Warga Cor Saluran PLTU

Warga Dusun Geulanggang Merak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, Sabtu (18/5) siang, melakukan penutupan semua saluran

Warga Cor Saluran PLTU
SERAMBI/SA'DUL BAHRI
Warga menutup menutup titik pembuangan air milik PLTU ke perkampungan warga di Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya, Sabtu (18/5/2019), sebagai salah satu bentuk protes terhadap perusahaan yang dinilai kurang peduli terhadap kondisi warga di sekitar perusahaan itu.SERAMBI/SA'DUL BAHRI 

* Protes Ketidakpedulian Perusahaan Terhadap Lingkungan

SUKA MAKMUE - Warga Dusun Geulanggang Merak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, Sabtu (18/5) siang, melakukan penutupan semua saluran pembuangan air milik PLTU Nagan 1 dan 2. Penutupan itu dilakukan karena saluran tersebut diduga membuang limbah yang membahayakan.

“Penutupan saluran pembuangan limbah PLTU itu juga sebagai bentuk protes kami terhadap perusahaan tersebut. Sebab, pihak perusahaan tidak menghargai kami warga yang setiap harinya tercemar debu batubara ditambah limbah PLTU yang meresahkan kami warga di Dusun Geulanggang Meurak,” kata T Fakhruddin, warga setempat kepada wartawan, Sabtu (18/5), saat melakukan penutupan saluran pembuangan air PLTU di Suak Puntong.

Pantauan Serambi, Sabtu kemarin, sejumlah warga menutup dua titik saluran air PLTU Nagan yang menurut mereka menjadi tempat pembuangan limbah perusahaan tersebut selama ini. Penutupan itu dilakukan dengan cara pengecoran langsung menggunakan campuran pasir dan semen.

“Delapan titik saluran pembuang limbah PLTU 1 dan 2 yang dialirkan ke parit warga, rencananya semua kita cor. Ke depan, kita akan lakukan aksi lebih besar terhadap PLTU 1 dan 2 jika pihak perusahaan tidak merespons tuntutan kita terhadap ganti rugi tanah warga yang ada di sekitar perusahaan tersebut,” tukas T Fakhruddin.

Disebutkannya, warga yang terkena dampak pencemaran debu batubara berjumlah sekitar 60 unit rumah. Semua rumah tersebut diapit dua perusahaan raksasa yakni PLTU Nagan dan PT Mifa Bersaudara. PT Mifa sudah bersedia untuk membebaskan tanah warga tersebut, sedangkan pihak PLTU masih menolak melakukan ganti rugi lahan warga tersebut.

Bukan Saluran Pembuang Limbah
Sebelumnya, Manager PLTU Nagan Raya, Harmanto yang dikonfirmasi Serambi, beberapa waktu lalu, terkait saluran air tersebut menjelaskan, bahwa yang ditutup warga itu bukan saluran pembuangan limbah. Ia menegaskan, pihak perusahaan tidak membuang limbah ke saluran air tersebut.

Sedangkan menyangkut dengan ganti rugi tanah warga, Harmanto mengungkapkan, itu bukan kewenangan dirinya. Meski begitu, ujarnya, dia telah menyampaikan tuntutan ganti rugi dari warga tersebut ke induk perusahaan di Medan, Sumatera Utara (Sumut).(c45)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved