Opini

Meraih Lailatul Qadar

Lailatul Qadar disebut juga sebagai malam kemuliaan, di dalamnya banyak mengandung keberkahan

Meraih Lailatul Qadar
IST
Munawir Umar, Mahasiswa Program Magister PIKTI UIN Syarif Hidayatullah

Bertepatan dengan itu pula Rasulullah melaksanakan shalat, sedangkan para sahabat menjadi makmum di belakangnya. Begitu pula di saat beliau menadahkan tangan berdoa kepada Allah, para sahabat pun dengan semerbak serentak menjawab ‘amin’ sebagi respon doa Rasul Saw.

Dengan penuh suasana hening dan langit pun mendung tak berbintang, Rasulullah dan para sahabat melaksanakan shalat malam dengan bersujud kepada Tuhan, seketika hujan pun turun begitu deras yang mengguyur setiap sudut mesjid yang hampir kebanjiran. Tetapi ketika itu ada seorang sahabat yang hendak membatalkan shalatnya untuk berteduh menghindari hujan, niat itu pun pupus tak terwujudkan karena melihat Rasulullah dan sahabat lainnya masih dalam keadaan bersujud dengan penuh kekhusyukan.

Derasnya air hujan belum juga membuat Rasulullah bangkit dari sujudnya hingga membasahi pakaian yang dipakainya, seolah beliau begitu menikmati sujud dan tidak merasakan hujan yang (padahal) telah membasahinya dengan air keberkahan.

Karena begitu derasnya hujan, beberapa sahabat tidak kuasa menahan cuaca dan mereka pun menggigil kedinginan. Seiring dengan itu, Rasulullah pun mengangkat kepalanya serta mengakhiri shalatnya dan hujan pun berhenti seketika.

Anas bin Malik pun bangun dan bergegas menuju rumah untuk mengambil pakaian baginda Nabi Saw dan ternyata Rasul pun melarangnya seraya berkata; “Wahai Anas, janganlah engkau mengambil sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya.”

Peristiwa luar biasa ini terjadi bertepatan dengan malam 27 dari bulan Ramadhan. Peristiwa ini juga menjadi pelajaran bahwa beribadah bukanlah untuk mencari ganjaran, tetapi sebagai bentuk kesyukuran kepada Tuhan atas nikmat yang telah diberikan. Apakah kita yang masih berlumur dosa ini hanya melalui malam itu dengan penuh kesia-siaan?

Jangan sia-siakan
Kisah Rasul di atas seharusnya menjadi inspirasi dan batu loncatan umatnya meraih Lailatul Qadar sebagai jalan meningkatkan kualitas iman dan taqwa. Jangan sampai disibukkan dengan persiapan kue timphan dan baju lebaran, tetapi kesempatan mulia itu sia-sia terlewatkan, kerena sejatinya bukanlah itu yang diharapkan Tuhan.

Tetapi sejatinya, mempersiapkan diri menuju ampunan dan keridhaan Tuhan adalah tangga menuju kebahagiaan. Sebagaimana Ibnu Rusyd dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahwa ada banyak alasan mengapa malam itu disebut dengan Lailatul Qadar. Menurutnya, segala ketentuan dan ketetapan bagi manusia berupa rezeki, jodoh, ajal dan bahkan ketakwaan hingga tahun depan ditentukan pada capaian di malam Lailatul Qadar sebagai malam seribu bulan.

Akhirnya melalui tulisan ini dapat disimpulkan bahwa malam Lailatul Qadar bukanlah sembarang malam. Di sana banyak sekali mengandung kelebihan dan keistimewaan yang tidak bisa dibayangkan bahkan disebutkan siapa saja yang beramal di malam tersebut maka seolah ia telah beribadah selama 83 tahun lamanya.

Maka setidaknya ada dua hal yang mesti dilakukan untuk meraih Lailatul Qadar sebagai malam kemuliaan. Pertama, menanamkan keikhlasan dalam berubudiah kepada Tuhan tanpa mengharap imbalan, sebab malam kemuliaan itu sifatnya rahasia Tuhan. Maka yang mendapatkannya pun bukanlah sembarangan orang, dan secara pasti adalah mereka yang menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran baik itu berupa kewajiban maupun anjuran.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved