Opini

Masa Depan KEK Arun Lhokseumawe

Setelah sekian waktu tertunda, akhirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe diresmikan Presiden Joko Widodo di penghujung tahun lalu

Masa Depan KEK  Arun Lhokseumawe
PENANDATANGANAN Operasional dan Investasi KEK Arun Lhokseumawe di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (12/2/). 

Dr.Ichsan M. Ali Basyah Amin

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Unversitas Malikussaleh

Setelah sekian waktu tertunda, akhirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe diresmikan Presiden Joko Widodo di penghujung tahun lalu. Peresmian ini dilakukan bersamaan dengan groundbreaking Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Sigli-Banda Aceh serta peresmian Flyover Simpang Surabaya, Underpass Beurawe dan Mesjid At-Taqarrub Pidie Jaya (kontan.co.id, 14/12/2018).

KEK Arun Lhokseumawe sebelumnya telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 5 Tahun 2017. Pengusulnya adalah Konsorsium yang terdiri dari PT Pertamina, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Pelindo I, dan Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (sekarang bernama PT Pembangunan Aceh). Kegiatan bisnis utama kawasan strategis ini meliputi industri energi, industri petrokimia, pelabuhan dan logistik, serta agroindustri.

Kehadiran KEK Arun Lhokseumawe diharapkan dapat kembali memacu perekonomian Aceh, khususnya di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kawasan strategis ini juga digadang-gadang kelak menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Aceh. Sebagaimana diketahui, berakhirnya masa kejayaan migas Arun yang berlangsung lebih dari empat dasawarwa, telah memukul perekonomian Bumi Serambi Mekah dan kedua wilayah tersebut.

Harapan besar pada KEK Arun Lhokseumawe taklah berlebihan. Sebelum pembentukannya, dalam kawasan telah beroperasi BUMN-BUMN kakap yang kini menjadi anggota konsorsium. Kawasan ini juga berada pada lokasi geografis sangat strategis, dekat perairan Selat Malaka, dengan sumber daya perikanan dan perkebunan yang melimpah.

Yang tak kalah penting, kawasan ini telah memiliki infrastruktur cukup lengkap, seperti pelabuhan, bandar udara, jalan utama, listrik, gas, dan air bersih. Ditambah lagi dengan ketersediaan aset-aset peninggalan eks PT Arun NGL, seperti fasilitas-fasilitas produksi, storage yard, jaringan pipa transmisi, perbengkelan, perkantoran, serta perumahan dan sarana pendukungnya.

Tersendat-sendat
Meski memiliki berbagai keunggulan, perkembangan KEK Arun Lhokseumawe masih tersendat-sendat. Tampaknya belum ada kepastian investor di luar perusahaan eksisting yang berinvestasi dalam kawasan ini. Akhir tahun lalu, sempat beredar kabar PT Korina Refinery (Korea), Aksa Enerji Uterim (Turki), dan Malaysia Mining Corporation telah menyatakan keseriusannya berinvestasi.

LMAN juga pernah menyebutkan sudah ada enam perusahaan dalam dan luar negeri, tanpa menyebut namanya, berminat menjadi investor (kontan.co.id, 14/12/2018, 1/2/2019). Sayangnya, rencana investasi perusahaan-perusahaan tersebut hingga kini tak jelas kelanjutannya. Di tengah kelesuan ini, berhembus berita menggembirakan. PT PIM, salah satu perusahaan eksisting, akan segera membangun pabrik pupuk NPK (nitrogen, posfor dan kalium) dengan investasi mencapai Rp 1 triliun (Serambi, 3/3/2019). Pembangunan pabrik tersebut tentu akan menyerap tenaga kerja, baik untuk keperluan konstruksi maupun untuk kegiatan operasionalnya nanti.

Yang juga melegakan, beberapa upaya mendukung keberadaan kawasan telah dilakukan, di antaranya penyiapan infrastruktur kawasan, pembentukan berbagai lembaga (Dewan Kawasan KEK, Administrator, dan Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP)/PT Patriot Nusantara Aceh), dan peningkatan pelayanan administrasi.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved