Adat bagi Pengantin Baru di Kutaraja

ACEH Besar punya banyak tradisi dan adat yang unik, baik tercatat maupun tidak

Adat bagi Pengantin Baru di Kutaraja
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur Lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, dan pegiat Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Krueng Barona Jaya

OLEH AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur Lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, dan pegiat Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Krueng Barona Jaya

ACEH Besar punya banyak tradisi dan adat yang unik, baik tercatat maupun tidak. Kali ini saya hendak mengupas adat yang melekat pada linto baro (pengantin baru), khususnya pengantin pria. Lelaki yang kepincut pada gadis Aceh Besar atau sudah menikahi perempuan yang berdomisili di Aceh Besar, maka harus memahami adat di daerah istrinya tinggal. Pengantin baru di Aceh Besar minimal akan menanggung dua kewajiban adat pascanikah dan pesta perkawinan.

Perlu dipahami, wajib di sini tidak bermakna dosa bagi yang meninggalkan. Namun, pasti berpahala bagi yang melakukannya, sebab adat tersebut berkaitan dengan sedekah. Apabila banyak sedekah, maka banyak pahala, demikian ajaran Islam. Tentunya dibarengi dengan niat yang ikhlas.

Ternyata, adat yang saya maksudkan juga dipraktikkan oleh masyarakat Kota Banda Aceh. Hal ini sangat beralasan karena wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh berdekatan. Pranata sosial masyarakatnya juga cenderung sama. Apalagi dari sisi sejarah bahwa Banda Aceh merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Besar. Sebab itu, kedua daerah tersebut mempunyai adat dan tradisi yang persis sama.

Salah satu adat tersebut berkaitan dengan bulan Ramadhan. Kini, Ramadhan telah masuk fase sepuluh pertengahan. Biasanya, pada pertengahan Ramadhan ada tradisi unik di Banda Aceh dan Aceh Besar. Yaitu, buka puasa bersama di meunasah dengan mengundang masyarakat dari gampong-gampong tetangga.

Hidangan buka puasa
Nah, dalam agenda buka puasa bersama tersebut, pengantin baru juga akan dilibatkan. Pengantin baru yang memasuki tahun pertama pernikahan atau pesta perkawinan, diwajibkan membawa hidangan berbuka puasa ke meunasah atau masjid di tempat asal istrinya.

Saya beberapa kali pernah menyaksikan menu hidangan dan kelengkapan lainnya yang disiapkan oleh pengantin baru. Misalnya, satu selop rokok dan selusin sirop. Kebetulan saat itu sang pengantin menyediakan sirop cap patung. Dan pastinya rokok yang diberikan sesuai selera anak muda zaman now.

Menu berbuka puasa diperuntukkan bagi tamu yang diundang oleh pemilik (pengantin) hidangan. Hidangan ini diletakkan pada tempat yang telah disediakan. Panitia buka puasa bersama tidak mengambil alih hidangan tersebut. Artinya, panitia tidak mengundang masyarakat lain untuk menikmati hidangan itu. Sebaliknya, yang berhak atas hidangan tersebut adalah pengantin baru. Ia wajib mengundang orang lain untuk menghabiskan sedekah (kenduri)-nya. Terserah pemilik hidangan, mau mengundang teman, masyarakat di gampong asalnya, atau para santri di dayah. Intinya, hidangan itu hanya diperuntukkan bagi tamu undangan pihak pengantin baru.

Kewajiban membawa hidangan berbuka puasa hanya berlaku pada tahun pertama setelah berumah tangga. Sedangkan pada tahun kedua dan seterusnya, pengantin sudah bebas dari kewajiban adat dimaksud. Bila saat buka puasa bersama pertama setelah nikah, tetapi belum menyelesaikan adat hidangan berbuka dengan dalih ekonomi belum stabil, atau faktor lainnya, maka ia wajib menyelesaikan hidangan tersebut pada musim buka puasa bersama tahun berikutnya. Intinya, tidak boleh meninggalkan adat ini sebab akan membuat malu mertua dalam pandangan masyarakat setempat.

Bila di atas tadi telah dijelaskan perihal menu buka puasa, sekarang giliran rokok dan sirop. Lumrahnya, satu selop rokok diserahkan kepada yang berhak, yakni diberikan kepada pemuda-pemuda gampong setempat. Terutama para pemuda yang aktif di gampong dan dalam kegiatan keagamaan.

Masih menurut cerita, selusin sirop diberikan kepada perangkat gampong, terutama imam dan keuchik setempat. Jangan dilihat dari sisi beratnya karena kalau menalar berat, sebotol aqua pun akan berat diberikan. Tapi lihatlah adat ini dari nilai positif. Di mana para pendatang/pengantin pria diajak untuk berkomunikasi dan bersilaturahmi dengan pemuda dan pengurus gampong setempat. Adat ini menjadi media pendekatan tamu dengan masyarakat tempatan.

Hidangan maulid
Kedua, hidangan buka maulid di meunasah atau masjid. Selain kewajiban hidangan buka puasa bersama, juga mesti ada hidangan berbuka maulid. Pada hidangan berbuka puasa, pengantin baru juga diberi keleluasaan untuk mengundang siapa saja agar menikmati hidangannya. Pihak panitia maulid atau pengurus masjid tidak ikut campur terkait siapa yang akan diundang.

Saya sendiri telah menghadiri beberapa kali hidangan berbuka puasa pengantin baru dan hidangan maulid. Seperti di Bayu, Lampeneurut Ujong Blang, Gampong Lueng Ie, Kabupaten Aceh Besar. Juga di Desa Ceurih, Kota Banda Aceh.

Kewajiban memenuhi dua adat dan tradisi di atas hanya berlaku sekali setelah nikah atau walimatul ‘urusy. Pada tahun berikutnya tidak dibebankan lagi. Tradisi dan adat ini bertujuan untuk membuat pengantin lelaki mampu berbaur dengan masyarakat setempat. Terutama dengan pemuda dan tokoh masyarakat. Jadi, siapa pun kaum pria yang sedang melirik gadis Aceh Besar dan Banda Aceh, jangan lupa pula melirik dan meninggikan adat pascanikah yang berlaku di dua daerah bertetangga ini. Supaya tidak semata-mata diterima oleh keluarga si wanita, tetapi juga diterima dengan senang hati oleh masyarakat dan tetua adat setempat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved