Harga Gabah di Abdya Anjlok

Harga gabah kering panen (GKP) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terus anjlok dalam beberapa

Harga Gabah di Abdya Anjlok
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Pekerja sedang menjemur gabah di Desa Keude Siblah, Blangpidie, Kabupaten Abdya 

BLANGPIDIE - Harga gabah kering panen (GKP) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terus anjlok dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat para petani kecewa karena mereka terpaksa menjual hasil panen mereka dengan harga rendah untuk memenuhi kebutuhan Idul Fitri 1440 Hijriah.

Pantauan Serambi, Senin (20/5), harga GKP di awal panen pada awal Mei lalu, berkisar antara Rp 4.700 hingga Rp 4.800 per kilogram (kg). Namun, beberapa hasi kemudian harga terus bergerak turun sampai pada kisaran Rp 4.500 sampai Rp 4.650 per kg. “Harga gabah yang ditampung agen umumnya sebesar Rp 4.500 per kg, kecuali bila gabah dibawa ke salah satu kilang padi di Alue Mangota maka bisa diterima Rp 4.650 per kg, itu pun gabah kualitas bagus,” kata Marwan, petani asal Desa Keude Paya, Blangpidie.

Menurut Marwan, harga gabah di awal panen Musim Tanam (MT) Gadu tahun ini tergolong murah, bila dibandingkan saat awal panen MT rendengan tahun 2018 lalu, yang mencapai kisaran Rp 5.500 sampai Rp 5.600 per kg. Karena itu, sejumlah petani di Abdya khawatir kalau harga gabah akan terus menurun pada puncak panen raya pada pekan keempat Mei ini.

“Sudah menjadi kebiasaan, bila panen jatuh jelang lebaran, maka ada pedagang yang sengaja menurunkan harga beli dan juga mereka membatasi volume pembelian gabah dengan alasan macam-macam,” tukas salah seorang petani Desa Lhueng Asan, Blangpidie.

Penyebab lain dari turun harga gabah di Abdya juga tak lepas dari faktor serentak masa panen dengan beberapa kabupaten lain di Aceh. Pasalnya, selain Abdya, sejumlah daerah lain juga sedangkan melaksanakan panen, seperti Labuhan Haji, Aceh Selatan, dan Pidie.

Serentaknya musim panen membuat jumlah pedagang luar daerah yang menampung gabah produksi Abdya berkurang. Padahal, harga gabah di Abdya cenderung membaik bila banyak pedagang luar daerah membeli produksi gabah setempat dalam jumlah besar seperti pada panen raya tahun sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Kadistanpan) Abdya, drh Nasruddin yang dihubungi Serambi, Senin (20/5), mengakui, kalau harga gabah di tingkat petani cenderung turun ke angka Rp 4.500 per kg. “Tiga hari lalu, tingkat harga berkisar Rp 4.650 sampai Rp 4.700 per kg, kemudian turun menjadi Rp 4.500 per kg,” katanya.

Nasruddin tidak membantah kalau penurunan harga gabah disebabkan semakin dekatnya hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah. Namun begitu, ucapnya, tingkat harga gabah di Abdya masih menguntungkan petani, bila dibandingkan dengan tingkat harga gabah di Pulau Jawa.

Di lain hal, Kadistanpan Abdya itu menyebutkan, dari sembilan kecamatan dengan luas areal tanam padi MT Gadu 2019 mencapai 10.267 hektare, enam kecamatan sudah memasuki panen, yaitu Susoh, Blangpidie, Setia, Jeumpa, dan Kuala Batee. Sedangkan tiga kecamatan lainnya meliputi Kecamatan Manggeng, Lembah Sabil, dan Babahrot, segera menyusul dalam waktu dekat.

Untuk penanganan panen, bebernya, saat ini petani lebih memilih menggunakan mesin potong padi (combine harvester) karena waktunya lebih cepat dan juga ongkos lebih murah dibandingkan panen secara manual. Ia menyebutkan, tidak kurang 35 unit combine harvester milik Pemkab Abdya disiagakan untuk membantu panen raya di enam kecamatan. Panen dengan mesin potong pemkab yang dikelola UPJA (Unit Pengelola Jasa Alsintan) itu dipungut biaya Rp 12.500 per satu kurung isi 50 kg gabah panen.

“Di samping milik pemkab, juga banyak mesin potong milik pengusaha yang didatangkan dari luar daerah. Mereka memungut biaya sekitar Rp 17.000 per satu karung isi 50 kg gabah,” pungkasnya.(nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved