Jurnalisme Warga

Ramadhan ala Anak Kos di Jakarta

JAKARTA sampai saat ini masih menjadi ibu kota negara Republik Indonesia, walaupun ada wacana untuk pemindahan ibu kota ke daerah lain

Ramadhan ala Anak Kos di Jakarta
IST
FARHAN AZWIR, alumnus SMA I Bireuen, sedang menuntut ilmu di Fakultas Film dan Televisi IKJ, melaporkan dari Jakarta

FARHAN AZWIR, alumnus SMA I Bireuen, sedang menuntut ilmu di Fakultas Film dan Televisi IKJ, melaporkan dari Jakarta

JAKARTA sampai saat ini masih menjadi ibu kota negara Republik Indonesia, walaupun ada wacana untuk pemindahan ibu kota ke daerah lain. Jakarta merupakan kota tempat diproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno dan Muhammad Hatta pada 17 Agustus 1945.

Jakarta juga dikenal sebagai pusat bisnis dan paling sibuk di Indonesia, juga sebagai tempat berdirinya tugu yang telah menjadi ikon Indonesia, tugu yang di puncaknya terdapat emas sumbangan saudagar asal Aceh, yaitu Tugu Monumen Nasional (Monas).

Bagi sebagian orang, Jakarta juga menjadi tempat untuk meraih karier dan masa depan nan gemilang, tempat meraih impian dan mendapatan hal yang lebih baik, dengan kehidupan yang sangat beragam, penuh tantangan, hampir setiap media mengupas berita dari segala segi berbagai seluk-beluk kehidupan di Ibu Kota. Tapi semua itu tidak menghalangi niat saya untuk datang ke Ibu Kota untuk menimba ilmu yang tidak saya dapatkan di daerah saya.

Berawal dari keinginan saya untuk mendukung program pemerintah dalam bidang ekonomi kreatif, karena bidang tersebut merupakan salah satu bidang prioritas dan andalan pembangunan dewasa ini, maka saya memberanikan diri menimba ilmu yang berhubungan dengan salah satu bidang tersebut. Bidang yang saya pilih adalah tentang film dan televisi, sedangkan di Aceh bidang tersebut masih langka. Tahun 2017 saya memberanikan diri menginjakkan kaki pertama sekali di Jakarta. Setelah saya mengikuti rangkaian tes dan dinyatakan lulus masuk sebagai mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan pada angkatan tersebut kebetulan saya menjadi satu-satunya anak Aceh.

Padahal, sebelumya saya tidak pernah bermimpi untuk kuliah di Jakarta, karena masalah biaya dan juga jauh dari orang tua, belum ada teman, bahkan jalan pun saya belum tahu arahnya ke mana. Apalagi saya adalah anak pertama dari dua bersaudara, semua kebutuhan dan keperluan sehari-hari selalu disediakan oleh orang tua, mau makan apa saja saya tinggal bilang pada orang tua. Pendeknya, hampir semua aktivitas saya dibantu oleh orang tua. Ini sangat berbanding terbalik ketika saya harus menjadi “anak kos” dan hidup sendiri di Jakarta yang penuh tantangan dan peluang.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat dirindukan oleh seluruh umat muslim di dunia, termasuk saya. Dulu waktu di kampung saat menyambut Ramadhan, saya dapat menikmati daging mak meugang yang dimasak oleh bunda sesuai permintaan saya, tetapi di Jakarta tidak sayadapatkan. Terus terang, bulan ini banyak tantangan yang harus saya hadapi dengan penuh kemandirian, kesabaran, dan tanggung jawab sebagai hamba Allah.

Tahun ini adalah Ramadhan kedua saya di Jakarta, aktivitas kuliah pun semakin banyak menyita waktu, ditambah dengan berbagai tugas yang harus diselesaikan di lapangan, sementara itu kewajiban berpuasa tetap harus dijalani dengan hati yang sabar dan ikhlas.

Selama di Jakarta saya harus mampu mengatur waktu sebaik mungkin, mulai dari jadwal untuk sahur, walaupun dari mushala dan masjid ada yang membangunkan warga melalui pengeras suara, juga ada segerombolan anak-anak komplek tempat saya kos yang berteriak “Sahuuurrr…saahurrr!” sambil memukul kentongan untuk membangunkaan warga,. Namun, saya tetap harus memasang alarm sendiri, lalu menyiapkan menu sahur semua harus saya lalukan sendiri. Kalau dulu saya hanya tinggal makan karena semua sudah tersedia di meja makan dan juga bunda dengan sabar membangunkan saya untuk makan sahur, sekarang keadaan berbeda sama sekali. Semuanya harus dilakukan sendiri, termasuk meladeni diri sendiri. Hehe

Kemudian, menjelang berbuka di Jakarta banyak warga yang jalan-jalan sambil menunggu waktu berbuka atau ngabuburit. Sebagiannya membeli makanan berbuka yang berjejer di sisi jalan layaknya pasar kaget, saya pun tidak ketinggalan untuk memilih menu berbuka, ini sangat berbeda waktu di kampung semua sudah menghidangkannya di meja makan. Menu favorit saya waktu berbuka puasa adalah air kelapa muda dan pepaya serut pakai sirop merah, namun sebagai anak kos, itu semua tidak saya dapatkan lagi, bahkan kalau kegiatan kuliah sangat padat saya hanya berbuka dengan segelas air putih ditambah sebungkus nasi yang saya beli di warung dekat kampus.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved