnya dapat segera diketahui.

Ya begitulah. Ada 33 sampel makanan dan minuman yang sempat diperiksa pada hari itu. Hasilnya, terungkap ada tiga sampel yang diduga kuat mengandung zat kimia berbahaya. Ketiga sampel itu adalah bakso yang diambil secara acak dari tiga tempat penjualan bakso di Lampahan.

Meski kuat dugaan ketiga sampel itu mengandung boraks, tapi BPOM Aceh Tengah tak mau gegabah memvonis. Badan yang berkedudukan di kabupaten ini masih merasa perlu melakukan konfirmasi berjenjang berupaya uji sampel di laboratorium yang lebih akurat dan canggih. Yakni, laboratorium pemeriksaan obat dan makanan yang terdapat di BBPOM Banda Aceh.

Sementara itu, di Langsa 35 jenis makanan dan minuman dijadikan sampel oleh BBPOM yang diambil acak di Pasar Langsa. Setelah diperiksa, ternyata sepuluh sampel diduga mengandung boraks, yakni delapan mi kuning, satu kerupuk tempe, dan satu air abu asal produksi Medan.

Nah, temuan seperti ini sungguh sangat kita sesalkan, mengingat boraks bukanlah jenis makanan yang menyehatkan bagi orang yang mengonsumsinya. Boraks justru merupakan zat kimia yang biasanya digunakan sebagai pupuk septik untuk tanaman. Apabila dikonsumsi oleh manusia maupun hewan maka sangat berbahaya karena dapat memicu terjadinya penyakit kanker dan merusak organ-organ tubuh.

Islam mengutuk dan mengharamkan pelaku usaha yang bermain culas seperti ini untuk mengeruk keuntungan. Tindakan tersebut bukan saja merugikan secara medis bagi orang yang mengonsumsinya, tapi juga merupakan perbuatan terkutuk yang besar dosanya. Islam mengharamkan praktik bisnis dengan cara-cara gharar (menipu) seperti ini karena dapat memudaratkan diri konsumen dalam jangka pendek maupun panjang.

Islam punya etika sendiri dalam urusan makan minum, yakni merupakan kewajiban umat Islam menyediakan dan memperjualbelikan makanan serta minuman yang suci bersih dari hal-hal yang dapat memudaratkan orang yang mengonsumsinya. Makanan yang diperjualbelikan tersebut haruslah yang memenuhi kriteria halalan thayyiban, yakni makanan yang halal lagi baik.

Di Surah Albaqarah ayat 168, misalnya, Allah memerintahkan sekalian manusia untuk memakan apa yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Nah, oleh karenanya pastikan bahwa penganan yang dijual haruslah memenuhi syarat halalan thayyiban, apalagi dijual untuk orang yang berpuasa. Ingatlah selalu bahwa Allah tidak pernah tidur, melainkan selalu melihat setiap keculasan yang dilakukan hamba-Nya, termasuk mereka yang berdagang dengan mengandalkan tipu daya demi mengeruk untung. Ingatlah siksa Allah sangatlah pedih terhadap para pedagang yang culas dan mengandalkan tipu daya.

Kita juga berharap agar aparat keamanan segera bergerak untuk memproses hukum para pelaku usaha yang menggunakan boraks atau formalin untuk mengawetkan makanan atau minuman yang dia jual. Mereka harus dihukum berat supaya menimbulkan efek jera sehingga pada Ramadhantahun depan kita tidak lagi bertemu dengan orang-orang nakal seperti ini.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved