Senin, 20 April 2026

Menengok Dapur Pembuatan Lemang

TANGAN-TANGAN itu dengan cekatan memasukkan adonan ketan ke dalam bambu

Editor: bakri
SERAMBI/BUDI FATRIA
PEDAGANG menjual pulut bakar di kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh, Rabu (15/5). Penganan yang terbuat dari ketan ini, memiliki dua variasi rasa, diantaranya, rasa durian dan rasa srikaya. Pulut bakar itu dijual Rp 10.000 untuk rasa srikaya serta Rp 20.000 rasa durian. 

TANGAN-TANGAN itu dengan cekatan memasukkan adonan ketan ke dalam bambu. Sedari lepas subuh, Habsah (59) mulai meracik adonan lemang. Ya, saat Bulan Ramadhan tiba, penganan khas tersebut banyak diincar para penikmatnya. Berdiri sejak 2001, ‘Lemang Lamdingin’ buatan Habsah hadir menemani acara berbuka puasa warga.

Perempuan asal Pidie tersebut dibantu oleh anak-anaknya. Jika puasa tiba, saban harinya keluarga ini bisa menghabiskan hingga 50 bambu beras. Beras yang digunakan adalah jenis ketan putih dan ketan hitam. Ditambah ubi sebagai variasi. Ketan dan ubi yang telah dicuci, kemudian disiram dengan santan. Ditambah garam dan olesan mentega untuk menambah citarasa gurih. “Resepnya dari kampung di Pidie. Bedanya bambu yang kami gunakan cuma untuk sekali pakai, itu juga mempengaruhi rasa,” ujar Habsah.

Serambi berkesempatan menengok dapur ‘Lemang Lamdingin’, Banda Aceh, Jumat (17/5). Muhammad Yacob, salah seorang anak Habsah terlihat cekatan mengatur bambu. Bambu yang digunakan adalah bambu buloh yang berukuran lebih kecil dibanding bambu biasa. Bambu-bambu ini dipasok khusus dari Pidie. Diatur dua deret berhadap-hadapan dengan bara api di tengah-tengahnya.

Bambu-bambu tersebut, telah lebih dulu dialasi dengan daun pisang. Api yang menjilat-jilat bambu, mengantarkan hawa panas yang menyengat. Menciptakan buih pada adonan ketan bercampur santan itu. “Proses memasak leumang sampai 4 jam. Harus dibolak balik biar nggak hangus dan matangnya merata,” ujar Muhammad Yacob sembari membolak balikkan bambu mengunakan tang.

Kayu bakar bekas bangunan, menggunung di samping dapur terbuka tempat pembakaran leumang. Sementara di sudut lain, Habsah dibantu anak-anak perempuannya, tengah membuat selai. Selai menjadi pelengkap santap leumang yang dimakan dengan cara dicocol.

Habsah menuturkan, selai menggunakan 6 kg gula pasir, 20 butir telur, tepung, dan pewarna. Ditambah butiran garam dan vanili sebagai penguat rasa. Dimasak dengan cara diaduk-aduk selama lebih kurang 2 jam. Ia memastikan, leumang buatannya bebas pemanis dan pengawet.

Lemang Lamdingin buatan Habsah dilepas seharga mulai dari Rp 5 ribu per porsi. Dalam sehari, usaha keluarga ini mendulang laba kotor hingga Rp 5 juta. Namun tak selegit rasanya, proses pembuatan lemang terbilang memakan waktu cukup lama. Serta tentu saja membuat pekerja mandi keringat dirundung panas menyengat.(nurul hayati)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved