Alquran Harus Mampu Diterjemahkan dalam Kehidupan

Alquran diturunkan oleh Allah SWT untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia

Alquran Harus Mampu Diterjemahkan dalam Kehidupan
SERAMBI/M ANSHAR
Penceramah, Dr Fauzi Saleh MA menyampaikan ceramah pada peringatan Nuzulul Quran 1439 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Jumat (1/6/2018). SERAMBI/M ANSHAR 

BANDA ACEH - Alquran diturunkan oleh Allah SWT untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia. Tapi, tidak semua manusia mampu menjadikan Alquran sebagai petunjuk bagi dirinya. Manusia yang memfungsikan Alquran sebagai petunjuk itulah manusia yang sukses di dunia dan akhirat.

Demikian antara lain disampaikan Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab atau yang akrab disapa Tu Sop saat menjadi penceramah peringatan Nuzulul Quran di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Selasa (21/5) malam. Selain ribuan jamaah, acara yang dilaksanakan Pemerintah Aceh melalui Panitia Penyelenggara Peringatan Hari-hari Besar Islam (P3HBI) Aceh itu turut dihadiri Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, dan perwakilan unsur Forkopimda Aceh.

“Pada saat Alquran berfungsi sebagai petunjuk hidup, dipastikan merekalah manusia yang sukses menuju surga. Manusia yang tidak mendapat petunjuk, perjalanan hidupnya menjadi perjalanan ke neraka,” kata Tu Sop yang juga Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah, Jeunieb, Kabupaten Bireuen.

Tu Sop mengajak semua masyarakat Aceh untuk bisa mentransformasikan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Dia mencontohkan generasi pada awal kebangkitan Islam di mana mereka mampu menerjemahkan Alquran dalam kehidupan, baik dalam pola pikir maupun dalam bersikap. “Jika generasi dulu berhasil mentransformasikan Alqruan dalam kehidupannya, pertanyaan sekarang apakah generasi kita juga mampu menerjemahkan Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang masih jadi masalah,” ungkapnya.

Yang perlu dipahami, lanjut Tu Sop, Alquran bukan saja sebagai kitab hukum tapi juga sumber hukum dan moral. Ketika manusia tidak mampu menerjemahkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan, menurut Tu Sop, maka Alquran hanya menjadi bacaan dan hafalan saja. Padahal, banyak ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

“Generasi dulu mampu mentrasformasikan nilai-nilai Alquran dalam bentuk ilmu pengetahuan secara luas, baik tentang fiqh maupun tasawuf. Di Aceh masa lalu, masa kesultanan sudah sukses menerjemahkan Alquran dalam bernegara. Banyak kitab-kitab yang menceritakan etika tentang kepemimpinan,” jelas Tu Sop.

Ia menegaskan, kunci kesuksesan di dunia dan akhirat adalah harus selalu berpedoman kepada Alquran. Begitu juga kebahagiaan dalam rumah tangga, kata dia, akan didapat bila pemimpin rumah tangga itu mampu menerjemahkan Alquran dalam kehidupannya.

Ummat Islam, lanjut Tu Sop, tidak akan maju bila meninggalkan Alquran sebagai pedoman hidup. Ia mencontohkan, bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan yang dikembangkan tokoh muslim masa silam tidaklah lepas dari pedoman dalam Alquran.

“Kita sudah dapat kesempatan luarbiasa, bagi rakyat Aceh khususnya dan umat Islam umumnya. Di mana pelaksanaan syariat Islam adalah lahan subur bagi kita menerapkan nilai-nilai Alquran dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita jadikan lahan ini tumbuh dengan Alquran, saat itulah kesuksesan akan terjadi,” demikian Tu Sop.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT, dalam sambutannya mengajak masyarakat Aceh, khususnya umat Islam, untuk menjadikan peringatan Nuzulul Quran sebagai pembangkit gairah membaca dan menulis Alquran. Sebab, isi Alquran juga menekankan pentingnya peranan literasi. Hal itu tercermin dari wahyu pertama diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW yakni perintah membaca. “Membacalah agar kamu mengenal dunia dan menulislah agar engkau dikenal dunia,” kata Nova mengutip salah satu pepatah bijak.

Tapi, lanjut Nova, jika melihat fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sekarang membuat semua pihak resah. Sebab, minat baca (termasuk membaca Alquran) masyarakat, khususnya kaum muda sangat minim dibanding untuk main game, nonton film, chatting, dan lain-lain.

Berdasarkan penelitian, tambah Plt Gubernur, minat literasi masyarakat Aceh masih sangat rendah. Menyikapi masalah tersebut, menurut Nova, Pemerintah Aceh melalui program Aceh Carong (Aceh Pandai-red) sudah mencanangkan pendidikan Islami guna melahirkan masyarakat Aceh yang berakhlakul karimah dan berdaya saing tinggi. Pemerintah juga terus mengalokasikan dana dalam bidang pendidikan.

Langkah tersebut, kata Nova, bertujuan untuk memantik minat baca dan budaya menulis dalam kehidupan masyarakat. “Alquran tidak hanya berbicara persoalan sejarah masa lalu dan hukum Islam. Namun juga mengandung ilmu pengetahuan modern untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang lebih baik,” demikian Nova Iriansyah.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved