Jurnalisme Warga

Kemah yang Membangkitkan Semangat Bermuhammadiyah

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah mengambil peran penting untuk mengajak masyarakat Aceh memegang

Kemah yang Membangkitkan Semangat Bermuhammadiyah
IST
TEUKU RAHMAD DANIL COTSEURANI, Pegawai PDAM Tirta Krueng Meureudu, Pidie Jaya, Anggota FAMe, dan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Pidie Jaya, melaporkan dari Meureudu

OLEH TEUKU RAHMAD DANIL COTSEURANI, Pegawai PDAM Tirta Krueng Meureudu, Pidie Jaya, Anggota FAMe, dan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Pidie Jaya, melaporkan dari Meureudu

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah mengambil peran penting untuk mengajak masyarakat Aceh memegang teguh nilai-nilai keislaman sejak dulu.

Muhammadiyah Aceh merupakan salah satu pilar dan kekuatan bagi Muhammadiyah di Indonesia, terutama karena Aceh memiliki ciri khas yang melekat, yaitu daerah Serambi Mekkah dan daerah bersyariat Islam.

Perkembangan Muhammadiyah di Aceh dari waktu ke waktu terus meningkat. Satu hal bagian dakwah Muhammadiyah adalah melalui pendidikan dan pengajian rutin. Salah satu benuk pengajian itu adalah Kemah Ramadhan Muhammadiyah (KRM) yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh di daerah atau kabupaten/kota yang berbeda sebagai tuan rumah dengan menghadirkan peserta dari seluruh Aceh.

Adalah Kabupaten Bireuen yang mendapat giliran menjadi tuan rumah Kemah Ramadhan Ke-4 Muhammadiyah pada 17-20 Mei 2019. Sebelumnya Kemah Ramadhan Muhammadiyah dilaksanakan pertama kali di Aceh Selatan, kedua di Aceh Tengah, dan ketiga di Kota Langsa. Kemah Ramadhan IV Muhammadiyah di Bireuen ini diberi nama Pengajian Pimpinan dan Halakah Intelektual bagi Pimpinan Daerah, Cabang, dan Ranting Muhammadiyah, Aisyiyah, dan Organisasi Otonom serta Pimpinan Amal Usaha Muhamamdiyah Se-Aceh.

Kegiatan ini merupakan ide dan gagasan yang diperkenalkan oleh Dr H Aslam Nur, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh pada tahun 2016, melalui pengembangan program dan kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting Muhammadiyah Aceh yang berkolaborasi dengan Majelis Pendidikan Kader, Majelis Tablig, dan Dakwah Khusus.

Di Indonesia, hanya di Aceh ada pengajian model Kemah Ramadhan ini. Pimpinan Pusat Muhamamdiyah mengapresiasi panitia dan pelaksanaan Kemah Ramadhan di Bireuen dan Aceh pada umumnya. Hadir dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yakni dr H Agus Taufiqurrahman MKes, SpS yang juga memberikan kata sambutan ketika acara dibuka resmi.

Muhammadiyah yang lahir tahun 1912, jauh sebelum bangsa ini merdeka, sudah berkomitmen membawa Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kenapa namanya Muhammadiyah, karena anggotanya ingin berislam seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Jauh dari bid’ah dan khurafat.

Prinsip warga Muhamamdiyah itu harus ikhlas, maka belajarlah ikhlas seperti pohon dan buah kelapa. Memetiknya harus keras. Dikumpulkan pakai kaki, mengupasnya pakai parang. Sudah dibuka, masih diparut. Lalu sudah diparut masih diperas lagi. Namun, namanya tak pernah disebut ketika menjadi hidangan aneka masakan dan penganan berbuka puasa sekalipun kecuali es kelapa. Hehe... Tapi kelapa tetap berbuah lebat. Begitulah perumpamaannya menjadi ikhlas dalam setiap amal perbuatan.

Nah, selama tiga hari penuh kami ikut kemah Ramadhan, pengajiannya diisi oleh berbagai narasumber, instruktur, dan pemateri majelis tablig dari berbagai kalangan di Muhammadiyah, seperti Prof Dr Alyasa’ Abubakar MA, Dr Aslam Nur MA, Dr Ramli Gadeng MPd, Dr Nur Alam, A Malik Musa MHum, dan Dr Muharrir Asy’ari Lc, MAg, dan sejumlah tokoh lainnya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved